OPINI
Kategorisasi Femisida, Salah Kaprah Melihat Masalah
Penyematan kategori femisida pada pembunuhan yang dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan baik dalam hubungan social atau hubungan interpersonal ada
Oleh: Apt. Endang Rahayu
(Pembina Parenting Yayasan Al-Ihsan Sungsang)
TRIBUNSUMSEL.COM - Dalam sebulan terakhir, masyarakat dihebohkan dengan berbagai kasus pembunuhan yang semua korbannya adalah perempuan.
Belum hilang dari ingatan pembunuhan terhadap anak perempuan 13 tahun yang dibunuh oleh teman-temannya yang masih dibawah umur.
Selain dibunuh, korban juga dirudapaksa sebelum dan setelah meninggal (Tribunsumsel.com, 6/9/24).
Ada juga kasus pembunuhan di Padang dengan korban perempuan, NKS 18 tahun dibunuh oleh seorang residivis saat tengah berjualan gorengan.
Di duga korban dibunuh oleh tetangganya sendiri.
Kasus pembunuhan yang tidak kalah menghebohkan adalah kematian seorang perempuan yang diduga dibunuh oleh suaminya di Ciwastra.
Pembunuhan ini diawali dengan cekcok mulut karena dugaan perselingkuhan istri.
Cek cok itu kemudian berujung pemukulan pada istri hingga suami menikam istrinya berkali-kali menggunakan pisau (Tribunsumsel.com, 19/9/24).
Pembunuhan yang melibatkan perempuan berada pada angka yang cukup besar.
Menurut data dari kemenppa.go.id, jumlah korban perempuan dalam kasus kekerasan yang melibatan perempuan adalah 15.814 sejak Januari 2024.
Sekitar 11 ribu kasus diantaranya adalah kasus yang terjadi di dalam rumah tangga.
Besarnya angka kekerasan hingga pembunuhan dengan korban perempuan dianggap oleh kalangan feminis sebagai bentuk femisida.
Femisida merupakan pembunuhan atau percobaan pembunuhan terhadap perempuan yang dilakukan secara sengaja karena jenis kelamin.
Sebagian kalangan aktivis bahkan mendorong untuk diberikannya hukuman yang lebih berat pada pelaku kekerasan dan pembunuhan pada perempuan.
| Pemberlakuan PP TUNAS: Memutus Rantai Adiksi, Menjemput Masa Kecil yang Hilang |
|
|---|
| Ekonomi Pasca Ramadan 2026, Tren Mudik dari Tahun ke Tahun, dan Ketidakpastian Ekonomi Global |
|
|---|
| Generasi Pemburu Diskon Era Digital: Canggih Teknologi Namun Cermat Berbelanja |
|
|---|
| Makan Bergizi Gratis Beneran Jangan Asal Kenyang, Berikut Contoh Menu dengan Budget Rp 10 Ribu |
|
|---|
| Belajar dari Ekspor Kopi: Mendongkrak UMKM Sumatera Selatan Menembus Pasar Dunia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Apt-Endang-Rahayu-Pembina-Parenting-Yayasan-Al-Ihsan-Sungsang.jpg)