Berita Palembang
Sepanjang 2026, Ditemukan 3.146 Kasus TBC di Sumsel, Penemuan Kasus Terus Ditingkatkan Dinkes
Meski demikian, peningkatan upaya penemuan kasus menunjukkan lebih banyak penderita berhasil dideteksi dan ditangani oleh layanan kesehatan.
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Slamet Teguh
Ringkasan Berita:
- Kasus TBC di Sumsel masih tinggi, dengan 24.748 kasus ditemukan dan diobati pada 2025, serta 3.148 kasus hingga Maret 2026.
- Palembang menjadi wilayah dengan temuan tertinggi, dipengaruhi kepadatan penduduk dan mobilitas tinggi.
- Dinkes Sumsel terus memperkuat penemuan kasus aktif dan kolaborasi untuk menekan penyebaran TBC.
Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan di Sumatera Selatan.
Meski demikian, peningkatan upaya penemuan kasus menunjukkan lebih banyak penderita berhasil dideteksi dan ditangani oleh layanan kesehatan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, pada tahun 2025 jumlah kasus TBC yang ditemukan dan diobati mencapai 24.748 kasus, dengan cakupan pengobatan (treatment coverage) sebesar 65,34 persen dari estimasi insiden.
Sementara hingga Maret 2026, telah ditemukan 3.148 kasus dengan cakupan sementara 9,68 persen, yang diperkirakan akan terus meningkat seiring intensifikasi penemuan kasus sepanjang tahun.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumsel, Ira Primadesa, mengatakan peningkatan penemuan kasus menjadi indikator penting dalam pengendalian TBC.
“Hal ini menunjukkan bahwa upaya penemuan kasus terus diperkuat sehingga lebih banyak pasien dapat segera diobati,” kata Ira, Jumat (10/4/2026).
Ia menjelaskan, kasus TBC paling banyak ditemukan di wilayah dengan jumlah penduduk besar dan mobilitas tinggi. Kota Palembang menjadi wilayah dengan temuan tertinggi, diikuti Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Muara Enim.
“Kondisi ini sejalan dengan karakteristik epidemiologi TBC yang berkaitan erat dengan kepadatan penduduk dan intensitas interaksi sosial di wilayah tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, kejadian TBC tidak dapat dilihat dari satu faktor saja. Berbagai kondisi turut berperan dalam meningkatkan risiko seseorang terpapar penyakit ini.
“Faktor yang berkontribusi bersifat multifaktor, mulai dari kondisi lingkungan tempat tinggal, kontak erat dengan pasien TBC aktif, penyakit penyerta seperti diabetes mellitus, hingga faktor sosial ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Ira menyebut, untuk mempercepat penemuan kasus, Dinas Kesehatan Sumsel terus memperkuat strategi Active Case Finding (ACF) secara masif di komunitas, didukung investigasi kontak secara intensif terhadap orang-orang yang pernah berinteraksi dekat dengan pasien TBC aktif.
“Selain itu, kami juga mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dan peran aktif masyarakat dalam mendukung upaya eliminasi TBC sesuai target nasional,” katanya.
Baca juga: Sepanjang 2025, Ada 2.329 Orang di OKI Terjangkit TBC, 870 Orang Diantaranya Sembuh
Baca juga: Sepanjang 2025, 922 Warga Lahat Mengidap TBC, Tingkat Kesembuhan Hanya 10 Persen
Berikut data 17 kabupaten/kota berdasarkan tabel “Capaian Treatment Coverage Tahun 2026”:
| Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono Pastikan Cadangan Beras di Sumsel Aman, Capai 98 Ribu Ton |
|
|---|
| Bukannya Disalurkan ke Para Petani di OKU, 10 Ton Pupuk Subsidi Malah Dijual Mahal di Muara Enim |
|
|---|
| Plea Bargain Diterapkan, Terpidana Penggelapan HP di Palembang Dihukum Kerja Sosial di RSUD Bari |
|
|---|
| 2 Wanita Pengedar dan Pemakai Narkoba di Palembang Ditangkap Polisi, Bukti 5 Gram Sabu Disita |
|
|---|
| Tampang 2 Sekawan Pelaku Begal di Palembang Ditangkap Polisi, Ngaku Sudah 10 Kali Beraksi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Tercatat-Ada-642-Kasus-TBC-di-Musi-Rawas-Sepanjang-Tahun-2024-Alami-Penurunan-Dibanding-2023.jpg)