Dirgahayu Republik Indonesia

Selain Mainan Kapal dan Telok Abang, Makanan Ini Selalu Ada di Momen 17 Agustus di Palembang

Lebih kurang selama 20 tahun, warga asli Palembang ini menjadi pedagang tahunan menjual pernak-pernik khas 17 Agustus yang sudah jadi kebiasaan turun

Penulis: Shinta Dwi Anggraini | Editor: Weni Wahyuny
TRIBUNSUMSEL.COM/SHINTA DWI ANGGRAINI
Nurbaya (61), salah seorang pedagang telok Abang, telok ukan dan mainan kapal di Jalan Merdeka Palembang 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Pandemi virus corona nyatanya tak mengurangi semangat masyarakat kota Palembang untuk menikmati perayaan HUT Republik Indonesia.

Hal ini dibuktikan dengan tidak berkurangnya minat masyarakat untuk tetap membeli pernak-pernik khas 17 Agustus yang menjadi tradisi di kota Palembang.

Para pedagang telok abang (telur merah), telok ukan dan kapal dari kertas karton, mengaku tidak sepi pembeli walaupun hingga ini pandemi virus corona masih terjadi.

"Alhamdulillah, tidak ada perubahan pendapatan dari tahun-tahun sebelumnya. Pembeli kami masih banyak," ujar Nurbaya (61), salah seorang pedagang  telok Abang, telok ukan dan  kapal dari kertas karton, saat ditemui, Sabtu (15/8/2020).

Bersama dengan pedagang tahunan lainnya, Nurbaya menjual dagangannya di pinggir Jalan Merdeka tak jauh dari depan gedung kantor Walikota Palembang.

Lebih kurang selama 20 tahun, warga asli Palembang ini menjadi pedagang tahunan menjual pernak-pernik khas 17 Agustus yang sudah jadi kebiasaan turun menurun.

Udin (52) salah seorang pedagang mainan kapal dan ikan belida di Jalan Merdeka Palembang
Udin (52) salah seorang pedagang mainan kapal dan ikan belida di Jalan Merdeka Palembang (TRIBUNSUMSEL.COM/SHINTA DWI ANGGRAINI)

FAKTA Baru Pelaku Pencabulan Anak di Bawah Umur di Palembang, 16 Tahun jadi Dosen PTS di Palembang

Dosen di Palembang yang Cabuli Anak di Bawah Umur Ngaku Sudah Seks Menyimpang Sejak Kuliah

Tak hanya telok abang, telok ukan, telok pindang dan mainan kapal dari kertas karton, perempuan yang biasa disapa Cek Baya ini juga menjual bongkol dan lemper yang turut menjadi ciri khas makanan bagi masyarakat kota Palembang saat momen kemerdekaan.

"Bongkol, lemper, telok abang, telok ukan, telok pindang, saya jual Rp5 ribu persatuan. Kalau mainan kapal, saya jualnya tergantung dengan motif. Paling murah Rp20 ribu atau Rp25 ribu, itu sudah sama satu telok Abang," ujarnya.

Bila tidak menjelang hari kemerdekaan, Cek Baya merupakan seorang pedagang buku.

Ia mengaku momen 17 Agustus adalah saat di mana dirinya bisa mencari tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Selain itu juga bisa jualan yang jadi warisan nenek moyang juga. Kita ikut melestarikan budaya," ucapnya.

Hal senada juga disampaikan Udin (52) warga kelurahan 22 Ilir yang juga menjadi salah satu pedagang tahunan pernak-pernik ciri khas Palembang saat momen peringatan hari kemerdekaan.

Untuk meramaikan dagangannya, tahun ini Udin tak hanya membuat mainan kapal dari kertas karton yang biasanya jadi ciri khas saat 17 Agustus di Palembang.

Namun ia juga membuat ikan belida dari bahan karton untuk dijual sebagai dagangannya.

"Karena ikan belida itu kan juga maskot kota Palembang. Jadi saya kepikiran, kenapa tidak dibuat juga dari karton. Itu kenapa saya bukan cuma kapal-kapalan, tapi juga ikan belida dari kertas karton," ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved