Berita Palembang
Pengamat Sebut Kenaikan BI Rate Efektif Tekan Dolar Namun Membebani Masyarakat
Kebijakan pemerintah melalui Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate merupakan angkah efektif untuk menahan laju penguatan dolar
Penulis: Hartati | Editor: Kharisma Tri Saputra
Ringkasan Berita:
- Pengamat Ekonomi Universitas Sriwijaya menilai kenaikan suku bunga acuan efektif menstabilkan Rupiah
- Tapi imbasnya memberatkan masyarakat sementara waktu
- Harus berkorban bersakit-sakit dahulu baru rasakan nilai tukar Rupiah menguat kembali
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG – Pengamat Ekonomi Universitas Sriwijaya, Dr Sukanto, menilai kebijakan pemerintah melalui Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate merupakan langkah efektif untuk menahan laju penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang saat ini telah menembus Rp18.000 per dolar AS.
Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan dapat meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia. Investor asing dinilai akan lebih tertarik menempatkan dananya karena imbal hasil yang diperoleh menjadi lebih menguntungkan.
Ia menjelaskan, apabila suku bunga tidak dinaikkan, investor berpotensi menarik modalnya dari Indonesia. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, di sisi lain, kebijakan tersebut berbarengan dengan kenaikan harga Pertamax yang dipicu melemahnya nilai tukar rupiah.
Sukanto menilai hal itu menjadi tantangan besar bagi pemerintah karena sebagian kebutuhan BBM masih bergantung pada impor yang transaksinya menggunakan dolar AS.
"Salah satu bukti perkasanya dolar membuat biaya impor BBM naik sehingga harga BBM naik dan memicu kontra di masyarakat," kata Sukanto kepada reporter Tribunsumsel.com, Minggu (14/6/2026).
Akibatnya, pelemahan rupiah berdampak langsung pada kenaikan harga BBM. Kondisi ini dikhawatirkan memicu gejolak di masyarakat, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah yang menjadi mayoritas dan selama ini menjadi penggerak utama roda perekonomian nasional.
Sukanto mengatakan belum dapat dipastikan berapa lama kebijakan kenaikan suku bunga dapat menekan nilai tukar dolar terhadap rupiah.
Meski demikian, ia mencontohkan pengalaman pada masa pemerintahan B. J. Habibie yang dinilai berhasil menurunkan nilai tukar dolar secara signifikan.
"Keberhasilan ini bisa diulangi lagi, tetapi memang harus berkorban dulu atau bersakit-sakit dahulu dengan pro dan kontra di masyarakat. Setelah itu, barulah menikmati hasilnya agar nilai tukar rupiah stabil," tambahnya.
Pemerintah Harus Pertimbangkan Imbas Kenaikan Harga BBM
Ia memperkirakan dampak kenaikan harga BBM dapat memicu gejolak dan penolakan masyarakat dalam satu hingga dua bulan ke depan karena efek berantai yang ditimbulkan membuat masyarakat semakin terbebani.
Karena itu, pemerintah dinilai tidak hanya perlu fokus menekan penguatan dolar terhadap rupiah, tetapi juga harus menyiapkan solusi bagi masyarakat yang terdampak, khususnya kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.
Sukanto menilai apabila nilai tukar rupiah kembali menguat, harga BBM berpeluang disesuaikan sebagai langkah meredam kontra di masyarakat sekaligus menjadi bukti keberhasilan dalam menstabilkan nilai tukar rupiah.
Harga Pertamax yang saat ini mencapai Rp16.650 per liter di wilayah Sumatera bagian selatan diperkirakan dapat turun hingga sekitar Rp14.000 per liter.
Meski demikian, ia mengakui harga yang sudah terlanjur naik umumnya sulit kembali ke level semula.
Namun setidaknya, penyesuaian harga dapat dilakukan agar tidak terlalu membebani masyarakat.
Ia berharap kebijakan kenaikan BI Rate dapat segera berdampak terhadap penguatan rupiah sehingga efek negatif yang dirasakan masyarakat dapat diminimalkan, termasuk membuka peluang penyesuaian kembali harga BBM yang telah mengalami kenaikan.
Pelaku Usaha Makin Sulit Berkembang Saat Suku Bunga Naik
Dampak kenaikan suku bunga acuan BI juga dinilai akan mempersulit pelaku usaha untuk berkembang.
Pelaku usaha diperkirakan tidak akan langsung kolaps. Namun, setidaknya mereka akan memilih bertahan untuk sementara waktu. Akibatnya, pelaku usaha yang semula berencana membuka cabang baru bisa menunda ekspansi atau mengurungkan niat mengajukan pembiayaan ke bank.
Bukan hanya pelaku usaha dan UMKM yang merasakan dampak langsung kenaikan suku bunga, tetapi juga masyarakat secara umum. Misalnya, debitur kredit perumahan akan turut merasakan dampaknya karena kenaikan suku bunga acuan tersebut.
Dengan demikian, nilai angsuran bulanan berpotensi ikut menyesuaikan kenaikan suku bunga acuan sehingga cicilan kepada bank juga dapat meningkat.
(tnf)
| Sosok Bripda F, Anggota Polres Muratara yang Hamili Pacar & Suruh Aborsi, Kasusnya Ditangani Propam |
|
|---|
| Resahkan Warga, 2 Sahabat Spesialis Curanmor di Palembang Ditangkap Polisi |
|
|---|
| Pacaran Dengan Janda, Pemuda di Palembang Babak Belur Dianiaya Oleh Mantan Suaminya |
|
|---|
| Pemkot Resmikan CFD Palembang di Jembatan Ampera, Jadi Ruang Olahraga dan UMKM Warga |
|
|---|
| Nyaris Dihakimi Warga, Pencuri Mesin Penggiling Ikan di Jakabaring Ditangkap |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/spbu-bbm-kosong.jpg)