Kasihan, Anak Ini Diberhentikan Dari Sekolah Hanya Karena Ibunya Tagih Upah

"Dia (kepsek) bilang pada Ra, ibu Ra itu jahat dan tidak sopan. Dia juga sambil nunjuk-nunjuk ke arah aku, jadi aku takut," kata Ra, bercerita dengan

TRIBUNSUMSEL.COM/DEFRI IRAWAN
Dewi dan putranya, Ra menunjukkan surat pemberhentian SDN 150 Palembang karena sering menagih upah bersih-bersih sekolah. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Prestasi anak berinsial Ra, siswa kelas 2 SD Negeri 150 Palembang, selalu masuk rangking lima besar di kelas tak menjadi pertimbangan Kepala SDN 150 Dra Mirahidaya MM. Ra tetap diberhentikan. Alasannya sungguh tak masuk di akal sehat.

Dewi, ibu Ra, mengatakan, anaknya diberhentikan karena Kepsek Mirahidaya kesal Dewi sering menagih uang Rp 500 ribu sebagai upah bersih-bersih sekolah.

"Salah apa anak saya. Jika dia mau marah sama saya, silakan, tetapi jangan berhentikan anak saya karena ia masih mau sekolah," kata Dewi, berkaca-kaca.

Tribun menyambangi kediaman kerabat Dewi di Jl Kol H Barlian Lr Mitra Haji 1, Jumat (20/3). Dia terlihat begitu sedih. Sama sekali tak disangka, setelah dia dipecat sebagai tenaga bersih-bersih di SDN 150 itu, anaknya menyusul diberhentikan.

"Saya ini cuma mau minta upah saya pak, ditambah lagi upah ngecat Pos Satpam yang telah dikerjakan suami saya sebagai buruh bangunan. Namun uang Rp 500 ribu itu belum juga dibayarkannya, malahan dia (Mirahidaya, Red) marah-marah," kata Dewi, tersedu-sedu.

Menurut Dewi awal mula anaknya dikeluarkan dari sekolah karena dia berulang kali menagih upah telah bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sekolah tersebut.

Namun uang yang ditunggu-tunggu untuk makan sehari-sehari itu tidak kunjung dibayarkan, malahan anaknya ketiban getah.

"Waktu itu saya ke sekolah karena Ra kok belum pulang, padahal siswa lain yang masuk pagi sudah pulang semua. Ketika saya mau jemput Ra, ia malah keluar dari ruangan guru, di sanalah saya langsung dikasih map warna biru. Isinya surat pemberhentian anak saya," kata Dewi.

Ketika itu juga ia dipesankan oleh guru kelas, bahwa kata kepala sekolah, Rasya tidak usah masuk lagi, pada Sabtu.

Saat itulah Dewi baru tahu jika anaknya telah dikeluarkan dari sekolah.

"Saya kasihan dengan Ra, lihat sendiri hasil raportnya, ia itu selalu masuk 5 besar dalam kelas. Kami ini memang orang miskin, tapi jangan diinjak-injak seperti ini," katanya, sambil terisak-isak di dampingi Ra.

Ra Trauma
Ra ketika Tribun Sumsel ajak ngobrol mengaku masih ingin sekolah, tetapi ia takut ketemu dengan Kepsek bila harus kembali sekolah ketempat itu.

"Dia (kepsek) bilang pada Ra, ibu Ra itu jahat dan tidak sopan. Dia juga sambil nunjuk-nunjuk ke arah aku, jadi aku takut," kata Ra, bercerita dengan lugu.

Ra juga bercerita, ia harus sembunyi-sembunyi jika ada Kepala sekolah sedang lewat di depannya, badannya terasa gemetaran karena takut kena marahi terus oleh kepala sekolah.

Sementara itu ketika dicoba konfirmasi ke SDN 150 di Jl Kol H Barlian, Kepala Sekolah Mirahidaya tidak bisa ditemui karena sedang tidak berada ditempat.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved