Serma Abdul Muis, ‘Sang Bomber' Penyelamat Jejawi OKI

Pengamanan keseluruhan daerah tersebut dilakukan dengan membentuk tiga front, yaitu front tengah, front kanan, dan front kiri.

Tayang:
Editor: Hartati
Istimewa
Patung Sersan Mayor Abdul Muis pejuang syahid yang menyalamatkan Jejawi dari serangan tentara NICA (Netherland Indies Civil Administration─Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) pada tahun 1947 menjadi saksi bisu perjuangannya ikut mengusir penjajah dari tanah OKI. 

Memang ada tiga sungai besar yang melintasi wilayah ini, yaitu Sungai Ogan, Komering dan Mesuji. Dalam peta pertahanan OKI, ada dua klasifikasi daerah yang dianggap menjadi titik rawan pada saat itu. Pertama, dari jalur air yakni sungai Komering dan sungai Ogan. Kedua, dari jalur darat yang ditempuh dalam dua rute. Rute pertama, Palembang ― Rambutan ― Jejawi ― Sirah P. Padang ― Kayu Agung. Rute kedua, Palembang ― Simpang Payakabung ― Kayu Agung.

Pengamanan keseluruhan daerah tersebut dilakukan dengan membentuk tiga front, yaitu front tengah, front kanan, dan front kiri.

Di Jalur darat pada rute pertama, Belanda berhasil memukul mundur pasukan Indonesia dari simpang Rambutan. Mereka menjadikan Rambutan sebagai pertahanan sebelum bergerak ke Kayu Agung. Setelah itu mereka maju kembali masuk ke dusun Lingkis pada tanggal 23 Januari 1947.

Ketika memasuki Lingkis, pasukan Belanda diserang secara frontal oleh pasukan Indonesia. Sehingga pasukan Belanda terpaksa mundur dan kembali ke Simpang Rambutan. Sedangkan pasukan Indonesia sendiri mundur ke Muara Batun untuk mempersiapkan diri menghadapi serangan Belanda yang kedua.

Akhirnya, setelah memiliki perencanaan yang matang, pasukan Belanda memasuki kembali dusun Lingkis. Kali ini mereka membawa amunisi lebih banyak dan modern dari sebelumnya. Dengan adanya dukungan senjata seperti itu, pasukan Belanda berhasil menduduki Lingkis dalam waktu yang singkat.

Namun pada saat memasuki wilayah Muara Batun, pasukan Belanda benar-benar baru merasakan bagaimana semangat para pejuang Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Taktik gerilya yang diterapkan oleh komando Serma Abdul Muis ternyata membuat pasukan Belanda kesulitan. Belanda benar-benar tidak tahu mana yang pejuang dan mana yang sipil. Senjata modern yang mereka bawa pun seakan tidak berguna. Belanda kalah dengan taktik yang diterapkan Serma Abdul Muis.

Karena gagal menerobos Muara Batun, akhirnya Belanda pun menerapkan strategi kotor. Mereka menembaki semua orang yang ada dihadapannya. Rumah-rumah warga dibakar, dan orang-orang tidak bersalah dianiaya. Tujuannya agar para pejuang Indonesia keluar dari tempat persembunyian dan menyerahkan diri.

Namun Serma Abdul Muis lebih memilih mengahadapi Belanda secara berhadapan ketimbang menyerahkan diri. Sehingga terjadilah tembak-menembak antara pasukan Belanda dan pasukan Indonesia. Karena senjata yang tidak memadai, pasukan Indonesia mundur sampai ke jembatan Sungai Ogan yang memisahkan Muara Batun Barat dan Timur (sekarang desa Batun Baru). Di jembatan Muara Batun inilah akhirnya Serma Abdul Muis tertembak saat hendak meledakkan jembatan yang menghubungkan Muara Batun Barat dan Timur.

Peristiwa naas tersebut dimulai saat pasukaan Indonesia tidak dapat lagi menahan serangan Belanda. Karena terus terdesak, Serma Abdul Muis pun memasang taktik mengulur waktu dengan cara meledakkan jembatan yang menghubungkan Muara Batun Barat dan Timur. Agar para pejuang kemerdekaan yang masih tersisa bisa melarikan diri ke benteng pertahanan di Kayu Agung.

Dalam usaha peledakan jembatan, Serma Abdul Muis menunjuk dirinya sebagai eksekutor dengan ditemani tujuh rekan lainnya sebagai pelindung. Kemudian Serma Abdul Muis mulai melakukan aksinya. Pertama-tama ia bergerak ke tengah jembatan dan memasang granat, lalu mulai menyalakan api agar efek ledakan bisa melukai Belanda. Namun sayang ketika menyalakan api itulah peluru-peluru Belanda berhasil menembus dada Serma Abdul Muis sehingga gugurlah dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan Indonesia di jembatan Sungai Ogan. Kematian Serma Abdul Muis itu memukul moril dan keberanian para pejuang dalam mempertahankan wilayah OKI dari pasukan Belanda.

Sosok Serma Abdul Muis adalah pahlawan yang turut berperan penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di wilayah Sumatera Selatan. Sayangnya kini, namanya tidak dikenal banyak orang, terutama bagi warga OKI sendiri. Ini terbukti dari banyaknya anak muda yang tidak tahu dengan sosok patung tersebut.

Cerita mengenai pahlawan daerah, Serma Abdul Muis ini kiranya dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi muda saat ini untuk mengenal pahlawan daerahnya. Di momentum HUT RI ke 72 ini saatnyalah kita menemukan arti dan nilai-nilai pengabdian mereka kepada bangsa ini─demi generasi muda Indonesia lebih baik. Dirgahayu Republik Indonesia ke 72.

*Dari Berbagai Sumber

Penulis Oleh: Adi Yanto
Kasubag Media dan Komunikasi Publik Setda OKI

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved