Kopi Sumsel
Kopi Sumsel dan Rahasia Stamina K.H. Tol'at Wafa Ahmad di Usia 67 Tahun
Kamis (12/2/2026) sore, angin dari Danau Telok Putih berembus pelan. Udara terasa lembab setelah diguyur hujan.
Penulis: Eko Adia Saputra | Editor: Slamet Teguh
Ia juga rutin bermain badminton bersama para guru dan santri. Baginya, olahraga bukan sekadar menjaga tubuh tetap bugar, tapi juga menjaga suasana batin tetap segar.
“Istri dan anak-anak sering mengingatkan agar tidak lagi main bola. Tapi saya merasa masih kuat,” ujarnya.
Ia bahkan sempat berkonsultasi dengan seorang profesor—adik tingkatnya semasa sekolah. Hasilnya? “Dengan kondisi sekarang, saya pengecualian,” katanya sambil tertawa kecil.
Dalam dunia medis, aktivitas fisik teratur memang terbukti membantu menjaga kebugaran jantung, mengontrol tekanan darah, dan memperlambat penurunan massa otot akibat usia. Apa yang dilakukan Kiai Wafa sejatinya selaras dengan anjuran kesehatan: bergerak konsisten sejak muda.
Ripang dan Berhenti Sebelum Kenyang
Rutinitas Kiai Wafa tak berhenti di lapangan. Setiap pagi, ia minum “ripang”—ramuan rempah berisi jahe dan bahan herbal lainnya.
Jahe dikenal memiliki efek antiinflamasi dan membantu metabolisme tubuh.
Tradisi minuman rempah seperti ini telah lama hidup dalam budaya Nusantara, menjadi bagian dari upaya menjaga daya tahan tubuh secara alami.
Namun, yang paling ia tekankan justru sederhana, yaitu pola makan.
“Saya termasuk yang menerapkan berhenti makan sebelum kenyang,” katanya.
Prinsip ini selaras dengan ajaran klasik yang kerap disampaikan dalam tradisi Islam tentang menjaga porsi makan. Dalam perspektif kesehatan modern, pembatasan kalori yang wajar juga dikaitkan dengan metabolisme yang lebih baik dan risiko penyakit kronis yang lebih rendah.
Ulama yang Membumi
Di tepi danau itu, sosok Kiai Wafa terasa jauh dari kesan formal. Ia bicara tentang kopi dengan antusias, tentang bola dengan semangat anak muda, dan tentang pola hidup sehat dengan kesadaran penuh.
Tak ada jarak antara petuah dan praktik. Apa yang ia sampaikan, ia jalani.
Di tengah obrolan santai dan aroma kopi Dempo, ada satu hal yang terasa kuat: merawat tubuh adalah bagian dari syukur. Dan mencintai produk daerah sendiri adalah bagian dari harga diri.
Sore itu, sebelum kami pamit, satu pesan sederhana tertinggal—bahwa hidup sehat tidak selalu rumit. Cukup bergerak, minum yang baik, makan secukupnya, dan tetap bahagia. (*)
| Kopi Arabika Raden Kuning Jadi Identitas Pagar Alam, Pemkot Upayakan Sertifikasi Indikasi Geografis |
|
|---|
| Harga Kopi di Empat Lawang Anjlok Hingga Rp 45 Ribu Perkilo, Para Petani Kini Harap-harap Cemas |
|
|---|
| Mendekati Masa Panen, Harga Kopi di Empat Lawang Malah Turun Jadi Rp 50 Ribu Perkilo |
|
|---|
| Jelang Musim Panen, Harga Kopi di Empat Lawang Rp 55 Ribu Perkilo, Petani Berharap Bisa Rp 70 Ribu |
|
|---|
| Jelang Musim Panen, Harga Kopi di Pagar Alam Berkisar Rp 60 Ribu Perkilo, Petani Berharap Harga Naik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Kopi-Sumsel-dan-Rahasia-Stamina-KH-Tolat-Wafa-Ahmad-di-Usia-67-Tahun.jpg)