Karhutla Sumsel
Sumsel Siaga Kemarau 2026 Lebih Kering dan Lama, Herman Deru Tegaskan Antisipasi Karhutla
Prediksi musim kemarau 2026 lebih kering dan panjang harus dijadikan sebagai alarm dini memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla.
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Shinta Dwi Anggraini
Ringkasan Berita:
- Gubernur Sumsel, Herman Deru, menegaskan prediksi musim kemarau 2026 lebih kering dan panjang harus dijadikan sebagai alarm dini memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla.
- BMKG memperingatkan adanya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang akan memicu puncak kekeringan pada Agustus dengan curah hujan di bawah normal.
- Strategi penanganan difokuskan pada penguatan mitigasi, penindakan, dan pemulihan.
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan (Sumsel) memprediksi musim kemarau di tahun 2026 akan lebih awal, kering, dan panjang dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk itu, Gubernur Sumsel, Herman Deru, menegaskan bahwa prediksi musim kemarau kering harus dijadikan sebagai alarm dini untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan, kebun, dan lahan (karhutbunla) di Sumatera Selatan pada 2026.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutbunla di Auditorium Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Jumat (24/4/2026).
Menurut Deru, informasi dari BMKG harus dimaknai sebagai dasar dalam menyusun strategi pencegahan, bukan sebagai hal yang menakutkan.
Ia menilai kesamaan persepsi antar-pemangku kepentingan menjadi kunci agar penanganan karhutla lebih efektif dan terarah.
Ia menegaskan, karhutla merupakan persoalan serius yang berdampak luas, terutama terhadap kesehatan masyarakat.
Pengalaman Sumatera Selatan yang pernah mengalami Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di atas ambang batas dalam waktu lama menjadi pelajaran penting untuk meningkatkan kewaspadaan.
Pemerintah, lanjutnya, perlu menyediakan informasi kualitas udara secara terbuka agar masyarakat dapat mengambil langkah perlindungan, seperti menggunakan masker saat kondisi udara memburuk.
“Karhutla ini kita hadapi setiap tahun. Konsepnya bisa berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu pencegahan. Karena itu, kesamaan persepsi menjadi sangat penting,” ujarnya.
Herman Deru juga mengapresiasi Satgas Karhutla, Forkopimda, pemerintah daerah, serta pihak perusahaan atas komitmen dalam penanganan karhutla.
Ia menekankan bahwa periode kemarau yang diprediksi mulai Mei hingga puncaknya pada Agustus harus dimanfaatkan untuk memetakan wilayah rawan serta meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.
Ia berharap pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi kesadaran kolektif masyarakat.
Sementara itu, Koordinator BMKG Provinsi Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengungkapkan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal dengan intensitas kekeringan yang lebih tinggi.
“Mulai Mei kita sudah memasuki musim kemarau, dengan puncak yang sangat kering dan curah hujan di bawah normal,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) pada semester kedua akan memperparah kondisi tersebut, karena uap air cenderung bergerak ke arah Samudra Hindia dan Afrika.
“Saat ini masih puncak musim hujan, namun dalam waktu dekat kita akan memasuki musim kemarau dengan peningkatan suhu udara,” ujarnya.
Menurutnya, hingga September curah hujan diperkirakan tetap berada pada kategori rendah.
Sementara itu, Danrem 044/Gapo, Brigjen TNI Khabib Mahfud, selaku Danops Karhutbunla Wilayah Sumsel menambahkan bahwa sejumlah wilayah kabupaten di Sumatera Selatan tergolong rawan karhutla, sebagaimana terlihat dari peningkatan hotspot pada 2023 akibat El Nino.
“Saat ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah menetapkan status siaga darurat melalui Keputusan Gubernur tertanggal 22 April 2026,” katanya.
Ia menjelaskan, strategi penanganan karhutla dilakukan melalui tiga tahapan, yakni mitigasi, penindakan, dan pemulihan.
Mitigasi meliputi patroli terpadu, sosialisasi, dan pengaktifan posko desa.
Penindakan mencakup kesiapan pemadaman darat dan udara, termasuk water bombing.
Sementara itu, pemulihan difokuskan pada rehabilitasi lahan dan pemulihan ekosistem.
Melalui rapat koordinasi ini, seluruh pihak diharapkan dapat mengidentifikasi permasalahan di wilayah masing-masing serta menyusun langkah konkret dalam pencegahan karhutla secara terpadu dan berkelanjutan.
Baca artikel menarik lainnya di Google News
Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel
| Pemkab Ogan Ilir Tetapkan Status Siaga Darurat Karhutla hingga November 2026 |
|
|---|
| Pemprov Sumsel Resmi Tetapkan Siaga Karhutla Hingga 30 November 2026 |
|
|---|
| Cegah Kabut Asap Selimuti Tol Indralaya-Prabumulih, Kebakaran Lahan di Payaraman Dipadamkan |
|
|---|
| Meski Diguyur Hujan Terus Tapi Kebakaran Lahan Masih Terjadi di Ogan Ilir, Disebut Akibat Ulah Warga |
|
|---|
| Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, Pemkab OKI Dapat Bantuan Rp1,5 Miliar Antisipasi Karhutla |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Prediksi-Kemarau-Kering-Jadi-Alarm-Dini-Kesiapsiagaan-Karhutla-di-Sumsel.jpg)