Berita Pemkab OKU Timur

Gelar Adat Komering untuk Dandim Baru, Simbol Diterimanya Pemimpin Sebagai Keluarga

Dalam balutan budaya dan kearifan lokal yang sarat makna, Komandan Kodim 0403/OKU yang baru, Letkol Arh Yusuf Winarno, S.IP, M.Han,

Editor: Moch Krisna
Tribunsumsel/Choirul
PEMBERIAN ADOK KEHORMATAN -- Komandan Kodim 0403/OKU yang baru, Letkol Arh Yusuf Winarno, S.IP, M.Han menerima piagam gelar adat Komering “Batin Panglima Kewedanaan I” dari tokoh adat dalam acara lepas sambut di Balai Rakyat Setda OKU Timur, Selasa (24/6/2025). Gelar ini menjadi simbol penghormatan dan penerimaan masyarakat terhadap pemimpin sebagai bagian dari keluarga besar suku Komering. 

TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA -- Dalam balutan budaya dan kearifan lokal yang sarat makna, Komandan Kodim 0403/OKU yang baru, Letkol Arh Yusuf Winarno, S.IP, M.Han, resmi menerima gelar adat Komering "Batin Panglima Kewedanaan I", sebagai simbol penghormatan dan penerimaan dari masyarakat OKU Timur.

Tidak hanya sang komandan, sang istri yang juga Ketua Persit 0403/OKU, Ny. Shindy Yusuf Winarno, turut diberikan nama adat "Ibuan Ngeringgom Warga I", dalam seremoni adat yang berlangsung khidmat pada acara lepas sambut di Balai Rakyat Setda OKU Timur, Selasa (24/06/2025).

Pada momen tersebut, Letkol Yusuf tampak berdiri tegak di tengah panggung, memegang piagam gelar kehormatan yang diserahkan oleh para tokoh adat.

Ia mengenakan pakaian khas adat Komering, berdampingan dengan pejabat daerah lain yang juga memakai pakaian tradisional bernuansa hitam dengan tanjak hijau dan merah yang khas.

Gelar adat Komering yang diberikan bukan sekadar simbolis, melainkan merupakan bentuk penerimaan masyarakat terhadap pemimpin baru sebagai bagian dari keluarga besar suku Komering.

Pemberian gelar adat Komering bukan sekadar seremoni. Bagi masyarakat Komering, ini adalah simbol pengakuan, penerimaan, dan pengangkatan seseorang sebagai bagian dari keluarga besar suku Komering.

Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Bupati OKU Timur Ir. H. Lanosin, MT, MM dalam sambutannya.

"Di OKU Timur, setiap pemimpin yang datang wajib kami beri gelar adat kehormatan sebagai bentuk penerimaan. Siapa pun yang mendapat gelar adat Komering, maka dia adalah saudara kami," ujar Enos sapaan akrab Bupati, Selasa (24/05/2025).

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa nilai kebersamaan dan penghormatan antar-individu merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Komering, dan melalui pemberian adok atau gelaran adat, relasi antara pemerintah, TNI, dan masyarakat semakin dipererat dalam bingkai budaya.

Acara ini juga menjadi momen perpisahan dengan pejabat sebelumnya, Letkol Inf Harri Feriawan Rumawatine, yang telah menorehkan berbagai capaian selama masa tugasnya.

Bupati Enos secara khusus mengenang kontribusi Letkol Harri, terutama dalam sektor pertanian.

“Berkat kerja sama solid dengan beliau, OKU Timur berhasil masuk 10 besar nasional dalam produktivitas pertanian. Ini bukan hanya kerja, tapi pengabdian,” ungkapnya dengan penuh penghargaan.

Enos juga menyampaikan doa dan harapan agar Letkol Harri bisa meniti karier lebih tinggi, bahkan menjadi Jenderal di masa mendatang.

Ketua Lembaga Pembina Adat Kabupaten OKU Timur, H. Leo Budi Rachmadi, SE, menjelaskan bahwa gelar adat (adok) memiliki struktur dan filosofi yang dalam dalam masyarakat Komering.

Setidaknya ada empat kategori besar adok, yakni Adok Penyeimbang diberikan kepada cucu laki-laki tertua dari anak laki-laki tertua, sebagai pewaris dan penjaga adat keluarga.

Adok Penyansan diberikan kepada anak atau cucu perempuan, terutama jika berasal dari pernikahan luar suku. Adok Cumbuan bentuk penghargaan emosional kepada cucu-cucu kesayangan yang dianggap istimewa secara pribadi.

Kemudian Adok Non Genetik terdiri dari Pengangkonan (untuk individu luar yang telah lama menjadi bagian masyarakat) dan Penghormatan (untuk tokoh dari institusi pemerintahan, pendidikan, hingga militer).

“Pemberian nama adat ini adalah bentuk penghormatan tertinggi dalam masyarakat Komering. Mereka yang menerima gelar bukan hanya menjadi bagian dari komunitas secara simbolis, tapi juga secara sosial dan kultural,” jelas Leo.

Pemberian adok kepada Dandim bukan hanya ritual warisan leluhur, tetapi juga bentuk rekonsiliasi antara sistem modern dengan budaya lokal.

Dalam konteks sosial-politik saat ini, budaya Komering justru tampil sebagai jembatan harmoni antara pemimpin dan rakyat.

Sebagaimana disampaikan Bupati Enos, harapannya sinergi antara Pemkab dan Kodim terus berlanjut di bawah kepemimpinan Letkol Yusuf. Budaya yang mengakar kuat akan menjadi fondasi bagi setiap kerja sama yang dibangun.

“Ini bukan hanya tentang menerima pemimpin baru, tetapi tentang menerima keluarga baru,” pungkas Enos.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved