Mahasiswa UIN Korban Pelecehan Senior

Update Penganiayaan Mahasiswa UIN Palembang, Kuasa Hukum Terduga Pelaku Sayangkan Pemanggilan Saksi

Penganiayaan mahasiswa UIN Palembang tim kuasa hukum ke-10 terduga pelaku pengeroyokan menyayangkan pemanggilan saksi pelapor untuk diminta keterangan

Penulis: Rachmad Kurniawan | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/RACHMAD KURNIAWAN
Penganiayaan mahasiswa UIN Palembang tim kuasa hukum ke-10 terduga pelaku pengeroyokan menyayangkan pemanggilan saksi pelapor untuk diminta keterangan 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Update penganiayaan mahasiswa UIN Palembang, tim kuasa hukum ke-10 terduga pelaku pengeroyokan Arya mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang beserta mahasiswa yang tergabung dalam UKMK Litbang menyayangkan dan mepertanyakan pemanggilan sejumlah saksi pelapor untuk diminta keterangan kesaksiannya terkait peristiwa tersebut.

Terkait hal ini tim kuasa hukum ke-10 mahasiswa yang tergabung dalam kepanitian Diksar UKMK Litbang, Rahmad Kurniansyah SH salah satu tim kuasa hukum terduga pelaku dari YLBH Perjuangan Rakyat menyayangkan adanya surat pemanggilan terhadap sejumlah mahasiswa ini untuk dimintai keterangan penganiayaan mahasiswa UIN Palembang.

"Harusnya mengacu pada KUHAP apabila butuh saksi harusnya dipanggil ke kantor. Bukan justru meminta untuk datang langsung ke kantor polisi," ujar Rahmad mengenai kasus penganiayaan mahasiswa UIN Palembang, Rabu (12/10/2022).

Dia menyebut sebagaimana yang diatur di dalam KUHAP yang berhak memanggil saksi itu hanya penyidik kepolisian, bukan pihak lain.

"Penyidik yang melakukan pemeriksaan berwenang melakukan pemanggilan dengan alasan yang jelas. Berwenang untuk memanggil saksi dan pihak terkait perkara, berwenang disini adalah penyidik bukan pihak lain," katanya.

Baca juga: Dukung Sosok Endah Trista Agustiana Nominasi Peraih Penghargaan PBB, Pemerhati Gender Lulusan Unsri

Pihaknya juga turut menyesalkan adanya ancaman yang diterima oleh saksi-saksi yang dikirimi surat pemanggilan oleh tim kuasa hukum Arya.

Harusnya itu ranah dan wewenang dari institusi kepolisian, dalam hal ini penyidik Subdit III Jatanras Polda Sumsel yang jika mangkir tiga kali baru dilakukan pemanggilan paksa.

Ketua Pelaksana Diksar UKMK Litbang UIN Raden Fatah, M Ari Nopriyan mempertanyakan terkait pemanggilan sejumlah saksi pelapor untuk didengar kesaksiannya terkait insiden ini.

Bukan oleh penyidik unit 1 Jatanras Polda Sumsel, melainkan oleh tim kuasa hukum Arya dari YLBH Sumsel Berkeadilan.

"Ada beberapa rekan kami baik anggota UKMK Litbang maupun sebagai orang yang kami undang saat diksar dilayangkan surat pemanggilan," ungkap dia.

Terkait pemanggilan itu, Ari mengaku menerima kiriman bukti surat pemanggilan itu dari pesan WhatsApp, dimana dalam surat panggilan tertanggal 10 Oktober 2022 itu berisi undangan agar datang untuk memberikan kesaksian di kantor Polda Sumsel.

Surat tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua YLBH Sumsel Berkeadilan, Kms Sigit Muhaimin SH.

"Dari mereka yang dipanggil itu juga terungkap apabila tidak datang dalam tiga kali pemanggilan akan dijemput paksa. Harusnya yang memanggil itu penyidik tapi ini kenapa justru tim kuasa hukum Arya (pelapor) yang memanggil," katanya.

Ari juga mempertanyakan jika benar terjadi tindak kekerasan termasuk yang terakhir diungkap Arya dipaksa meminum air dari dalam kloset.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved