Berita Palembang

Kabut Asap Buat Kualitas Udara Palembang Tak Sehat, Ketua DPRD Sumsel Curhat Cucunya Jadi Korban

Kabut Asap Buat Kualitas Udara Palembang Tak Sehat, Ketua DPRD Sumsel Curhat Cucunya Jadi Korban

TRIBUNSUMSEL.COM/ARIEF/SRIPOKU/SYAHRUL HIDAYAT
Ketua DPRD Sumsel RA Anita Noeringhati mengungkapkan cucu-cucunya ikut jadi korban kabut asap imbas Karhutla yang masih terjadi hingga kini. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Ketua DPRD Sumsel RA Anita Noeringhati ikut merasakan dampak kabut asap yang muncul akibat Karhutla di sejumlah wilayah Sumsel. 

Kata Anita, dampak buruknya kualitas udara imbas kabut asap membuat kondisi kesehatan cucu-cucunya jadi terganggu. 

Terlebih satu pekan ini, polusi asap dari Karhutla yang diduga dari kabupaten tetangga dengan Palembang, membuat asap tersebut masuk ke rumah warga.

“Dari awal saya sudah sampaikan kalau memang asap ini diluar batas ambang  itu harusnya khususnya anak-anak TK, SD itu harus diliburkan, karena bagaimanapun sekarang ini banyak kena ISPA, cucu –cucuku  aja baru saja sembuh, makanya sudah seminggu ini tidak masuk sekolah karena mereka kena batuk semua,” kata Anita.

Baca juga: Kelompok Barisan Siswa Disebut Polisi Jadi Motif Bullying Siswa SMP di Cilacap, Diserang 38 Kali

Belum lagi menurut Ketua Harian Partai Golkar Sumsel ini, orang dewasa juga tak dipungkiri bisa terkena ISPA.

"Kalau sudah jam segini mulai , sehingga memang ya kita berharap seluruh masyarakat Sumatera Selatan bahwa ini kan bisa dikatakan kejadian tahunan tapi harusnya kita semua bisa mencegahnya , karena kita juga melihat aparat penegak hukum juga tidak pandang-pandang  lagi, tapi ternyata dari tahun ketahun itu tetap tidak berkurang,” katanya.

Sebagai Ketua DPRD Sumsel, Anita menghimbau dan berharap kepada seluruh masyarakat, untuk menjaga jangan sampai ada kebakaran hutan .

“Membuang puntung rokok jangan sembarangan , tidak usah membakar sampah terlebih dahulu, karena itu menyebabkan hotspot dan kita tahu hotspot yang paling banyak adalah di OKI, apalagi di OKI itu ada lahan gambut , gambut itu tidak bisa dipadamkan di permukaan karena itu harus masuk dalam tanah sampai dalamnya cukup membutuhkan pemadaman yang banyak,” pungkasnya.
 
 Diknas Sumsel Keluarkan Edaran

Dinas Pendidikan (Diknas) Sumsel surat edaran tentang penanganan dampak polusi udara pada SMA Negeri/Swasta di Sumsel yang mengeluarkan beberapa kebijakan diantaranya memperbolehkan jam masuk sekolah diundur.

Kebijakan ini dikeluarkan menyusul buruknya kualitas udara di Sumsel imbas kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kini masih terjadi. 

"Untuk seluruh kepala sekolah yang sekolahnya terdampak, bisa melakukan langkah-langkah penanggulangan. Misal jam sekolah boleh diundur sampai pukul 08.00 WIB, kata Kabid SMA Disdik Sumsel, Joko Edi Purwanto .

Salah satu poin, apabila polusi udara dalam status yang membahayakan, maka kepala sekolah segera berkoordinasi dengan Plt Kepala Disdik Sumsel melalui Kabid SMA untuk mengambil langkah-langkah proporsional dan procedural. 

"Jadi sekolah diberikan wewenang untuk melihat perkembangan seperti apa kondisi udara di sekolahnya. Jika kondisi udara membahayakan dan diperlukan untuk diundur jadwal masuknya diperbolehkan," katanya 

Selain itu, bisa juga pengurangan jam belajar ataupun pembelajaran dilakukan secara kombinasi Iuring dan daring atau full daring.

Untuk pelajaran olehraga sebaiknya dilakukan di dalam kelas terlebih dahulu. Hindari kegiatan diluar kelas guna mengantisipasi hal tidak diinginkan.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved