Kasus Vina Cirebon

Ahli Kedokteran Forensik Ungkap Penyebab Vina Cirebon Tewas, Hasil Visum Tak Sebut Pemerkosaan

Ahli Kedokteran Forensik, Budi Suhendar mengungkap penyebab kematian Vina dan Eki berdasarkan hasil visum, sebut tak ada bekas pemerkosaan..

|
Penulis: Thalia Amanda Putri | Editor: Weni Wahyuny
Tribun Cirebon/Eki Yulianto
Ahli Kedokteran Forensik Budi Suhendar Ungkap Hasil Visum Vina Cirebon 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Thalia Amanda Putri

TRIBUNSUMSEL.COM - Ahli Kedokteran Forensik, Budi Suhendar kini mengungkapkan penyebab kematian Vina 2016 silam.

Budi menyebut jika hasil visum dalam kasus kematian Vina dan Eki Cirebon tidak mencantumkan adanya peristiwa pemerkosaan.

Penyebab utama kematian Vina dan Eki adalah adanya kekerasan tumpul, terutama di daerah kepala.

"Kalau dari luka-luka yang ada di tubuh Vina dan Eki sendiri, seperti yang sudah saya sampaikan di depan majelis hakim bahwa kaitannya dengan pemeriksaan pada dua korban ini, utamanya sebab kematian adalah adanya kekerasan tumpul khususnya di daerah kepala. Tadi juga telah disampaikan yang perlu didalami adalah kekerasan tumpul itu dalam suatu peristiwa apa," jelas Budi, Rabu (31/7/2024) kemarin dilansir dari Tribun Cirebon.

"Baik, perkosaan atau pemerkosaan itu adalah istilah hukum. Jadi, kalau kami dari sisi kedokteran forensik tidak pernah mencantumkan itu sebagai hasil visum," sambungnya.

Pesan Terakhir Eki Pacar Vina Cirebon p2 Jam Sebelum Ditemukan Tewas
Pesan Terakhir Eki Pacar Vina Cirebon p2 Jam Sebelum Ditemukan Tewas (IST)

Hal tersebut lantaran menurutnya bukti sperma yang ada di tubuh Vina tak dapat diartikan langsung sebagai bukti sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Tentunya yang kami sampaikan adalah ada temuan katanya ada unsur laki-laki kepada seorang perempuan atau hal yang lain tanda-tanda perlukaan yang bisa mengindikasikan adanya kekerasan pada perempuan tersebut dan bisa jadi adanya persetubuhan kalau ada unsur laki-laki berupa sperma di dalam vagina itu hanya menunjukkan bahwa itulah terjadinya persetubuhan. Apakah itu perkosaan atau bukan, itu perlu dibuktikan dengan alat bukti lain," ujar Budi

Budi Suhendar juga menyinggung hasil visum dan alat bukti lainnya di kasus Saka Tatal tak diketahui pasti.

"Kalau dalam kasus ini ada bukti-bukti lain, saya hanya membaca hasil visumnya."

"Jadi saya tidak tahu alat bukti lainnya, tapi semestinya kalau ada tuduhan atau sangkaan pemerkosaan mestinya ada alat bukti lain yang bisa membuktikan bahwa pemerkosaan itu terjadi," ucapnya.

Baca juga: Euis Pemandi Jenazah Marah Polisi Bohong, Sebut Tak Ada Luka Tusuk dan Sayat di Tubuh Vina Cirebon

Baca juga: Reaksi Dedi Mulyadi Dilaporkan Aep Dituding Sandera Ayah, Tertawa Santai: Hebatnya Bernyali

Ia menegaskan bahwa pembuktian secara ilmiah sangat penting untuk memastikan bahwa suatu peristiwa memang terjadi dan memiliki hubungan dengan korban secara meyakinkan.

"Saya tidak ingin masuk ke situ (pembunuhan atau pemerkosaan), saya hanya ingin menyampaikan bahwa suatu pembuktian secara ilmiah akan sangat bermanfaat ketika dimanfaatkan secara optimal."

"Sebab, itu bisa membuktikan suatu peristiwa itu terjadi dan memiliki hubungan dengan orang-orang yang atau korban secara meyakinkan," katanya.

Terkait kemungkinan menemukan sperma dari ekshumasi, Budi menyatakan bahwa hal tersebut mungkin dilakukan.

"Soal mungkin tidaknya sperma didapat dari ekshumasi, saya bilang mungkin. Memungkinkan, karena pada pemeriksaan ekshumasi dilakukan pemeriksaan swab vagina, sehingga bisa ketemu," ujarnya.

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

(*)

Baca juga berita lainnya di Google News

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved