Kisah Pakar Ular Tewas Digigit Ular Pohon dari Afrika Selatan, Sempat Dokumentasikan Kematiannya
Ini kisah tentang ahli ular, Karl Patterson Schmidt, yang mencatat dengan terperinci proses kematiannya
Bahwa, taring belakang ular pohon dari Afrika Selatan tidak cukup menghasilkan racun yang mematikan bagi manusia.
Itu sebabnya, setelah digigit ia pulang ke rumah dan terus mencatat efek bisa ular terhadap tubuhnya.
Catatan lengkap Schmidt bisa dibaca di buku hariannya, yang disiarkan oleh radio Amerika Serikat, PRI, dalam acara Science Friday.
Dirilis pula video catatan harian, yang diberi judul "Diary of a Snakebite Death".
16:30 - 17:30 Sangat mual, tapi tidak muntah. Ini terasa dalam perjalanan ke Homewood dengan menggunakan kereta api.
17:10 - 18:30 Sangat dingin dan gemetar, diikuti demam (suhu tubuh 38.7 ºC). Pendarahan di mulut mulai sekitar pukul 17:30, sebagian besar pada gusi.
20:30 Makan dua roti panggang.
21.00 - 12.20 Tidur nyenyak.
12:20 Buang air kencing, yang keluar sebagian besar adalah darah, namun jumlahny tidak bnyak.
04:30 - Ambil minum, diikuti dengan mual dan muntah-muntah. Merasa lebih enak dan tidur hingga pukul 06:00.
Menolak bantuan medis
Beberapa jam sebelum meninggal dunia, Schmidt ditanya apakah dirinya memerlukan bantuan medis.
Namun ia menolak, dengan alasan ia khawatir obat akan berpengaruh terhadap efek gigitan ular.
Ia lebih memilih untuk mencatat secara lengkap semua efek yang ia rasakan.
Ini ia lakukan setelah sarapan.
"Tanggal 26 September, pukul 06:23 pagi. Suhu badan 98.2 (36.7 ºC). Sarapan sereal, telur, roti panggang, saus apel, dan kopi. Kencing setiap tiga jam, namun tidak ada darah. Pendarahan di mulut dan hidung, namun tidak banyak."