Bus ALS Kecelakaan di Muratara

Firasat Gusti Ayah Sopir Serep Bus ALS Sebelum Anak Tewas Kecelakaan di Muratara, Seminggu Teringat

Saat ditemui di Rumah Sakit Bhayangkara, Gusti menceritakan sejumlah firasat yang ia alami sepekan sebelum musibah merenggut nyawa putranya.

Tayang:
Penulis: Aggi Suzatri | Editor: Shinta Dwi Anggraini
Dokumentasi/Tribun Sumsel/Saksi Kata
AYAH KORBAN BUS- Gusti Pulungan (66), ayah dari Zulham Efendi alias Maleh (42), kru bus ALS yang menjadi korban tewas dalam kecelakaan maut di Muratara. Dalam mimpinya, ia melihat salah satu anak lainnya meninggal dunia. 

Ringkasan Berita:
  • Gusti Pulungan (66), ayah dari kru bus ALS Zulham Efendi alias Maleh (42), mengungkap firasat sebelum anaknya jadi korban tewas kecelakaan di Muratara.
  • Gusti  sempat bermimpi buruk yang ia yakini sebagai pertanda. Dalam mimpinya, ia melihat salah satu anak lainnya meninggal dunia.
  • Maleh sendiri diketahui sudah cukup lama bekerja di jalanan sebagai kru bus ALS. Meski ayahnya mengira ia masih menjadi kernet, informasi terbaru Maleh sudah bertugas sebagai sopir kedua.

TRIBUNSUMSEL.COM - Kesedihan mendalam menyelimuti Gusti Pulungan (66), ayah dari Zulham Efendi alias Maleh (42), kru bus ALS yang menjadi korban tewas dalam kecelakaan maut di Muratara.

Saat ditemui di Rumah Sakit Bhayangkara, Gusti menceritakan sejumlah firasat yang ia alami sepekan sebelum musibah tersebut merenggut nyawa putranya.

Gusti mengaku bahwa selama satu minggu terakhir, pikirannya tidak bisa lepas dari sosok Maleh.

"Memang seminggu ini saya ingat terus dia. Biasanya kalau tidak menelepon tidak ingat, tapi ini sedang makan pun teringat dia," ungkap Gusti kepada Tribunsumsel.com, Jumat (8/5/2026).

Baca juga: Tiba di RS Bhayangkara Palembang, Jumiatun Korban Kecelakaan Bus ALS Muratara Dirawat di ICU

Selain perasaan rindu yang tidak biasa, Gusti juga sempat bermimpi buruk yang ia yakini sebagai pertanda. Dalam mimpinya, ia melihat salah satu anak lainnya meninggal dunia.

Meskipun dalam mimpi tersebut bukan Maleh yang pergi, Gusti merasa itu adalah firasat akan adanya duka besar yang akan menimpa keluarganya.

"Saya bermimpi melihat adiknya doang meninggal dunia di dalam mimpi itu. Pas saya lihat, saya marah-marah dipanggil ibunya sampai memukul tembok, ternyata itu hanya mimpi. Saya tidak menyangka itu pertanda duka untuk kakaknya," ujarnya teringat mimpi.

Gusti sendiri tidak bisa berbuat banyak ataupun mencari kabar anaknya lantaran Maleh tidak memiliki ponsel.

Gusti mengenang pertemuan terakhir mereka sekitar tiga tahun lalu di Bogor, di mana mereka sempat makan bersama meski hanya sebentar.

"Dia ngomongnya, 'Ayah sehat-sehat aja, jaga kesehatan', udah gitu aja," ujar Gusti.

Baca juga: Gagal Seleksi Kerja ke Luar Negeri, Bakhrul Ulum Tewas Dalam Bus ALS Saat Hendak Merantau Ke Padang

Sepekan pasca mimpi buruk itu, Gusti baru mendapat kabar duka tersebut melalui telepon dari kerabatnya di Medan.

Awalnya, informasi tersebut masih simpang siur, namun kepastian datang setelah rekan sesama sopir ALS mengonfirmasi bahwa Maleh ikut menjadi korban tewas akibat kecelakaan bus di Muratara.

Mendengar kabar tersebut, Gusti langsung bergegas dari kediamannya di Bogor menuju Palembang demi menjemput jenazah putranya.

Setibanya di RS Bhayangkara, ia menjalani pengambilan sampel DNA melalui air liur untuk proses identifikasi jenazah.

Maleh sendiri diketahui sudah cukup lama bekerja di jalanan sebagai kru bus ALS. Meski ayahnya mengira ia masih menjadi kernet, informasi terbaru menyebutkan bahwa Maleh sudah bertugas sebagai sopir kedua.

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved