Berita Palembang

'HP Kami Tak Punya', Cerita Tukang Pijat di Palembang Rajin Datangi Sekolah Ambil Tugas Anak

Setiap datang ke sekolah, ia pun bergegas mengambil buku dan pena untuk menyalin soal-soal yang diberikan oleh guru sesuai mata pelajaran hari tersebu

Penulis: Sri Hidayatun | Editor: Weni Wahyuny
TRIBUNSUMSEL.COM/SRI HIDAYATUN
Nurhayati orangftua siswa yang selalu datang ambil tugas untuk anaknya 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Langkah kaki Nurhayati tampak begitu lelah ketika sampai di halaman SMP Negeri 35 Palembang yang ada di jalan Silaberanti Plaju, Palembang.

Dengan membawa tas ransel yang ia letakkan di punggungnya, ia pun mencuci kedua tangannya pakai sabun dan dicek suhu tubuhnya.

Setelah itu, ia langsung menuju ke guru walikelas anaknya untuk mencatat tugas anaknya.

Ia rela menempuh perjalanan sekira 15 menit dari rumahnya di Lorong Ketitiran 1 ke sekolah hanya demi sang anak agar bisa belajar.

Semenjak daring, ia harus bolak-balik ke sekolah seminggu bisa hingga tiga kali ia ke sekolah.

Tegur Suami yang Sering Mabuk, Seorang Istri di Palembang Disiram Air Keras : Saya Tidak Tahan Lagi

INFO Orang Hilang, Sudah 3 Hari Ivan Robiyanto Tak Pulang, Sehari-hari Cari Bunga

6 Remaja Gelar Pesta Seks Selama 4 Hari di Rumah Kosong, Ada yang Mengaku Pernah Berganti Pasangan

"Saya terpaksa ke sekolah karena tak mempunyai hp untuk anak saya belajar," ujar janda dua anak, Selasa (6/10/2020).

Setiap datang ke sekolah, ia pun bergegas mengambil buku dan pena untuk menyalin soal-soal yang diberikan oleh guru sesuai mata pelajaran hari tersebut.

"Saya salin soalnya dan nanti setelah sampai di rumah anak saya yang mengerjakan soal," ujar ibu dari M Rizky Pratama.

Wanita paruh baya yang menjadi tulang punggung keluarga dan berprofesi sebagai tukang urut ini mengaku semua yang dilakukannya tersebut untuk anaknya agar bisa sekolah.

"Mau gimana lagi, kalau gak begini anak saya tidak bisa belajar. HP kami tidak punya jadi terpaksa saya ke sekolah," ujar dia.

Bantahan Presiden KSPI Said Iqbal Soal Kabar Ditawari jadi Wakil Menteri saat Bertemu Jokowi

RUU Omnibus Law Cipta Kerja Resmi Disahkan DPR RI, Menaker Ida Fauziyah Tulis Surat Terbuka

Penghasilan sebagai tukang urut yang tak menentu membuatnya tak mampu untuk membelikan anaknya HP.

"Penghasilan paling kecil Rp30 ribu per hari tapi kalau banyak yang manggil untuk urut bisa lebih. Apalagi saya tidak mematok harga, bayar seikhlasnya saja saya terima," ungkap dia.

Ia berharap agar proses belajar daring ini segera berlalu dan bisa kembali seperti semula.

"Saya harap semoga corona ini cepat berlalu dan siswa bisa sekolah lagi seperti sediakala," tuturnya.

Kepala SMPN 35 Palembang, Yenny Fadillah,M.Pd mengatakan sejauh ini PJJ dilakukan dengan tiga cari yakni lewat WA, modul dan google classroom.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved