Pilkada Muratara 2020

Jelang Pilkada Muratara 2020, Akun Medsos Bodong Menjamur Tebar Kebencian

Akun media sosial (medsos) bodong atau palsu kerap memposting tulisan bernuansa ujaran kebencian (hate speech)

Jelang Pilkada Muratara 2020, Akun Medsos Bodong Menjamur Tebar Kebencian
Tribunsumsel.com/Khoiril
Ilustrasi Pilkada Serentak Muratara 2020 

TRIBUNSUMSEL.COM, MURATARA-Akun media sosial (medsos) bodong atau palsu kerap memposting tulisan bernuansa ujaran kebencian (hate speech).

Akun bodong ini meresahkan warga penggiat internet (warganet), termasuk di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

Apalagi menjelang Pilkada serentak tahun 2020 ini, akun medsos bodong khususnya facebook semakin menjamur.

Objek sasaran hate speech oleh akun bodong ini mulai dari kepala daerah, kepala OPD, hingga kepala desa sering kali.

Belum diketahui secara pasti apa motif yang dilancarkan oleh oknum pengguna medsos tidak bertanggung jawab tersebut.

Minimalisir Pelanggaran di Pilkada 2020, Ini Langkah Bawaslu Sumsel

Akbar, salah satu pengiat media sosial di Muratara mengatakan, akun bodong ini kerap melontarkan fitnah negatif kepada orang-orang tertentu.

Tak jarang informasi yang disampaikan, hanya berupa tudingan-tudingan yang belum jelas kepastiannya, bahkan cenderung hoaks.

"Iya, dekat Pilkada ini saya lihat semakin banyak (akun bodong). Kita belum tahu apakah ini berkaitan dengan tensi politik di Muratara atau tidak," kata Akbar dibincangi Tribunsumsel.com, Selasa (21/1/2020).

Dikatakan, maraknya ujaran kebencian, fitnah, dan tudingan negatif yang dilayangkan akun bodong ini membuatnya merasa geram.

"Medsos itu kan wadah kita berkomunikasi, saling tukar informasi, jangan dijadikan alat menyebar ujaran kebencian," katanya.

Pilkada 2020, Politik Transaksional Masih Akan Marak, Ini Modusnya Kata Pengamat

Kapolres Muratara, AKBP Adhi Witanto melalui Kasat Reskrim, AKP Dedi Rahmad mengimbau masyarakat agar tidak mudah dengan informasi yang bertebaran di medsos.

Pasalnya, informasi yang disampaikan melalui media sosial itu sering kali tidak memiliki narasumber yang jelas dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

"Saya lebih senang dengan media massa, karena legalitasnya jelas, narasumbernya ada, tentunya bisa jadi acuan dan referensi pembaca," katanya.

Menurut Dedi, masyarakat khususnya di wilayah Kabupaten Muratara harus lebih selektif dan tidak mudah terpancing informasi di media sosial.

"Setiap informasi di medsos itu jangan ditelan mentah-mentah, jangan mudah percaya, apalagi yang menyebar informasi itu pakai akun bodong," ujarnya.

Penulis: Rahmat Aizullah
Editor: Wawan Perdana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved