Berita Selebriti

Lama Tak Muncul, Begini Kabar Terbaru Budayawan Cak Nun, Noe Letto sang Anak Minta Tak Diganggu

Kabar terbaru budayawan dan tokoh Maiyah, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, setelah lama tak terdengar namanya, ternyata kini tengah

Tayang:
Penulis: Laily Fajrianty | Editor: Weni Wahyuny
Instagram/Cak Nun
ISTIRAHAT - Penggagas jemaah Maiyah Mocopat Syafaat, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Kini kondisi terbarunya diungkap sang anak. 

Cak Nun adalah anak keempat dari 15 bersaudara. Tokoh asal Jombang tersebut pernah menikah dengan Neneng Suryaningsih pada 1978 dan berpisah pada 1985. Ia kemudian menikah dengan Novia Kolopaking pada 1997.

Dari pernikahannya, Cak Nun dikaruniai lima orang anak, yakni Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto), Ainayya Al-Fatihah, Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah, dan Anayallah Rampak Mayesha.

Riwayat Pendidikan

Pendidikan dasar Cak Nun ditempuh di Jombang dan diselesaikan pada 1965. Ia kemudian melanjutkan ke SMP Muhammadiyah di Yogyakarta. Setelah itu, Cak Nun sempat menimba ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, meski tidak menyelesaikan pendidikannya di sana.

Ia diketahui keluar dari Gontor setelah memimpin aksi demonstrasi terhadap kebijakan pimpinan pondok yang menurutnya kurang tepat.

Usai meninggalkan Gontor, Cak Nun kembali ke Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta hingga lulus pada 1971.

Setelah lulus SMA, Cak Nun sempat tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun, pendidikannya di perguruan tinggi itu hanya berlangsung hingga semester pertama.

Jejak Karier dan Aktivitas

Dalam perjalanan hidupnya, Cak Nun diketahui pernah menjalani kehidupan menggelandang selama sekitar lima tahun, dari 1970 hingga 1975. Pada masa tersebut, ia banyak belajar sastra dari sosok sufi misterius yang sangat ia kagumi, Umbu Landu Paranggi, yang memberikan pengaruh besar dalam kehidupannya.

Karier jurnalistik Cak Nun dimulai pada 1970 sebagai pengasuh rubrik sastra di Harian Masa Kini, Yogyakarta. Ia kemudian melanjutkan kiprahnya sebagai wartawan dan redaktur di media yang sama hingga 1976.

Selain aktif menulis puisi dan kolom di berbagai media, Cak Nun juga telah menghasilkan sekitar 30 buku esai. Di bidang seni pertunjukan, ia memimpin Teater Dinasti Yogyakarta serta grup musik Kiai Kanjeng, yang hingga kini masih aktif.

Beragam karya teater dan sastra lahir dari tangan Cak Nun, di antaranya Geger Wong Ngoyak Macan, Patung Kekasih, Keajaiban Lik Par, dan Mas Dukun, yang banyak mengangkat kritik sosial dan politik.

Ia juga terlibat dalam berbagai pementasan besar bersama Teater Salahudin, serta aktif mengikuti forum internasional seperti lokakarya teater di Filipina dan International Writing Program di Amerika Serikat.

Pada era 1990-an, Cak Nun menggagas forum Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki, sebuah ruang dialog budaya dan kemanusiaan yang terbuka dan nonpartisan. Hingga kini, ia masih rutin berkeliling bersama Kiai Kanjeng dan komunitas Padhangmbulan.

Dalam setiap forum, Cak Nun kerap mengajak masyarakat membongkar cara berpikir lama, memperbaiki pola komunikasi, serta mencari solusi atas persoalan sosial secara kultural dan spiritual.

Meski sering mengisi pengajian, Cak Nun menolak disebut sebagai kiai. Ia lebih nyaman dikenal sebagai seniman dan pemikir, bersama sang istri Novia Kolopaking.

Baca berita Tribunsumsel.com lainnya di Google News  

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

Sebagian Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved