Utang dari China

Terjebak Utang China, 8 Negara Ini Terancam Bangkrut! Bagaimana Indonesia?

Espansi bisnis China untuk membangun berbagai infrastruktur di banyak negara di Eropa, Asia dan Afrika, menyebabkan banyak negara terlilit utang

Editor: Hanafijal
(Twitter @USArmsControl)
ILUSTRASI. Foto ini diunggah oleh Negosiator AS, Marshall Billingslea di akun Twitternya. Bendera China di meja rapat perundingan START pada Senin (22/6/2020) di Vienna, Austria. Perundingan START merupakan perjanjian antara AS-Rusia. AS bersikeras agar China ikut serta. Namun sampai menjelang rapat berlangsung, pihak China tidak hadir. 

TRIBUNSUMSEL.COM-- Espansi bisnis dan pinjaman uang yang diberikan China untuk membangun berbagai infrastruktur di banyak negara di Eropa, Asia dan Afrika, menyebabkan sejumlah negara terlilit utang yang sangat besar. Bahkan beberapa di antaranya terancam bangkrut, karena diprediksi tak mampu membayar utang negara Tira Bambu itu.

China menggunakan strategi dengan menciptakan Belt and Road Initiative (BRI). BRI dikenal dengan Sabuk dan Jalan China. Proyek akbar ini memungkinkan China mengucurkan dana sangat besar hingga 8 triliun dollar AS.

Menurut Center for Global Development dalam studinya mengevaluasi tingkat hutang dari 68 negara yang menjadi tuan rumah proyek BRI China. Mengejutkan, ternyata ada 23 negara yang berisiko kesulitan utang saat ini.

Bahkan 8 negara di antaranya sangat mengkhawatirkan dan terancam bangkrut. Mengapa? Karena 8 negara ini, berisiko tinggi karena memiliki proporsi utang luar negeri cukup tinggi pada China dan Bank di China. Jika negara tersebt tidak bisa mencari solusi, bakal terjerumus dalam jebakan utang China.

Tol Indralaya-Prabumulih Dikebut, Underpass Indralaya Segera Dibangun, Jalinsum Berada di Atas Tol

Ada 8 negara tersebut seperti dikutip dari The Print.

1. Pakistan
Negara bertetangga dengan India ini negara terbesar yang berisiko tinggi. Negara memproyeksikan tambahan utang sekitar 62 miliar dollar AS, dilaporkan utang China 80 persen dari itu.
Ditambah proyek-proyek BRI yang besar dan suku bunga relatif tinggi yang dikenakan China menambah risiko kesulitan utang Pakistan.

2. Djibouti
Menurut IMF terbaru, negara kecil di Afrika ini memiliki risiko terjebak utang China.
Dalam dua tahun, utang luar negeri publik meningkat dari 50 menjadi 85 persen dari PDB, yang tertinggi di antara negara berpenghasilan rendah.

Sebagian besar utang terdiri dari utang perusahaan publik yang dijamin pemerintah dan berhutang kepada China Exim Bank.

3. Maladewa
Cina sangat terlibat dalam tiga proyek investasi paling menonjol di Maladewa. Seperti peningkatan bandara internasional yang menelan biaya sekitar 830 juta dollar AS.

Pengembangan pusat populasi baru dan jembatan dekat bandara yang menelan biaya sekitar 400 juta dollar AS, dan relokasi bandara pelabuhan utama (tanpa perkiraan biaya).

Negara pulau yang dikenal dengan keindahan alamnya ini dianggap oleh Bank Dunia dan IMF berisiko tinggi mengalami kesulitan utang, dan kini sedang dilanda gejolak politik dalam negeri.

Tilang Elektronik di Sumsel Berlaku April 2021, Ini Fokus Deteksi Pelanggaran, Motor dan Mobil

4. Laos
Ini salah satu negara termiskin di Asia Tenggara, memiliki beberapa proyek terkait BRI.
Proyek terbesarnya kereta api China-Laos senilai 6,7 miliar dollar AS, yang mewakili hampir setengah dari PDB negara itu.

IMF memperingatkan bahwa proyek tersebut mungkin mengancam kemampuan negara untuk membayar utangnya.

5. Mongolia
Kemakmuran ekonomi Mongolia di masa depan bergantung pada investasi infrastruktur yang besar. Menyadari situasi sulit di Mongolia, Bank Exim China setuju pada awal 2017 untuk memberikan pembiayaan di bawah jalur kredit senilai 1 miliar dollar AS dengan tarif lunak untuk proyek pembangkit listrik tenaga air dan proyek jalan raya.

Jika laporan tambahan kredit sebesar 30 miliar dollar untuk proyek-proyek terkait BRI selama lima sampai sepuluh tahun ke depan benar, maka prospek gagal bayar di Mongolia sangat tinggi, terlepas dari sifat lunak pembiayaannya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved