Berita Palembang

Ekspor ke China dan Thailand Jadi Salah Satu Penyebab Harga Kelapa dan Santan di Sumsel Melejit

Tingginya permintaan ekspor kelapa ke China dan Thailand menjadi salah satu penyebab harga kelapa dan santan melejit. 

TRIBUNSUMSEL.COM/EKO HEPRONIS
HARGA SANTAN MELEJIT -- Salah satu pedagang kelapa santan di pasar tradisional Kota Lubuklinggau Sumsel, Sabtu (29/3/2025). Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Sumsel Ahmad Mirza buka suara terkait harga santan di Sumsel yang terus melejit, Senin (21/4/2025). 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Tingginya permintaan ekspor kelapa ke China dan Thailand menjadi salah satu penyebab harga kelapa dan santan melejit. 

Hal ini diungkap Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Sumsel Ahmad Mirza yang mengatakan, penyebab lain dari tingginya harga kelapa dan santan juga dipengaruhi karena produksi yang berkurang. 

"Jadi karena faktor alam seperti sebelumnya kemarau agak panjang, akibatnya produksi berukurang atau yang dikenal musim trek," kata Mirza saat dikonfirmasi, Senin (21/4/2025). 

Baca juga: Harga Santan di Palembang Tembus Rp 45 Ribu per Kg, Tetap Dicari Ibu-ibu

Selain itu, permintaan ekspor ke China dan Thailand sedang banyak.

Maka ketika permintaan banyak sedangkan produksi berkurang, akibatnya harga naik. 

"Idealnya harganya di bawah Rp 8 ribu, namun memang harganya sempat naik di atas Rp 8 ribu per buah. Tapi saat ini sudah berangsur-angsur turun, berdasarkan laporan yang ada sudah ada yang Rp 6.400 per buah," katanya

Menurut Mirza, harga masih fluktuatif.

Permintaan ekspor tinggi di China dan Thailand, karena mereka memerlukan banyak bahan baku kelapa yang cukup banyak. 

"Di Sumsel ini ada 50 ribu hektare lahan kelapa di Tanjung Api-Api, Banyuasin. Untuk memenuhi ekspor 1,1 juta ton per tahun. Kalau di rata-rata satu bulan tak sampai 100 ton, namun di bulan ini saja permintaan sudah hampir 200 ton," katanya. 

Menurut Mirza, memang banyak langkah-langkah yang bisa diambil untuk menekan harga seperti ekspor dikurangi.

Namun ada akibatnya, petani yang rugi dan berkurang pendapatan. 

"Untuk sementara ini belum ada diambil langkah-langkah, karena faktor utamanya produksi buah yang berkurang. Beberapa bulan ke depan biasanya sudah normal kembali dan harganya bisa normal dan stok terpenuhi," katanya.

 

 

 

Baca artikel menarik lainnya di Google News

Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved