Berita Mura

Ribuan Hektare Sawah di Mura Berubah Jadi Kolam, Irigasi Mengering Ancam Kehidupan Petani

Fungsi lahan persawahan menjadi kolam kembali terjadi di Desa Satan, Kecamatan Muara Beliti

Ribuan Hektare Sawah di Mura Berubah Jadi Kolam, Irigasi Mengering Ancam Kehidupan Petani
Tribun Sumsel/ Eko Hepronis
Eskavator difungsikan sedang mengeruk sawah menjadi kolam air tenang di Desa Satan, Kecamatan Muara Beliti, Musi Rawas (Mura). Jumat (10/8/2018). 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Eko Hepronis.

TRIBUNSUMSEL.COM, MUSIRAWAS-Alih fungsi lahan dari persawahan menjadi kolam usaha harus menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Rawas (Mura).

Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, areal persawahan di Kabupaten Mura terus menurun. Dalam catatan Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispernak) Kabupaten Mura 2017 lalu.

Setidaknya kurang lebih 12 ribu hektare (Ha) lahan persawahan alih fungsi berubah menjadi ruko-ruko, kolam dan pemukiman penduduk.

Baca: Warga Binaan Rumah Tahanan Baturaja Kirim Doa untuk Korban Bencana Gempa Lombok

Keberadaan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Mura No 3 tahun 2018 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LPPB). Yang diharapkan bisa membendung alih fungsi lahan pun nampaknya tidak dipatuhi.

Bahkan ancaman Distanak Kabupaten Mura yang akan memberikan sanksi pidana tiga tahun penjara dan denda kurang dari Rp 1 Miliar kepada pelaku alih fungsi lahan persawahan dianggap angin lalu.

Pasalnya, alih fungsi lahan persawahan menjadi kolam kembali terjadi di Desa Satan, Kecamatan Muara Beliti. Sebuah lahan persawahan saat ini tengah di ubah menjadi kolam air tenang.

Alih fungsi lahan itu nampaknya tak main-main, sebab, dalam proses pengerukan lahan persawahan tidak menggunakan tenaga manusia, namun pengerukan sawah menjadi kolam menggunakan alat berat.

Baca: Sesuai Perintah MK, Ini Jadwal KPU Lahat Gelar Pleno Tetapkan Bupati dan Wakil Bupati Lahat

Pengerjaan alih fungsi lahan itu pun mulai dikeluhkan oleh masyarakat setempat, sebab, setiap ada pengerukan lahan persawahan menjadi kolam baru membuat debit air irigasi ke sawah-sawah petani menjadi berkurang.

"Sekarang saja kita sudah kesulitan air, bahkan musim kemarau seperti ini kita terpaksa harus gantian," papar Supartijo saat dibincangi Tribunsumsel.Com, Jumat (10/08).

Baca: Ini Simulasi Buka Tutup Jembatan Ampera Selama Asian Games, Senin Nanti Mulai Uji Coba

Lain lagi, jika kolam itu sudah jadi bisa-bisa mereka tidak dapat air sama sekali, jika itu terjadi mereka kemungkinan besar akan mengubah profesi menjadi petani tanaman lainnya.

"Itu sudah banyak yang jadi petani semangka, petani sayur-sayuran, karena mau nanam padi tidak ada air pak, bahkan ada yang mulai berpikir mau jual sawahnya," kata Supartijo.

Sementara beberapa waktu lalu hal yang sama juga terjadi di Desa Tambah Asri, Kecamatan Tugumulyo, luasan lahan yang beralih fungsi kini mencapai 50 hektare lebih.

Jumino (40) warga setempat, menuturkan jika sawah mereka tidak bisa digarap sejak lima tahun terakhir, karena suplai air irigasi tidak sampai lagi kesawah mereka.

"Sebenarnya airnya banyak. Tapi banyak dipakai oleh pengusaha-pengusaha kolam air tenang, akibatnya sawah tidak dapat air lagi," terangnya.

Penulis: Eko Hepronis
Editor: Wawan Perdana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help