Berita OKU

BPBD OKU Pasang Alat Sensor Otomatis Pantau Debit Air Sungai Ogan, Bisa Diakses Publik Lewat HP

Alat otomatis menggunakan sensor untuk mendeteksi ketinggian air secara terus-menerus dan mengirimkan data secara digital, sering kali

Penulis: Leni Juwita | Editor: Sri Hidayatun
Dokumentasi
PERAHU KARET BPBD---Dalam upaya kesiapsiagaan antisipasi bencana banjir bencana hidrometeorologi BPBD (Badan Penanggulangan bencana Daerah) Kabupaten Ogan Komering Ulu Propinsi Sumatera Selatan terus bersiaga. 

Ringkasan Berita:
  • Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengintensifkan pemantauan debit air Sungai Ogan
  • Alat ini dipasang untuk antisipasi cegah banjir dan dipasang di tiga titik
  • BPBD OKU juga petakan 11 Kecamatan Rawan Banjir dan Longsor

TRIBUNSUMSEL.COM,BATURAJA- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengintensifkan pemantauan debit air Sungai Ogan sebagai langkah antisipasi banjir sedini mungkin.

Hal ini dilakukan untuk mencegah dampak cuaca ekstrem yang kini sedang terjadi.

Kepala Pelaksana BPBD OKU Januar Eeffendy M Ikom melalui Manager Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten OKU, Gunalfi mengatakan alat tersebut  bernama Level Gauge BPBD OKU untuk menendeteksi  ketinggian permukaan air ini dan OKU.

Bahkan alt pendeteksi banjir bisa diakses oleh semua orang. Cukup  login di  https://nada-iot.com/monitor. caranya buka link https://nada-iot.com/monitor. isi username:userbpbdoku pasword: 123.

Level Gauge BPBD OKU pengganti pengukuran manual dengan metode paling sederhana seperti yang dilakukan selama ini petugas yang datang ke bibir sungai dengan pengamatan secara visual membaca ketinggian air pada skala yang tertera di tengah hujan deras , angin kencang dan petir dan kadang-kadang tidak terbaca dengan akurat.

Dengan Level Gauge dilakukan pengukuran otomatis (Automatic Water Level Recorder - AWLR) .

Alat otomatis menggunakan sensor untuk mendeteksi ketinggian air secara terus-menerus dan mengirimkan data secara digital, sering kali secara real-time dan akurat.

"Alat ini  ini memang harganya cukup mahal dikisaran Rp 400 juta lebih bentuk kecil namun canggih. Karena harganya mahal pebelian alat ini dilakukan secara bertahap, saat ini OKU sudah memiliki dua unit milik Pemkab OKU dan satu unit mendapat pinjaman," ujar dia.

Alat ini dipasang  di Jembatan Ulak Lebar Kecamatan Ulu Ogan dan di jembatan unung Liwat Kecamatan Pengandonan dan Desa Sukaraja Kecamatan Lengkiti.

Selain itu, pihaknya juga telah memetakan 11 kecamatan yang masuk dalam  kategori rawan banjir dan tanah longsor saat musim hujan.

Meliputi Kecamatan Muara Jaya, Ulu Ogan, Pengandonan, Semidang Aji, Sosoh Buay Rayap, Baturaja Timur, Baturaja Barat, Peninjauan, Lengkiti, Kedaton Peninjauan Raya, serta Lubuk Raja.

Menurutnya, daerah-daerah tersebut dinilai rawan bencana karena kondisi geografisnya berada di kawasan lereng perbukitan dan berdekatan dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ogan.

Baca juga: BPBD OKU Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem Tiga Hari ke Depan, Hujan Deras Disertai Petir

Selain melakukan pemetaan wilayah rawan, Pemerintah Kabupaten OKU juga telah menetapkan status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor untuk menghadapi musim hujan tahun ini.

Penetapan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mempercepat penanganan apabila terjadi bencana. Status siaga darurat tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati OKU Nomor 300.2.3/521/KPTS/XLIV.1/2025 tertanggal 29 Oktober 2025 tentang penetapan status siaga darurat bencana banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.

Dalam status siaga darurat ini, BPBD OKU meningkatkan kapasitas personel penanggulangan bencana guna mengantisipasi dampak cuaca ekstrem dan mencegah jatuhnya korban jiwa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved