Kisah G30SPKI

Peltu Rosadi Lihat Brigjen Supardjo Sembunyi di Para : Kalau Manusia Menyerah, Kalau Bukan Ditembak

Seperti ditulis dalam buku Komunisme di Indonesia Jilid V Penumpasan Pemberontakan PKI dan Sisa-sisanya (1965-1981) terbitan Pusjarah TNI bekerja sama

Editor: Moch Krisna
IST
Kisah Brigjen Supardjo Salah Satu Pentolan G30SPKI Ditangkap Tim Kalong Usai Menghilang 2 Tahun 

TRIBUNSUMSEL.COM -- Dalam menumpas dan menghancurkan kegiatan PKI yang gagal mengkudeta G30S/PKI

TNI yang kala itu bernama ABRI melakukan operasi-operasi intelijen yang ditujukan terutama kepada para tokoh PKI yang menjadi otak dari gerakan PKI untuk mengembalikan kekuatannya.

Pengejaran terhadap tokoh nomor satu PKI D.N. Aidit dengan operasi intelijen membuahkan hasil dengan ditangkapnya Ketua CC PKI tersebut di Solo pada tanggal 23 November 1965.

Brigjen Supardjo ditangkap pada tanggal 12 Januari 1967 di Jakarta. Demikian juga tokoh -tokoh PKI lainnya yang umumnya ditangkap melalui operasi intelijen.

Seperti ditulis dalam buku Komunisme di Indonesia Jilid V Penumpasan Pemberontakan PKI dan Sisa-sisanya (1965-1981) terbitan Pusjarah TNI bekerja sama dengan Yayasan Kajian Citra Bangsa tahun 2009, disebutkan adanya Operasi Kalong, yaitu sebutan suatu operasi untuk menangkap dan mengejar para tokoh G30S/PKI yang masih bebas setelah kudeta tanggal 1 Oktober 1965.

Operasi Kalong dilancarkan sejak tanggal 15 Agustus 1966. Dalam pelaksanaan operasi ini semua unsur Intel ABRI bekerjasama. Sesuai dengan namanya “Kalong”, maka operasinya lebih banyak dilakukan pada malam hari.

Mantan Brigjen Supardjo yang menjabat Wakil Ketua Dewan Revolusi pada kudeta yang gagal itu, sejak tanggal 1 Oktober 1965 menghilang dan menjadi buronan ABRI. Ia terpaksa harus menghindar dari sergapan ABRl dan rakyat.

Untuk beberapa lamanya Supardjo dapat lolos dari sergapan ABRl karena perlindungan dari oknum-oknum yang mendukung G30S/PKI.

Pada tanggal 2 Oktober 1965, Supardjo keluar dari wilayah basis PKI di Pondok Gede menuju ke daerah Senen. Ia tinggal sehari di sebuah gang sebelah Gedung Sandiwara Miss Cicih. Karena ada penangkapan terhadap orang-orang PKI di daerah ini, ia pindah ke Kramat Sentiong.

Selanjutnya Supardjo dibawa oleh Udi seorang kurir ke rumah Marto Suwandhi seorang anggota PKI di Jalan Gunung Sahari. Di tempat ini ia tinggal selama satu bulan dan mulai banyak berhubungan dengan orang- orang PKI lainnya

. Untuk keamanan selanjutnya Supardjo dibawa oleh orang yang bernama Saleh ke Cilincing dan tinggal di rumah Slamet Bernard seorang anggota PKI. Selanjutnya pindah ke rumah Sunardi, masih di daerah Cilincing.

Daerah Cilincing rupanya aman dan Supardjo tinggal di sana sampai empat bulan lamanya. Ia berpindah-pindah rumah dari rumah Slamet Bernard, rumah Mayor Laut Suwardhi dan ke rumah Kapten Laut Ir. Nandang Safei untuk menghindari penggerebekan yang tiba­-tiba diadakan oleh ABRI maupun rakyat. Atas usaha Sunardi, ia memperoleh kartu penduduk Kelurahan Semper atas nama Syarief.

Operasi “Kalong” yang terus mengejar para tokoh PKI, membuahkan hasil dengan banyaknya teman-teman Supardjo tertangkap.

Dari hasil pemeriksaan dan informasi yang di dapat, banyak tempat persembunyian dan pos perlindungan orang-orang PKI yang digerebek oleh Kalong. Akibatnya ruang gerak Supardjo semakin sempit.

Oleh karena daerah Cilincing sudah dianggap berbahaya, maka Supardjo berusaha menyingkir dari daerah itu tanggal 2 Januari 1967, ia datang ke sekitar Halim untuk mencari tempat persembunyiannya yang baru.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved