Berita Palembang

BI Sumsel Jelaskan Alasan Suku Bunga Naik, Sebut Demi Perkuat Rupiah dan Tarik Investor Asing

Kepala Perwakilan BI Sumsel memaparkan alasan di balik kenaikan BI Rate menjadi 5,50%.

Tayang:
Penulis: Hartati | Editor: Shinta Dwi Anggraini
Dokumentasi/BI Sumsel
SUKU BUNGA NAIK -- Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel Bambang Pramono memaparkan alasan BI menaikkan suku bunga acuan. 
Ringkasan Berita:
  • Kepala Perwakilan BI Sumsel memaparkan alasan di balik kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen.
  • Dikatakan, langkah tersebut guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dan mendorong masuknya aliran investasi asing.
  • BI menyiapkan 4 langkah strategis menjaga stabilitas rupiah.

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono menyampaikan terkait perkembangan ekonomi terkini baik pada level global, nasional, maupun regional.

“Kami optimis dan akan all out memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk mendukung upaya stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Bambang, Kamis (11/6/2026).

Selain itu, Bambang juga memaparkan alasan di balik kenaikan BI Rate menjadi 5,50 % .

Ia menjelaskan bahwa Bank Indonesia memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing.

Selain itu, untuk mendukung kebijakan kenaikan BI Rate tersebut, BI juga menempuh langkah-langkah strategis penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan imbal hasil dan sejumlah insentif lain dalam operasi moneter bagi masuknya aliran investasi asing sebagai berikut:

  1. Kenaikan struktur suku bunga SRBI pada seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan untuk semakin meningkatkan imbal hasil bagi masuknya investasi portofolio asing. Kenaikan struktur suku bunga SRBI dimaksud dilakukan sesuai mekanisme pasar dan untuk menjadikan investasi portofolio di Indonesia tetap kompetitif dengan negara lain.
  2. Pemberian insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai bagi investor asing sebesar 10 % untuk semakin meningkatkan daya tarik masuknya investor asing serta mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor. Sebagaimana diketahui, selama ini Bank Indonesia memberikan fasilitas swap lindung nilai bagi masuknya investasi asing melalui bank-bank di Indonesia yang kemudian meneruskan kepada Bank Indonesia. Sementara itu, penentuan tingkat swap yang reguler tetap harus diberikan Bank Indonesia sesuai mekanisme pasar yang berlaku.
  3. Pembukaan kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor-tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan guna memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan sasaran agar pertumbuhan Uang Primer ($M_0$) tetap double digit (di atas 10 % ). Perluasan fasilitas repo ini akan menjadi instrumen utama dalam pengelolaan likuiditas moneter dibandingkan dengan mekanisme lain, termasuk melalui pembelian SBN dari pasar sekunder yang selama ini ditempuh Bank Indonesia.
  4. Peningkatan intensitas operasi moneter baik rupiah maupun valuta asing untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Penguatan operasi moneter rupiah ditempuh dengan pembukaan lelang SRBI dua kali seminggu. 

Sementara itu, penguatan operasi moneter valuta asing terus dilakukan dengan meningkatkan intensitas intervensi baik melalui transaksi spot dan DNDF di pasar domestik maupun transaksi NDF di pasar luar negeri.

Dalam paparannya, Bambang Pramono turut menyampaikan bahwa di tengah berbagai tantangan global, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang baik.

Sumatera Selatan juga konsisten memperlihatkan kinerja ekonomi yang positif, tercermin dari pertumbuhan ekonominya pada triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 5,34 % (yoy), inflasi yang masih terjaga sesuai sasaran inflasi nasional, pertumbuhan DPK pada triwulan II 2026 sebesar 7,03 % (yoy) dan pertumbuhan kredit pada triwulan II 2026 sebesar 10,54 % (yoy), dan digitalisasi sistem pembayaran Sumatera Selatan yang terus menunjukkan kinerja yang positif.

Ekonomi Sumatera Selatan diproyeksikan tumbuh sebesar 5,00 % –5,80?ngan inflasi yang berkisar di rentang sasaran 2,5 +- 1 % pada 2026.

 

Baca artikel menarik lainnya di Google News

Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp TribunSumsel.com

Sumber: Tribun Sumsel
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved