Idul Fitri

Kumpulan Khutbah Idul Fitri yang Membuat Jamaah Menangis 2026, Tersedia PDF

Kumpulan Khutbah Idul Fitri yang Membuat Jamaah Menangis 2026, tersedia PDF referensi bagi khatib atau siapapun membutuhkan.

Tayang:
Penulis: Vanda Rosetiati | Editor: Vanda Rosetiati
Tribunsumsel.com/Grafis/Vanda Rosetiati
KHUTBAH IDUL FITRI - Grafis ilustrasi kumpulan khutbah Idul Fitri yang membuat jamaah menangis 2026. Khutbah Idul Fitri ini membahas tentang mempertahankan amal ibadah setelah bulan Ramadan. 

"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al Baqarah: 185)
Yang kedua agar umat Islam merayakan hari kemenangan ini dengan rasa bahagia dan senang, namun masih dalam batas-batas syariat Islam. Berpakaian sesuai syari, berakhlak karimah dan tidak berlebihan dalam menghamburkan harta (mubadzir).

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat al-Maidah:


قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ
وَأَضَلُّوا

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus" (Qs. Al Maidah: 77)

Itulah dua tujuan Allah menjadikan hari raya Idul Fitri untuk kaum muslimin. Jamaah yang ada di sini wajib memperhatikan dan menjaganya supaya Idul Fitri kita lebih berkah berbuah pahala.

2. Isi Khutbah Idul Fitri Singkat dan Sedih

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar Walillah Ilham..

Sungguh bulan Ramadhan adalah musim yang sangat agung untuk membiasakan diri dalam ketaatan dan berlomba lomba dalam kebaikan. Akan tetapi sekarang Ramadhan telah meninggalkan kita dan ia akan menjadi saksi di hadapan Allah ta'ala atas segala yang telah kita lakukan di bulan tersebut. Tidak ada yang tersisa sedikitpun dari bulan Ramadan kecuali catatan amal yang akan diperlihatkan pada hari kiamat nanti.

Ibarat seorang pedagang yang telah menyelesaikan perniagaannya, dia akan menghitung berapa keuntungan dan kerugian yang ia dapatkan. Begitu pula dengan kita hari ini, setelah menyelesaikan rutinitas ibadah puasa kini saatnya bermuhasabah dan merenung apakah amalan kita di bulan puasa diterima Allah atau tidak.

Ma'asyiral mislimin wal muslimat Rahimakumullah,

Ketahuilah bahwa diterima atau tidaknya suatu amalan ditandai oleh amal shalih yang berkelanjutan. Ada sebuah ungkapan yang disampaikan oleh para ulama seperti Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Qur'an Al Azim di tafsir surat al-Lail, diungkapkan juga oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Latif Latif Al Ma'arif,

إِنَّ مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةَ بَعْدَهَا، وَإِنَّ مِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ بَعْدَهَا

"Sesungguhnya diantara balasan amalan kebaikan adanya kebaikan selanjutnya dan diantara balasan amalan keburukan adanya amalan kejelekan setelahnya"

Sehingga sangat disayangkan jika ada seorang muslim yang meninggalkan amal shalih setelah bulan Ramadan. Seolah olah mereka tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja.

Syaikh Abdul Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafudzahullah menyampaikan dalam Khutbahnya yang sangat mengharukan:

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved