Dokter Internship RSUD Meninggal Dunia

Berduka, dr. Gia Pratama Soroti Meninggalnya dr. Myta Dokter Internship: Sakitmu Harus Didengar

"Lelahmu Valid, Sakitmu Harus Didengar" Dalam tulisannya, dr. Gia menekankan bahwa para dokter internsip bukanlah mesin yang bisa bekerja tanpa batas

Tayang:
Penulis: Putri Kusuma Rinjani | Editor: Weni Wahyuny
Instagram/ @giapratamamd
BERDUKA - dr. Gia Pratama bagikan unggahan menyentuh lewat laman instagram pada Sabtu (2/5/2026) menyoroti kasus wafatnya dr. Myta Aprilia akibat kelelahan bekerja sebagai dokter internship di RSUD KH Daud Arif, Jambi. 

Ringkasan Berita:
  • dr. Gia Pratama menegaskan bahwa lelah dan sakit dokter internsip adalah hal valid yang wajib didengar oleh manajemen rumah sakit.
  • Ia menuntut jam kerja manusiawi, supervisi layak, dan lingkungan aman, menegaskan dokter muda bukanlah tenaga kerja murah atau mesin jaga.
  • Kepergian dr. Myta diharapkan menjadi duka yang menggerakkan perbaikan sistem, bukan sekadar berita viral yang cepat terlupakan.

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Kepergian dr. Myta Aprilia Azmi, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri) yang wafat saat menjalani masa internship, memicu keprihatinan mendalam dari praktisi kesehatan sekaligus penulis kenamaan, dr. Gia Pratama.

Melalui unggahan di laman instagram pribadinya @giapratamamd (2/5/2026) dr. Gia menyampaikan pesan terbuka yang sangat menyentuh sekaligus menjadi kritik keras terhadap sistem perlindungan tenaga medis muda di Indonesia.

"Lelahmu Valid, Sakitmu Harus Didengar"

Dalam tulisannya, dr. Gia menekankan bahwa para dokter internship bukanlah mesin yang bisa bekerja tanpa batas. 

Ia menyoroti bagaimana pengabdian seringkali dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan pribadi sang dokter.

"Untuk teman-teman dokter internship, lelahmu valid. Sakitmu harus didengar. Keselamatanmu harus dijaga," tulis dr. Gia dalam unggahan yang dikutip pada Sabtu (2/5/2026).

Menurutnya, dokter muda yang tengah menjalani masa internship adalah manusia yang sedang belajar mengabdi, namun tetap memiliki batasan fisik. 

Baca juga: dr Myta Aprilia Meninggal Usai Dipaksa Kerja Saat Sakit, Zulkahiri Ali: Manusia Punya Keterbatasan

Ia menegaskan bahwa status dokter muda bukan berarti mereka bisa diperlakukan sebagai tenaga kerja murah.

Lebih lanjut, dr. Gia merinci poin-poin krusial yang seharusnya menjadi hak dasar bagi setiap dokter yang bertugas di wahana internsip maupun rumah sakit mana pun.

"Teman-teman bukan tenaga kerja murah dan bukan mesin jaga. Jam kerja yang manusiawi, supervisi yang layak, lingkungan kerja yang aman, dan penanganan medis saat sakit; semua itu adalah hak dasar," tegasnya.

Pernyataan ini seolah memvalidasi keresahan publik terkait kabar bahwa dr. Myta Aprilia diduga tetap diminta bekerja meski kondisi kesehatannya sedang menurun sebelum akhirnya kritis dan meninggal dunia.

dr. Gia Pratama berharap tragedi yang menimpa dr. Myta tidak hanya menjadi berita viral yang kemudian terlupakan begitu saja.

Ia mendorong agar peristiwa memilukan ini menjadi momentum perubahan nyata bagi kebijakan kesehatan nasional.

"Semoga kepergian dr. Myta Aprilia menjadi duka yang menggerakkan. Bukan kabar yang ramai sehari lalu hilang ditelan lini masa," ungkapnya.

Di akhir pesannya, dr. Gia menyampaikan doa mendalam dan ucapan selamat jalan bagi sejawatnya tersebut. 

"Selamat jalan, dr. Myta Aprilia Azmi. Al-Fatihah." tutupnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved