OPINI

OPINI - Menambal Celah Ketahanan Pangan Kota Palembang  Melalui Solidaritas Mikro

Ketahanan pangan yang sejati bukan soal apa yang tertulis di dokumen RPJMD tapi soal memastikan setiap perut warga di Palembang kenyang dengan layak.

|
Editor: Lisma Noviani
LISMA/GRAFIS/CANVA
KETAHANAN PANGAN -- Ilustrasi keluarga makan bersama, sebagai salah satu bentuk ketahanan pangan di lingkungan masyarakat. 

Oleh : Elok Ilunanwati

Penulis adalah Pengamat ketahanan pangan dan Anggota Dewan Pengawas pada Bilik Pangan (food bank Kota Palembang yang didirikan, digerakkan dan dikembangkan oleh warga Kota Palembang sejak 2024)


TRIBUNSUMSEL.COM -- Memasuki tahun 2026, mari menengok sejenak apa yang terjadi di meja makan warga Palembang sepanjang setahun terakhir. Merujuk pada dokumen RPJMD Kota Palembang tahun 2025-2029, pemerintah telah meletakkan fondasi kuat untuk ketahanan pangan.  

Fondasi ini berpijak pada baseline tahun 2024 yang cukup tinggi, di mana skor Pola Pangan Harapan (PPH) kita berada di angka 92,7 dengan tingkat konsumsi energi 2.124 kkal/kapita/hari.

Setahun berjalan, evaluasi tahun 2025 menunjukkan dinamika yang menarik : kualitas konsumsi kita naik kelas dengan skor PPH mencapai 95,22.  Sebuah pencapaian besar karena karena berhasil melampaui rata-rata Provinsi Sumatera Selatan dan nasional yang berada di angka 95,1.  

Namun, di sisi lain, rata-rata konsumsi energi sedikit terkoreksi ke angka 2.089 kkal/kapita/hari.  Angka ini hanya 99,5 persen dari angka yang dianjurkan 2.100 kkal/kap/hari dan turun 1,6 persen dari tahun sebelumnya.  

Meski masih di atas standar kecukupan, pergeseran ini mengirimkan pesan penting : masyarakat kita mulai lebih peduli pada mutu konsumsi pangan  ketimbang sekadar kuantitas energi yang dikonsumsi.  Pola hidup sehat dengan konsumsi gizi seimbang.  

Namun, 'angka cantik' ini seketika terasa semu saat kita menengok dapur warga di Kelurahan 35 Ilir atau Sei Lais, di mana asupan energi harian mereka masih tertahan di bawah standar minimal kecukupan. 

Kontras tajam ini mengingatkan kita bahwa di balik fondasi kuat ketahanan pangan yang diletakkan dalam RPJMD 2025-2029, masih ada lubang besar yang harus segera ditambal 

Jebakan Angka Rata-Rata: Mengapa Mikro itu Vital?

RPJMD Palembang secara tegas menyebutkan bahwa aksesibilitas dan pemanfaatan pangan adalah kunci utama.   Masalahnya, angka rata-rata kota sering kali menjadi "topeng" yang menutupi realitas di gang-gang sempit.  Angka konsumsi 2.089 kkal/kap/hari mungkin terlihat aman di atas kertas, namun ia belum menggambarkan kondisi riil di tingkat kelurahan.

Inilah mengapa kita harus berani melihat lebih dalam melalui analisis mikro.
Di balik capaian makro tersebut, kita masih dihantui oleh angka POU (Prevalence of Undernourishment) atau Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan. 

POU adalah alarm yang mengingatkan kita bahwa masih ada tetangga kita yang konsumsi kalorinya belum mencapai batas minimal.  Tanpa membedah data per kelurahan, kebijakan ketahanan pangan kita hanya akan menyentuh permukaan tanpa pernah menyembuhkan akar masalahnya.

 

Grafis ketahanan pangan
Sumber : DKPP, 2025 diolah oleh penulis

 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved