HUT ke 72 Indonesia Merdeka

Video: Merdeka! Begini Serunya Lintas Etnis di Palembang Rayakan Kemerdekaan

Sebagai warga keturunan Tionghoa di Palembang, Dharmayin kecil bermukim di kawasan Kampung Kapitan. Dia melihat sejumlah pertempuran yang menjadi bagi

Tayang:

“Kami di sini aman saja,” timpal Bambang.

Ketua RT 12, Sinto Waluyo menjelaskan, kerukunan warga tempat tinggalnya telah tercipta sejak lama.

Pria berdarah Jawa ini punya siasat untuk merekatkan hubungan di antara warga.

Misalnya, saat pemilihan umum maka warga dari berbagai etnis dilibatkan sebagai panitia.

Begitu juga saat pembagian undangan, sehingga masing-masing mereka bisa saling mengenal.

“Saat ada orang meninggal, kami perangkat RT selalu bantu urus surat menyurat. Jadi keluarga bisa fokus urus pemakaman,” kata Sinto.

Di lingkungan tempat tinggalnya memang cukup banyak dihuni oleh keturunan Tionghoa.

Tetapi selama ini tidak ada masalah soal toleransi dan kebersamaan.

Contoh lain saat ada kegiatan gotong royong kebersihan lingkungan, selalu melibatkan warga.

Belajar Keberagaman

Lomba 17an juga terpantau di Kampung Kapitan Kelurahan 7 Ulu.

Terlihat beberapa pemuda kampung sekitar mengulur tali plastik membuat pagar untuk ajang lomba anak-anak 4 RT di sana.

Pemuda dan orang tua tumpah ruah di halaman itu.

Mereka bersorak memberikan semangat pada peserta lomba yang beragam etnis mulai dari Melayu hingga Tionghoa.

Ajang lomba di setiap tahunnya ketika memperingati hari kemerdekaan RI, adalah satu contoh cerminan keberagaman yang terjalin di kawasan kampung Kapitan yang tercipta dan terpelihara hingga sekarang.

Ahli waris ke 13 Kampung Kapitan, Mulyadi alias Tyoa Tiong Gie ditemui Tribun Sumsel menegasan demikian.

Perlombaan menyambut dan memeriahkan hari kemerdekaan RI adalah salah satu kegiatan yang mencerminkan toleransi dalam keberagaman di tempat itu.

Bahkan kegiatan perlombaan ini menjadi rutinitas dan agenda tersendiri dari Kampung Kapitan.

"Karena di sana melibatkan semua etnis. Ada Jawa, Melayu hingga Tionghoa. Anak-anak saling mengenal dan melebur dalam perlombaan," katanya

"Lihat saja anak peserta lomba dan yang menonton, beragam. Disinilah pembelajaran keanekaragaman dan toleransinya sekaligus meningkatkan kecintaan dan semarak kemerdekaan," tambah Mulyadi menunjuk perlombaan yang tengah berlangsung itu.

Bagi Mulyadi sekaligus ahli waris dari Kampung Kapitan, sikap toleransi sudah diajarkan dari generasi ke generasi.

Hal ini merujuk pada sebuah "prasasti" yang terbingkai dengan ejaan lama menunjukkan peringatan-peringatan yang harus dilakukan oleh generasi keturunan.

Ada 26 kegiatan dalam catatan bingkai untuk dilakukan diantaranya persembahan kepada dewa, ulang tahun dewa dan lain sebagainya.

Dari ke 26 acara itu ada beberapa yang benar-benar melibatkan warga sekitar dan mengandung toleransi dan keberagaman yakni sedekah kampung.

Pada acara sedekah kampung ini, pihak Kampung Kapitan akan mengundang warga disekitaran untuk berkumpul, berdoa memohon keselamatan kampung, kota bangsa dan negara.

Kegiatan ini setiap tahun selalu dilakukan.

"Kegiatan sedekah kampung ini, kami mengundang empat penjuru masjid yang ada di sekitaran Kampung Kapitan. Kami undang untuk acara sedekah. Mereka memanjatkan doa, begitu juga kami mengadakan ritual," kata Mulyadi.

Selain sedekah kampung, kegiatan yang mencerminkan keberagaman dan penjaga toleransi adalah ruahan.

Acara itu juga dilakukan oleh pihak Kampung Kapitan. Mereka juga mengundang masjid empat penjuru untuk berdoa bersama di tempat itu.

Toleransi yang "terkoyak" akhir-akhir ini di Indonesia, tidak berpengaruh sama sekali terhadap kerukunan di kawasan kampung Kapitan.

Mulyadi percaya toleransi yang terajut sejak dulu hingga sekarang akan terus ada dan mempersatukan.

Upacara di Al-Munawar

Kerukunan warga juga tercipta di kawasan 13 Ulu.

Warga keturunan Arab tetap bisa hidup berdampingan dengan orang keturunan Palembang, Jawa dan Tionghoa.

Bahkan pada saat 17 Agustus, warga kampung Al Munawar bersama beberapa warga lainnya mengikuti upaca bendera yang diselenggarakan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Alkautsar.

Warga yang ikut upacara menggunakan pakaian bebas. Sedangkan petugas upacara adalah para siswa.

“Alasan kita upacara karena kita sudah menyatu. Kita senang peringati upacara seperti itu. Siapa pun itu, kita tidak pandang bulu, peringati hari kemerdekaan senang sekali. Itu salah satu wujud rasa syukur,” jelas Muhammad, ketua RT Kampung Almunawar.

Meski nenek moyangnya berasal dari Yaman, warga keturunan Arab sangat cinta Indonesia.

Mereka sudah hadir lebih dari 350 tahun lalu, menyebarkan agama Islam, berdagang, hingga memiliki banyak keturunan.

Menurut Mamat, sapaan akrabnya, setidaknya ada 65 suku marga keturunan arab di Indonesia.

Sedangkan di Palembang ada belasan suku di antaranya Almunawar, Sahab, Alhabsy, dan Assegaf.

“Nenek moyang datang dari Yaman, singgah ke beberapa negara di Asia Tenggara, kemudian ke Bangka. Tujuan awal untuk syiar agama, ada juga beberapa persen yang bertujuan dagang,” jelasnya.

Dari Pulau Bangka, rombongan itu kemudian menyebar ke pelosok wilayah di Sumsel (Prabumulih dan Kayuagung).

Atas undangan kesultanan Palembang, Habib Abdurahman (ulama besar di rombongan) masuk Palembang.

Ia diminta mengajak agama Islam ke keluarga sultan. (tim)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved