Berita Lahat

Kondisi Pelaku Bisnis Kopi Bubuk di Lahat Setelah Harga Kopi Meroket, UMKM Paling Kena Imbas

Kondisi pelaku bisnis kopi bubuk di Lahat setelah harga kopi meroket ternyata pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang paling kena imbas.

Penulis: Ehdi Amin | Editor: Vanda Rosetiati
SRIPO/EHDI AMIN
Kondisi pelaku bisnis kopi bubuk di Lahat setelah harga kopi meroket ternyata pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang paling kena imbas. Proses produksi dari biji kopi menjadi bubuk kopi, Senin (26/2/2024). 

TRIBUNSUMSEL..COM, LAHAT - Kondisi pelaku bisnis kopi bubuk di Lahat setelah harga kopi meroket ternyata pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang paling kena imbas.

Harga biji kopi per kilogram Rp 48 ribu hingga Rp 50 ribu justru berdampak sebaliknya bagi pelaku bisnis kopi bubuk.

Selain soal harga, saat ini biji kopi sulit didapat dan otomatif berpengaruh pada pebisnis kopi bubuk.

Tidak sedikit UMKM bisnis kopi bubuk gulung tikar.

Penjual bubuk Kopi Kawe Megalit, Triawan mengaku sebelumnya sempat berusaha bertahan.

Namun, harga biji kopi yang terus naik hingga Rp 50 ribu membuatnya tak berdaya.

Dikatakanya, tingginya harga biji kopi berimbas pada tingginya harga bubuk kopi.

"Awalnya sempat bertahan. Saat harga biji sudah mencapai Rp45 ribu saya tidak jual lagi, " Sampainya, saat dibincangi, (26/2/2024).

Baca juga: DPD NasDem Muratara Lapor Bawaslu Minta Hitung Ulang, Merasa Hilang Suara di TPS 07 Bingin Rupit

Dikatakan Agus, saat ini harga bubuk kopi bisa mencapai Rp80 hingga Rp 90 ribu per kilo nya.

Kenaikan harga tersebut sangat berimbas kepada pembeli.

Jika tetap dipaksakan produksi bubuk kopi terancam tak laku karena tingginya harga apalagi pelangganya selama ini kalangan menengah ke bawah.

"Banyak yang mengeluh dengan harga bubuk kopi saat ini. Makanya sekarang berimbas kepada UMKM yang selama ini menjual bubuk kopi roboh, " ujarnya.

Senada, Ferry penjual Bubuk Kopi asal kota Lahat ini saat memilih stop dahulu.

Dikatakanya ia akan menunggu harga turun baru kembali menjual bubuk kopinya.

Selain itu, disampaikanya sulitnya mencari bibit kopi saat ini lantaran belum masa panen.

"Dengan harga saat ini banyak yang terkejut. Jadi kita stop dahulu produksi sampai harga kembali turun. Kalau saat ini sangat berimbas bagi pembeli, " Katanya.

Sebelumnya, layaknya bermimpi di siang bolong nampaknya itula yang saat ini membayangi petani kopi di Kabupaten Lahat.

Betapa tidak, saat musim kopi sudah berlalu justru harga kopi kini melambung tinggi.

Petani pun gigit jari mendengar harga kopi yang saat ini berkisar dari Rp 46 ribu sampai Rp 50 ribu per kilo.

"Selalu begitu dan sangat menyakitkan bagi petani kopi. Saat kopi sudah terjual dan habis harga baru naik, " ujar Herman, petani kopi asal Kota Agung, saat dibintangi, Jumat (23/2/2024).

Diungkapkan Herman, petani tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi harga.

Pasalnya, saat musim panen selesai petani langsung menjual kopi dengan harga yang ada.

Kondisi itu terpaksa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kebutuhan sekolah anak.

Mirisnya lagi, di tahun 2023 yang lalu hasil panen kopi anjlok.

Jika biasanya dia bisa mendapatkan 800 kilogram hingga satu ton, dipanen kali ini hanya mendapatkan 300 kilogram.

"Semua petani sudah tahu kalau harga naik disaat sudah masa panen. Kalau kita stok atau simpan dahulu menunggu harga, terus kita mau makan apa. Kita hanya mengandalkan kopi saja tidak ada pemasukan lain. Kalau sudah masa panen kopi, kita kerja serabutan," ujarnya, seraya berharap kepada pemerintah agar harga kopi bisa tinggi saat masa panen.

Terpisah, toke kopi di Kota Lahat, Rico atau akrab disapa Cuncun, membenarkan jika harga jual kopi saat ini tinggi dibanding sebelumnya atau dimasa panen.

Menurutnya, biji kopi dengan kualitas baik, kering saat ini ia beli dari petani bisa mencapai harga Rp50 ribu per kilogram.

Sementara, biji kopi basah Rp 46 ribu hingga Rp 48 ribu per kilogramnya.

"Ya terjadi kenaikkan untuk harga kopi saat ini," ujarnya.

Namun sayangnya kata Rico, saat ini sangat sulit mencari biji kopi dari patani dan bisa dikatakan kosong.

Penyebabnya, kata Rico memang saat ini belum masuk dalam masa panen. Disisi lain petani yang stok biji kopi sangat sedikit.

"Gimana petani mau jual, kopi tak ada. Belum masa panen," sampainya.

Kepala Dinas Perkebunan Pemkab Lahat, Vivi Anggraini, SSTP, MSi tingginya harga kopi karena stok kopi di tingkat petani kosong.
Pihaknya juga terus memantau perkembangan harga dan saat ini mencapai Rp 46 ribu hingga 48 ribu.

"Setiap minggu melalui penyuluh kita selalu lakukan survey harga. Memang saat ini cukup tinggi tapi untuk di Lahat memang belum masa panen," katanya.

Di sisi lain, untuk meningkatkan produktivitas kopi berbagai bantuan telah digulirkan bagi petani kopi di Kabupaten Lahat seperti adanya bantuan bibit kopi unggul, pupuk, handspayer, mesin rumput dan lainya. Penyuluhan juga terus dilakukan.

"Ya faktor cuaca juga sangat menentukan jika terlalu panas atau terlalu sering hujan buah kopi cendrung menurun. Kita survei, jangankan ditingkat petani dikalangan pengepul juga banyak yang kosong saat ini. Untuk masa panen sendiri kalau di Lahat ini tiap kecamatan tidak berbarengan namun panen biasanya dimulai dari bulan April hingga Juli," terangnya.

Helmi, petani kopi asal Lahat, mengungkapkan masa panen kopi yang dipeliharanya kemungkinan baru akan dimulai Mei hingga Juni.

Saat ini, biji kopi masih kecil atau muda.

"Masih lama panen. Jadi percuma meski harganya tinggi," katanya.

Baca berita lainnya langsung dari google news

Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel.com

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved