Jangan Kaget Kalau ke OKI Temukan Rumah Mewah Ini Harganya Miliaran Ternyata Milik Juragan Jukung

Selain milik Saudagar Jukung, rumah-rumah mewah itu juga milik warga yang bekerja sebagai petani.

Jangan Kaget Kalau ke OKI Temukan Rumah Mewah Ini Harganya Miliaran Ternyata Milik Juragan Jukung
Istimewa
Kapal Jukung di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan. 

Sambil bercerita kami dibawa Kades Iwan ke Sungai Komering yang melintasi Desa. Di atas sungai sudah berjejer puluhan kapal jukung bersandar belum lagi di anak-anak sungai di sekitarnya. Beberapa kali Kades Iwan tampak menelepon seseorang sambil terus mengarahkan mobil ke depan. Di ujung anak sungai yang melengkung  kami berhenti. Kades Iwan mengajak kami turun menyusuri jalan setapak menuju sebuah Kapal Jukung Besar yang tertambat di pinggir sungai. Disamping kapal itu juga tertambat puluhan jukung lainnya. Ada yang berukuran besar, sedang dan kecil. 

Berbekal sebilah jembatan papan kami naik ke atas kapal jukung. Tampak seorang nahkoda dan beberapa anak buah kapal (ABK) memperbaiki mesin Truk PS 110 yang dimodifikasi jadi mesin kapal.

Kapal Jukung besar dengan kapasitas 100 ton itu  milik Asnawi salah satu saudagar kapal jukung dari Desa Lingkis. Perawakannya kecil, kulitnya hitam karena sering tersengat matahari. Kapal Jukung milik Asnawi tidak hanya satu ini, satu unit lagi sedang dioperasikan adiknya di perairan Sungsang.

Sembari menyetel baut mesin kapal, Asnawi tampak semangat menerima kami di siang terik itu. Sejak 2003 menurutnya Kapal Jukungnya menggunakan tenaga mesin PS karena dinilai lebih bertenaga dan hemat waktu.

"Dulu pakai mesin diesel, jalannya lambat. Waktu tempuh bisa berhari-hari. Sekarang bisa lebih cepat dengan mesin PS hanya dalam hitungan 10 jam saja atau sehari semalam saja kalau perjalan jauh" tutur Asnawi.

Asnawi menceritakan kapal tersebut dia beli dari pengerajin di Industri kapal jukung Desa Kemang Bejalu, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin harga per unitnya mencapai 400 juta rupiah sudah termasuk mesin. Kapal itu terbuat dari kayu bungur. Hasil Produksi pengerajin dari daerah itu menurutnya lebih baik dari tempat lain karena kapalnya kuat. 

Ditanya sejak kapan menjadi melakoni profesinya ini, Asnawi mengatakan sudah sejak puluhan tahun lalu dan dilakukan secara turun menurun dari orangtua.

"Seingat saya sejak tamat SD (dulu SR). Karena saya tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah taunya jadi pelaut seperti ini" pungkasnya.

Menurut Asnawi kemampuannya berlayar menggunakan kapal Jukung didapat dari orang tuanya. 

Meski tanpa dilengkapi peralatan navigasi modern Asnawi mengaku terbiasa mengarungi laut dengan kapal jukungnya. 

Halaman
1234
Editor: Hartati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved