Berita Palembang

Puncak Kemarau Agustus 2026, 1.600 Personel Gabungan Disiagakan Hadapi Ancaman Karhutla di Sumsel

Apel Kesiapsiagaan Personel dan Peralatan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Sumatera Selatan

Tayang:
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Moch Krisna
Tribunsumsel.com/Linda Trisnawati
Hadapi Musim Kemarau - Foto bersama usai Apel Kesiapsiagaan Personel dan Peralatan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Sumatera Selatan serta reaktivasi Desk Karhutla Nasional Tahun 2026 di Halaman Griya Agung, Rabu (6/5/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Sumsel menyiagakan 1.600 personel dan mereaktivasi Desk Karhutla Nasional untuk menghadapi puncak kemarau Agustus 2026 dan fenomena El Niño.
  • Ketua Umum APHI menegaskan bahwa kesiapan personel dan peralatan di lapangan harus berfungsi optimal, bukan sekadar pemenuhan syarat administratif.
  • APHI Sumsel mengoptimalkan Regu Penanggulangan Kebakaran (RPK) dan pemanfaatan teknologi deteksi dini guna mencegah kebakaran meluas.

 


TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Apel Kesiapsiagaan Personel dan Peralatan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Sumatera Selatan serta reaktivasi Desk Karhutla Nasional Tahun 2026 menjadi langkah antisipasi menghadapi musim kemarau tahun ini.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indonesia saat ini telah memasuki musim kemarau dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Selain itu, fenomena El Niño diprediksi akan menyebabkan musim kemarau menjadi lebih kering dan panjang, sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Kegiatan apel siaga ini dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, dan diikuti sekitar 1.600 personel dari TNI, Polri, BPBD, instansi pemerintah, kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA), serta dunia usaha.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Soewarso, menegaskan bahwa seluruh pelaku usaha kehutanan harus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi Karhutla. Langkah pencegahan perlu dilakukan secara maksimal melalui penguatan patroli terpadu, optimalisasi peran MPA, serta peningkatan koordinasi lintas sektor.

"Kesiapsiagaan di lapangan harus benar-benar nyata, bukan sekadar administratif. Semua unit kerja harus memastikan personel, peralatan, dan sistem respons cepat dalam kondisi siap digunakan setiap saat,” kata Soewarso, Rabu (6/5/2026).

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan frekuensi patroli dan pemantauan di titik-titik rawan sebagai bagian dari strategi deteksi dini. Menurutnya, keberhasilan pencegahan sangat bergantung pada kuatnya kolaborasi di tingkat lapangan.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan sinergi yang kuat antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat agar upaya pencegahan ini efektif dan berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komisariat Daerah (Komda) APHI Sumatera Selatan, Iwan Setiawan, menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong anggota untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Upaya tersebut juga mencakup sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

“Anggota APHI di Sumatera Selatan telah mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki, mulai dari Regu Penanggulangan Kebakaran (RPK), peralatan dan mesin pemadaman, kendaraan patroli, hingga sarana dan prasarana pendukung lainnya. Pemanfaatan teknologi juga terus ditingkatkan untuk deteksi dini, sehingga kebakaran dapat dikendalikan sebelum meluas,” kata Iwan.

Partisipasi APHI dalam Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Karhutla Nasional ini menunjukkan komitmen untuk mendukung pemerintah dalam upaya pencegahan Karhutla. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, diharapkan lingkungan dapat terlindungi dari ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Sumber: Tribun Sumsel
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved