Dokter Aniaya ART di Pulogadung

Kejamnya Dokter dan Istri Aniaya ART di Pulogadung Gegara Tak Puas Kinerja, Benturkan Kepala Korban

Korban bertugas untuk memasak, membersihkan rumah, dan mengasuh tiga anak tersangka. Penganiayaan terjadi karena tersangka tak puas dengan pekerjaan

Editor: Weni Wahyuny
KOMPAS.com/Febryan Kevin
DOKTER ANIAYA ART - Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Pol Nicolas Ary Lilipaly saat menjelaskan terkait kasus penganiayaan ART di Pulogadung, Jumat (11/4/2025). Penganiayaan dilakukan oleh dokter dan istrinya. 

TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA - AMS (41), seorang dokter di Pulogadung, Jakarta Timur, ditangkap polisi karena menganiaya asisten rumah tangga (ART) berinisial SR (24).

Tak sendiri, ia ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan bersama istrinua inisial SSJH (35).

Dokter bersama istrinya ini terbukti melakukan penganiayaan terhadap ART-nya hingga korban babak belur.

Dianiayanya SR yang merupakan asal Banyumas, Jawa Tengah, oleh majikan itu, viral di media sosial.

Informasi tersebut beredar melalui video di aplikasi WhatsApp. 

Video tersebut juga diunggah akun Instagram pribadi anggota DPR RI, Ahmad Sahroni. 

Kasus tersebut saat ini ditangani Satreskrim Polresta Banyumas

Korban telah dibawa ke RSUD Banyumas untuk mendapatkan penanganan medis. 

Kepala Desa Tanggeran Rawan mengungkapkan, S baru bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) pada salah satu keluarga di Jakarta sejak November 2024. 

"Namun seminggu setelah bekerja S tidak bisa dihubungi oleh keluarganya," kata Rawan kepada wartawan, Jumat (21/3/2025). 

Hingga akhirnya pada Selasa (18/3/2025) keluarga menerima kabar harus membayar uang tebusan sebesar Rp 5 juta karena S ingin pulang ke rumah. 

Keluarga lalu melaporkan hal itu kepada kepala desa dan diteruskan ke Mapolsek Somagede. 

Lebih lanjut Rawan mengatakan, S akhirnya tiba di rumahnya pada Jumat dini hari tadi, dengan kondisi penuh luka pada sekujur tubuhnya. 

Kepada keluarga, S mengaku dibelikan tiket bus Jakarta-Purwokerto oleh majikannya. 

Namun S tidak diberi uang, sehingga sempat terkatung-katung di Terminal Purwokerto. 

Halaman
12
Sumber: Kompas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved