HUT ke 72 Indonesia Merdeka

Video: Merdeka! Begini Serunya Lintas Etnis di Palembang Rayakan Kemerdekaan

Sebagai warga keturunan Tionghoa di Palembang, Dharmayin kecil bermukim di kawasan Kampung Kapitan. Dia melihat sejumlah pertempuran yang menjadi bagi

Tayang:

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Terik Matahari menyengat tak menyurutkan aktivitas Dharmayin (80), memasang ornamen bernuasa merah putih di lingkungan perumahan mewah kawasan Lapangan Hatta, Palembang, Rabu (16/8).

Pria yang menjabat Ketua Rukun Tetangga (RT) itu tampak bersemangat memberikan komando kepada seorang pria yang tengah berdiri menggunakan tangga, tepat di depan gapura komplek.

"Dulu saya sendiri yang langsung naik tangga, dan memasang ornamen merah putih itu, tapi sejak 10 tahun terakhir saya serahkan ke orang saja, saya tidak kuat lagi," katanya.

Dharmayin telah menjabat Ketua RT sejak 1986 tidak pernah melewatkan perayaan HUT Kemerdekaan RI.

Apalagi saat kecil dia melihat langsung perjuangan para pahlawan mengusir penjajah.

Sebagai warga keturunan Tionghoa di Palembang, Dharmayin kecil bermukim di kawasan Kampung Kapitan.

Dia melihat sejumlah pertempuran yang menjadi bagian sejarah Indonesia.

"Pertempuran lima hari lima malam melawan Belanda, saya mungkin baru berusia sekitar tujuh tahun. Saya melihat sendiri pertempuran itu hingga akhirnya kita berhasil mengusir penjajah," katanya.

Diakuinya, peringatan HUT Ke 72 digelar cukup sederhana dengan memasang pernak pernik merah putih dan bendera. Tidak ada perlombaan karena mayoritas warga dipimpinnya sibuk bekerja.

Jumlah anak anak usia sekolah juga sangat sedikit, apalagi kaum remaja, rata rata mereka menempuh pendidikan di luar kota.

"Dulu kami rutin menggelar panjat pinang di lapangan ini, kala itu masih terbuka tidak dipagar seperti ini," jelasnya

Namun demikian, antusiasme masyarakat untuk berkontribusi dalam kegiatan masyarakat cukup baik.

Contohnya, saat menjelang peringatan HUT RI mereka ikut membelikan pernak pernik.

Demikian pula untuk menjaga keamanan ronda malam dan gotong royong lingkungan.

Meski tidak dapat hadir langsung, pasti ada perwakilan untuk melakukan tugas gotong royong.

Di RT-nya, terdapat sedikitnya 78 kepala keluarga (KK), sekitar 300 orang warga yang mayoritas merupakan warga keturunan.
Dharmayin mengatakan, warga keturunan telah menyatu dengan budaya lokal Palembang.

Sejumlah budaya mulai dari cara hidup masyarakat lokal yang juga masih dilestarikan oleh warganya.

Seperti budaya lokal Palembang untuk mendoakan kehamilan yakni budaya Nimbang Bunting.

"Sejak dahulu kami terus memegang erat budaya lokal, mulai dari perkawinan hingga untuk mendoakan kehamilan, yakni budaya nimbang bunting terus dilestarikan," jelasnya.

Dia mengaku sangat mencintai Indonesia. Apalagi kearifan budaya palembang yang saat ini telah mendarah daging.

Bahkan tidak ada niat dirinya untuk meninggalkan kota pempek, apalagi untuk kembali ke negara nenek moyangnya. Sekali pun diiming-imingi harta benda yang bernilai tinggi.

"Sekali pun diberi uang 5 miliar untuk pulang ke Tiongkok saya akan tolak, alasannnya pertama saya tidak bisa bahasa Tiongkok, dan saya takut tidak bisa makan pindang gabus lagi. Saya 100 persen Indonesia," tegasnya.

Sementara itu, di kawasan pesisir Sungai Musi, tepatnya di RT 34 RW 07, Kelurahan 10 Ulu, kemeriahan HUT 72 RI sangat kental terasa.

Sejumlah warga bergotong royong memasang kertas minyak berwarna merah putih pada sebuah benang yang dibentang.

Warga yang berasal dari sejumlah etnis dan kepercayaan saling membantu untuk menyemarakkan HUT RI ke 72, Kamis 17 agustus 2017.

Ketua RT 38, Leo (28) mengungkapkan kebersamaan lintas etnis dan kepercayaan sudah ada sejak lama.

"Di RT ini ada banyak etnis yakni Palembang, keturunan Tionghoa, juga Arab. ada juga beberapa keyakinan yakni Islam, Budha dan Kristen, semua bersatu padu untuk memeriahkan HUT RI," ungkapnya.

Ia menyampaikan sikap toleransi dan saling menghormati antar agama dan etnis memang telah turun temurun dijunjung tinggi.

Seperti saat hari keagaamaan, budaya saling mengunjungi atau lebih dikenal bersanjo terus menerus dilakukan.

Di kawasan itu terdapat dua sarana ibadah yang saling berdekatan yakni kelenteng Dewi Kwan Im dan Masjid Al Ghazali.

Para warga masyarakatan akan saling membantu demi kesuksesan kegiatan agama satu sama lain.

"Misalnya saat Lebaran warga kelenteng akan meminjamkan tempat parkirnya untuk Salat Ied, demikian pula saat tahun baru Cina, kami akan membantu mereka untuk menjaga keamanan," katanya.

Cegah Perpecahan

Perkampungan penduduk lintas etnis juga terdapat kawasan Jalan Putri Rambu Selako, Kecamatan Ilir Barat (IB) I.

Tribun melihat Bambang sedang duduk di bawah atap tempat usaha steam motor dan bensin eceran milik Agus Susanto (Aseng).

Tiba-tiba datang Budi, pria berdarah Tionghoa-Betawi.

Ia bertanya ke Aseng lokasi penjualan mesin molen.

Bambang yang keturunan Jawa sesekali mengangguk mendengar obrolan dua teman di hadapannya.

Berbeda agama dan etnis tidak melunturkan kerukunan diantara ketiga pria itu.

Semangat itu malah semakin menguat menjelang hari kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia.

“Berbaur dengan orang pribumi tidak ada hambatan. Tidak ada perbedaan, kalau ada acara kampung, tetangga kena musibah selalu saling bantu,” ungkap Aseng.

Begitu juga saat mau mengambil keputusan tingkat RT, semua warga diminta partisipasi, memberikan ide, saran, dan solusi atas sebuah permasalahan.

“Contohnya, kalau mau buat pos kamling, tiap warga dipanggil, dimintai memberi solusi,” ujar dia.

Mereka bertiga menjawab kompak ketika dimintai tanggapan tentang perpecahan bangsa.

Tidak ada alasan untuk bercerai, isu itu mereka anggap angin lalu sehingga tidak perlu digubris.

“Kami di sini aman saja,” timpal Bambang.

Ketua RT 12, Sinto Waluyo menjelaskan, kerukunan warga tempat tinggalnya telah tercipta sejak lama.

Pria berdarah Jawa ini punya siasat untuk merekatkan hubungan di antara warga.

Misalnya, saat pemilihan umum maka warga dari berbagai etnis dilibatkan sebagai panitia.

Begitu juga saat pembagian undangan, sehingga masing-masing mereka bisa saling mengenal.

“Saat ada orang meninggal, kami perangkat RT selalu bantu urus surat menyurat. Jadi keluarga bisa fokus urus pemakaman,” kata Sinto.

Di lingkungan tempat tinggalnya memang cukup banyak dihuni oleh keturunan Tionghoa.

Tetapi selama ini tidak ada masalah soal toleransi dan kebersamaan.

Contoh lain saat ada kegiatan gotong royong kebersihan lingkungan, selalu melibatkan warga.

Belajar Keberagaman

Lomba 17an juga terpantau di Kampung Kapitan Kelurahan 7 Ulu.

Terlihat beberapa pemuda kampung sekitar mengulur tali plastik membuat pagar untuk ajang lomba anak-anak 4 RT di sana.

Pemuda dan orang tua tumpah ruah di halaman itu.

Mereka bersorak memberikan semangat pada peserta lomba yang beragam etnis mulai dari Melayu hingga Tionghoa.

Ajang lomba di setiap tahunnya ketika memperingati hari kemerdekaan RI, adalah satu contoh cerminan keberagaman yang terjalin di kawasan kampung Kapitan yang tercipta dan terpelihara hingga sekarang.

Ahli waris ke 13 Kampung Kapitan, Mulyadi alias Tyoa Tiong Gie ditemui Tribun Sumsel menegasan demikian.

Perlombaan menyambut dan memeriahkan hari kemerdekaan RI adalah salah satu kegiatan yang mencerminkan toleransi dalam keberagaman di tempat itu.

Bahkan kegiatan perlombaan ini menjadi rutinitas dan agenda tersendiri dari Kampung Kapitan.

"Karena di sana melibatkan semua etnis. Ada Jawa, Melayu hingga Tionghoa. Anak-anak saling mengenal dan melebur dalam perlombaan," katanya

"Lihat saja anak peserta lomba dan yang menonton, beragam. Disinilah pembelajaran keanekaragaman dan toleransinya sekaligus meningkatkan kecintaan dan semarak kemerdekaan," tambah Mulyadi menunjuk perlombaan yang tengah berlangsung itu.

Bagi Mulyadi sekaligus ahli waris dari Kampung Kapitan, sikap toleransi sudah diajarkan dari generasi ke generasi.

Hal ini merujuk pada sebuah "prasasti" yang terbingkai dengan ejaan lama menunjukkan peringatan-peringatan yang harus dilakukan oleh generasi keturunan.

Ada 26 kegiatan dalam catatan bingkai untuk dilakukan diantaranya persembahan kepada dewa, ulang tahun dewa dan lain sebagainya.

Dari ke 26 acara itu ada beberapa yang benar-benar melibatkan warga sekitar dan mengandung toleransi dan keberagaman yakni sedekah kampung.

Pada acara sedekah kampung ini, pihak Kampung Kapitan akan mengundang warga disekitaran untuk berkumpul, berdoa memohon keselamatan kampung, kota bangsa dan negara.

Kegiatan ini setiap tahun selalu dilakukan.

"Kegiatan sedekah kampung ini, kami mengundang empat penjuru masjid yang ada di sekitaran Kampung Kapitan. Kami undang untuk acara sedekah. Mereka memanjatkan doa, begitu juga kami mengadakan ritual," kata Mulyadi.

Selain sedekah kampung, kegiatan yang mencerminkan keberagaman dan penjaga toleransi adalah ruahan.

Acara itu juga dilakukan oleh pihak Kampung Kapitan. Mereka juga mengundang masjid empat penjuru untuk berdoa bersama di tempat itu.

Toleransi yang "terkoyak" akhir-akhir ini di Indonesia, tidak berpengaruh sama sekali terhadap kerukunan di kawasan kampung Kapitan.

Mulyadi percaya toleransi yang terajut sejak dulu hingga sekarang akan terus ada dan mempersatukan.

Upacara di Al-Munawar

Kerukunan warga juga tercipta di kawasan 13 Ulu.

Warga keturunan Arab tetap bisa hidup berdampingan dengan orang keturunan Palembang, Jawa dan Tionghoa.

Bahkan pada saat 17 Agustus, warga kampung Al Munawar bersama beberapa warga lainnya mengikuti upaca bendera yang diselenggarakan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Alkautsar.

Warga yang ikut upacara menggunakan pakaian bebas. Sedangkan petugas upacara adalah para siswa.

“Alasan kita upacara karena kita sudah menyatu. Kita senang peringati upacara seperti itu. Siapa pun itu, kita tidak pandang bulu, peringati hari kemerdekaan senang sekali. Itu salah satu wujud rasa syukur,” jelas Muhammad, ketua RT Kampung Almunawar.

Meski nenek moyangnya berasal dari Yaman, warga keturunan Arab sangat cinta Indonesia.

Mereka sudah hadir lebih dari 350 tahun lalu, menyebarkan agama Islam, berdagang, hingga memiliki banyak keturunan.

Menurut Mamat, sapaan akrabnya, setidaknya ada 65 suku marga keturunan arab di Indonesia.

Sedangkan di Palembang ada belasan suku di antaranya Almunawar, Sahab, Alhabsy, dan Assegaf.

“Nenek moyang datang dari Yaman, singgah ke beberapa negara di Asia Tenggara, kemudian ke Bangka. Tujuan awal untuk syiar agama, ada juga beberapa persen yang bertujuan dagang,” jelasnya.

Dari Pulau Bangka, rombongan itu kemudian menyebar ke pelosok wilayah di Sumsel (Prabumulih dan Kayuagung).

Atas undangan kesultanan Palembang, Habib Abdurahman (ulama besar di rombongan) masuk Palembang.

Ia diminta mengajak agama Islam ke keluarga sultan. (tim)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved