HUT ke 72 Indonesia Merdeka

Video: Merdeka! Begini Serunya Lintas Etnis di Palembang Rayakan Kemerdekaan

Sebagai warga keturunan Tionghoa di Palembang, Dharmayin kecil bermukim di kawasan Kampung Kapitan. Dia melihat sejumlah pertempuran yang menjadi bagi

Tayang:

Di RT-nya, terdapat sedikitnya 78 kepala keluarga (KK), sekitar 300 orang warga yang mayoritas merupakan warga keturunan.
Dharmayin mengatakan, warga keturunan telah menyatu dengan budaya lokal Palembang.

Sejumlah budaya mulai dari cara hidup masyarakat lokal yang juga masih dilestarikan oleh warganya.

Seperti budaya lokal Palembang untuk mendoakan kehamilan yakni budaya Nimbang Bunting.

"Sejak dahulu kami terus memegang erat budaya lokal, mulai dari perkawinan hingga untuk mendoakan kehamilan, yakni budaya nimbang bunting terus dilestarikan," jelasnya.

Dia mengaku sangat mencintai Indonesia. Apalagi kearifan budaya palembang yang saat ini telah mendarah daging.

Bahkan tidak ada niat dirinya untuk meninggalkan kota pempek, apalagi untuk kembali ke negara nenek moyangnya. Sekali pun diiming-imingi harta benda yang bernilai tinggi.

"Sekali pun diberi uang 5 miliar untuk pulang ke Tiongkok saya akan tolak, alasannnya pertama saya tidak bisa bahasa Tiongkok, dan saya takut tidak bisa makan pindang gabus lagi. Saya 100 persen Indonesia," tegasnya.

Sementara itu, di kawasan pesisir Sungai Musi, tepatnya di RT 34 RW 07, Kelurahan 10 Ulu, kemeriahan HUT 72 RI sangat kental terasa.

Sejumlah warga bergotong royong memasang kertas minyak berwarna merah putih pada sebuah benang yang dibentang.

Warga yang berasal dari sejumlah etnis dan kepercayaan saling membantu untuk menyemarakkan HUT RI ke 72, Kamis 17 agustus 2017.

Ketua RT 38, Leo (28) mengungkapkan kebersamaan lintas etnis dan kepercayaan sudah ada sejak lama.

"Di RT ini ada banyak etnis yakni Palembang, keturunan Tionghoa, juga Arab. ada juga beberapa keyakinan yakni Islam, Budha dan Kristen, semua bersatu padu untuk memeriahkan HUT RI," ungkapnya.

Ia menyampaikan sikap toleransi dan saling menghormati antar agama dan etnis memang telah turun temurun dijunjung tinggi.

Seperti saat hari keagaamaan, budaya saling mengunjungi atau lebih dikenal bersanjo terus menerus dilakukan.

Di kawasan itu terdapat dua sarana ibadah yang saling berdekatan yakni kelenteng Dewi Kwan Im dan Masjid Al Ghazali.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved