Kontroversial Soal Mecin atau MSG
Banyak Konsumsi Mecin atau MSG bisa Menjadi Bodoh? Ini Fakta dan Hasil Penelitiannya
Mecin atau MSG yang terbuat dari asam glutamat, bisa membuat orang menjadi bodoh, dan membahayakan kesehatan. Benarkah?
TRIBUNSUMSEL.COM--SEBAGIAN masyarakat punya persepsi bahwa terlalu banyak makan mecin atau micin atau Monosodium glutamat (MSG), sejenis kristal berwarna putih yang terbuat dari asam glutamat, bisa membuat orang menjadi bodoh, dan membahayakan kesehatan. Benarkah?
Apa saja sih kandungan yang ada di dalam micin ini? Informasi yang dilansir BBC menjelaskan, MSG terbentuk dari ekstraksi asam glutamat dan merupakan campuran antara sodium serta glutamat. MSG akan memberikan rasa umami atau “gurih yang enak” pada makanan.
MSG merupakan penguat rasa, menghasilkan rasa gurih yang terasa dalam dan sedikit seperti daging.
Glutamat adalah bahan penting dalam MSG. Glutamat merupakan salah satu jenis asam amino yang terdapat dalam banyak bahan makanan seperti tomat, keju parmesan, jamur, kecap, ikan-ikanan, dan rumput laut.
Baca juga: Sarapan Pagi Dianjurkan Tidak Lebih dari Pukul 08.00, Ini Manfaatnya untuk Kesehatan
Heboh Sejak Tahun 1968
Sebenarnya kontroversi soal MSG berawal pada 1968. Seperti dilansir US News, seseorang kala itu mengirimkan surat pada editor New England Journal of Medicine pada 1968. Sang pengirim mengatakan bahwa dirinya mengalami beberapa gejala tak mengenakkan setelah makan masakan China.
Dia menyebutkan, gejala fisik tersebut seperti tubuh yang melemah, debar jantung yang tak beraturan, dan mati rasa pada lengannya.
Menurutnya, gejala tersebut bisa jadi disebabkan dari beberapa makanan yang ia konsumsi. Termasuk sodium, alkohol dari anggur masak, atau MSG.
Surat tersebut pun membangkitkan kehebohan publik. Sejumlah masyarakat yang kemudian mengasosiasikan gejala-gejala ini sebagai kondisi baru yang disebut MSG symptom complex atau dikenal juga sebagai “Chinese restaurant syndrome".
Mengapa demikian? Salah satunya karena para koki di restoran China dianggap menggunakan MSG dalam jumlah banyak.
Tak butuh waktu lama, para peneliti pun mulai melakukan berbagai penelitian terkait dampak penggunaan MSG. Khususnya dalam jumlah yang besar.
Baca juga: Buah Naga Bisa Memerangi Penyakit Kronis, Sangat Baik untuk Kesehatan, Ada 8 Manfaat Penting
Benarkah MSG pengaruhi kecerdasan? Selain gejala-gejala tak enak pada fisik tersebut, MSG juga seringkali dianggap bisa mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang.
Dengan kata lain, mengonsumsi MSG bisa membuat kecerdasan menurun atau jadi bodoh. Seperti melansir Healthline, asam glutamat berfungsi sebagai neurotransmitter pada otak manusia.
Zat tersebut merupakan neurotransmitter perangsang, artinya bertugas untuk merangsang sel-sel saraf untuk menyampaikan sinyalnya.
Sejumlah orang kemudian mengklaim bahwa konsumsi MSG bisa menyebabkan kelebihan glutamat pada otak yang kemudian berdampak pada stimulasi berlebihan sel-sel otak. Alasan tersebut membuat MSG diberi label sebagai eksitotoksin.
Ketakutan terhadap MSG bermula pada 1969, ketika sebuah penelitian menyuntikkan dosis besar MSG pada tikus yang baru lahir menyebabkan efek buruk pada otak. Sejak itu, banyak buku yang membahas MSG sebagai eksitotoksin. Buku karya Russell Blaylock berjudul, “Excitotoxins: The Taste That Kills”, misalnya.
Buku-buku semacam ini mempertahankan ketakutan terhadap MSG tetap hidup. Meningkatnya aktivitas glutamat dalam otak manusia bisa berakibat buruk. MSG dalam dosis tinggi bisa meningkatkan kadar glutamat dalam darah.
Baca juga: Hidup Sehat di Masa Pandemi Virus Corona, 5 Gaya Hidup Bisa Ampuh Jaga Kesehatan Tubuh