Berita Banyuasin

Cerita Serang Jukung di Perairan Banyuasin Sumsel, Tempuh Angin Badai Demi Nafkah Keluarga

Cerita serang kapal jukung dan krunya di perairan Banyuasin Sumsel, terkadang harus berlayar saat angin kencang dan badai.

Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/M ARDIANSYAH
Cerita serang kapal jukung dan krunya di perairan Banyuasin Sumsel, terkadang harus berlayar saat angin kencang dan badai. Mereka juga harus meninggalkan keluarga dalam jangka waktu yang lama. Suasana di ruang kemudi serang jukung, Jumat (21/1/2023). 

TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN - Cerita serang kapal jukung dan krunya di perairan Banyuasin Sumsel untuk mencari nafkah bagi keluarga ternyata tak semudah yang dibayangkan.

Serang kapal jukung angkutan barang yang biasa beroperasional di perairan Banyuasin, terkadang harus berlayar saat angin kencang dan badai.

Mereka juga harus meninggalkan keluarga dalam jangka waktu tak tentu.

Semua dilakoni demi memberi nafkah untuk keluarga.

"Seminggu kadang lebih, tergantung perjalanan berapa lama. Karena jauh dekat jarak, sangat berpengaruh," kata Anang saat perjalanan menuju ke Desa Talang Lubuk Kecamatan Sumber Marga Telang, Jumat (20/1/2023) sore.

Kapal jukung, memang tidak bisa melaju sangat kencang. Sehingga, butuh waktu ke tempat tujuan cukup lama.

Apalagi, bisa kapal jukung berisikan muatan. Maka, laju kapal jukung akan lebih lamban lagi.

Baca juga: Antrian di Poli Rehab Medik RSMH Palembang Segera Sistem Online, Tak Lagi Antri Manual

Menurut Anang, berbagai barang biasanya mereka angkut mulai dari sawit, bahan bangunan hingga sembako.

Tempat yang dituju juga beragam dan memang, biasanya berada di wilayah perairan Banyuasin.

"Pernah sampai menempuh waktu 15 jam, itu ke tujuan Kecamatan Karang Agung Ilir. Kalau kami, ada empat orang dan pulang juga tidak tentu. Kalau ada tarikan ke Tanjung Lago, baru pulang," ceritanya.

Selama delapan tahun mengarungi wilayah perairan Banyuasin, pastinya banyak suka duka yang dialami.

Mulai dari mesin mati saat perjalanan hingga muncul angin kencang dan ombak.

Menurut Anang, jangan salah sekelas Sungai Musi juga memiliki ombak yang cukup tinggi.

Terlebih ketika angin laut tiba, maka sungai Musi juga akan berpengaruh angin kencang dan juga ombak.

"Perjalanan itu yang paling di waspadai ombak dan angin. Apalagi munculnya malam hari, mana sudah gelap, angin kencang dan juga ombak. Saat kondisi seperti itu, berusaha bagaimana bisa tetap menstabilkan jukung saja sambil berdoa," pungkasnya.

Baca berita lainnya langsung dari google news

Silakan gabung di Grup WA TribunSumsel

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved