Breaking News:

Bukan Cuma Soal Paha, Inilah Kesalahan Tim Kreatif Puteri Indonesia Saat Tampilkan Tema Ratu Sinuhun

Dinilai, penampilan Caca telah melanggar nilai-nilai budaya, baik dari dari sisi estetika, maupun etika yang ada pada karakter Ratu Sinuhun.

Editor: M. Syah Beni
ISTIMEWA
Finalis Puteri Indonesia, Nur Harisyah Pratiwi dari Sumsel 

Saya sendiri, pernah tiga kali (2009, 2010 dan 2011) diminta oleh Yayasan Puteri Sumsel untuk membantu membuat konsep, melatih Puteri Sumsel di ajang Unjuk Bakat dan bahkan pada tahun 2009 ikut mendampingi hingga ke Jakarta. Berdasarkan pengalaman  mendampingi dan melihat cara-cara yang dilakukan dalam proses pemilihan Puteri Indonesia, ajang unjuk bakat sepertinya merupakan ruang untuk menunjukkan kebudayaan masing-masing daerah yang diwakili oleh peserta. 

Begitulah seharusnya, disamping pengetahuan umum yang dimiliki oleh peserta, pemahaman lokal sebagai Puteri yang namanya melekat dengan nama daerah wajib memahami kebudayaan daerahnya, minimal materi yang disuguhkan dalam ajang tersebut. Jika tidak, maka sebenarnya, ini lebih mengutamakan ajang promosi  produk sponsor utama dan kemudian diikuti sponsor-sponsor lain yang terkait dengan kecantikan perempuan.

Dengan kata lain, jika hubungan sponsor dengan para peserta hanya mengutamakan bobot ekonomi tetapi tidak memiliki bobot intelektualitas dan kebudayaan maka hubungan peserta dengan sponsor boleh disebut sebagai hubungan eksploitatif  yang menggunakan tubuh perempuan.

Kembali ke persoalan tampilan Caca. Dalam hukum seni pertunjukan profesional, jika seseorang sudah tampil di atas panggung, maka haruslah  diasumsikan bahwa penampil sudah siap dan memahami materi. Tidak ada alasan bahwa persiapannya terburu-buru atau latihannya hanya satu hari.

Bukankah panitia sudah memberikan pedoman bagi peserta terhadap apa yang mau ditampilkan. Oleh karena itu,   jika pementasan usai,  peserta harus menerima segala bentuk evaluasi. Begitu pula, dengan Puteri Sumsel sebagai peserta. Puteri Sumsel ketika tampil, diasumsikan adalah orang yang  sudah memahami budaya, paling tidak materi yang akan ditampilkan.

Tim yang bekerja di belakang layar, seperti disainer juga dianggap orang yang telah mengetahui konsep dan materi. Maka jika terjadi kesalahan, Caca dan Tim harus menerimanya.

Menurut beberapa pendapat para tokoh Sejarah dan Budaya, diantaranya RM Ikhsan (Pemerhati sejarah dan Budaya), Yai Beck (Pemerhati Budaya), Elly Rudi (Seniman Tari), Lina Muchtar (Seniman Tari), Kemas Ari Panji, S.Pd, M.Si (Sejarawan, Masyarakat Sejarawan  Sumsel)  dan dari berbagai lembaga penggiat  budaya diantaranya Dewan Kesenian Palembang, Angkatan Muda Keluarga Palembang Darussalam (Alfa Gadjahnata), ICMI Orwil Sumsel, Bidang Etika dan Budaya Islam (Irwansyah Jamal) dan Lembaga Adat Palembang yang sempat berkumpul di Dewan Kesenian Palembang (29/3), karena kesalahan  cukup fatal, maka selayaknya  Nur Kharisya Pratiwi (Caca), Puteri Sumatera Selatan (Sumsel) 2017 dan pihak Manajemen atau Tim Kreatif  dapat memberikan klarifikasi dan permohonan maaf kepada masyarakat Sumatera Selatan, paling tidak melalui 10 media cetak dan elektronik, baik media lokal maupun media nasional.

Selain itu, mereka juga harus menyatakan rasa penyesalan dengan berziarah ke Makam Ratu Sinuhun di komplek pemakaman Sabokingking. Jika kedua hal tersebut sudah dilakukan, makan para penggiat budaya tersebut menganggap persoalan ini selesai,

dan semoga hal seperti ini tidak lagi terulang dalam kegiatan Puteri Sumsel ke depan.

 Siapakah Ratu Sinuhun

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved