Karhutla Sumsel
Meski Diguyur Hujan Terus Tapi Kebakaran Lahan Masih Terjadi di Ogan Ilir, Disebut Akibat Ulah Warga
Bagus menekankan pentingnya peran aktif seluruh pihak, terutama pemerintah desa dan masyarakat dalam upaya pencegahan kebakaran.
Penulis: Agung Dwipayana | Editor: Slamet Teguh
Ringkasan Berita:
- Kapolres Ogan Ilir menyebut kebakaran lahan sebagian besar disebabkan ulah warga, baik sengaja maupun lalai.
- Meski masih sering hujan, kebakaran tetap terjadi di beberapa wilayah rawan seperti Indralaya Utara dan Pemulutan.
- Polisi bersama Satgas terus siaga dan memantau titik api, terutama menjelang musim kemarau yang diprediksi mulai Mei–Juni.
TRIBUNSUMSEL.COM, INDRALAYA - Kapolres Ogan Ilir AKBP Bagus Suryo Wibowo menyebut sebagian besar kasus kebakaran lahan di Ogan Ilir disebabkan oleh ulah warga, baik disengaja maupun akibat kelalaian.
Bagus menekankan pentingnya peran aktif seluruh pihak, terutama pemerintah desa dan masyarakat dalam upaya pencegahan kebakaran.
“Penanganan kebakaran lahan tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada kolaborasi dari semua pihak, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten,” kata Bagus di Mapolres Ogan Ilir, Selasa (14/4/2026).
Dalam beberapa waktu belakangan, Ogan Ilir terus diguyur hujan dengan intensitas cukup tinggi.
Namun kebakaran lahan tetap melanda.
Khususnya di daerah rawan seperti Kecamatan Indralaya Utara dan Pemulutan.
Seperti kebakaran di wilayah Desa Palem Raya, Kecamatan Indralaya Utara.
Baca juga: Kemarau 2026 Diprediksi Akhir Mei, 3 Kabupaten di Sumsel Ajukan Status Siaga Karhutla
Baca juga: Waspadai 8 Ancaman Bencana, Dari Banjir Hingga Karhutla, OKI Susun Peta Risiko 5 Tahun ke Depan
Informasi dari Satgas Karhutla, kebakaran berlangsung selama sembilan jam mulai Selasa (7/4/2026) siang pukul 12.00 hingga malam pukul 21.10.
"Lahan yang terbakar Selasa pekan kemarin luasnya kurang lebih 10 hektar. Namun akhirnya bisa ditanggulangi," terang Bagus.
Area kebakaran berjarak hanya beberapa puluh meter dari ruas Tol Palembang-Indralaya (Palindra).
Bagus menjelaskan, berdasarkan prediksi BMKG, diperkirakan musim kemarau di Sumatera Selatan termasuk Ogan Ilir terjadi pada Mei hingga Juni mendatang.
"Adapun puncak kemarau terjadi pada Juli hingga Agustus. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, terutama di wilayah rawan seperti lahan gambut dan daerah sulit akses," papar Bagus.
Meski belum masuk musim kemarau, titik panas dan titik api terus dipantau oleh Tim Satgas guna mencegah potensi kebakaran.
"Tim Satgas akan terus bersiaga dan melakukan pemantauan secara berkelanjutan di lahan rawan kebakaran," kata Bagus menegaskan.
Baca berita Tribunsumsel.com lainnya di Google News
Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com
| Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, Pemkab OKI Dapat Bantuan Rp1,5 Miliar Antisipasi Karhutla |
|
|---|
| Hadapi Musim Kemarau, Armada dan Alat Pemadam Kebakaran di Polres OKI Diperiksa, Pastikan Siap Pakai |
|
|---|
| Antisipasi Karhutla Jelang Musim Kemarau, Pemprov Sumsel Akan Gelar Apel Siaga Karhutla 22 April |
|
|---|
| Pasca Lebaran, Kini Polda Sumsel Bersiap Untuk Siaga Potensi Karhutla |
|
|---|
| Sebabkan 24 Haktare Lahan Terbakar di Sungai Rambutan Ogan Ilir, Diduga Sengaja Dibakar Masyarakat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Meski-Diguyur-Hujan-Terus-Tapi-Kebakaran-Lahan-Masih-Terjadi-di-Ogan-Ilir-Disebut-Akibat-Ulah-Warga.jpg)