Mahasiswa UIN Korban Pelecehan Senior

Update Kekerasan Mahasiswa UIN di Palembang, Polda Sumsel Lengkapi Berkas Laporan Pengeroyokan

Polda Sumsel telah menerima laporan Arya Lesmana Putra mahasiswa UIN Raden Fatah yang menjadi korban kekerasan dan pengeroyokan mahasiswa UIN.

Penulis: Rachmad Kurniawan | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/RACHMAD KURNIAWAN
Polda Sumsel telah menerima laporan Arya Lesmana Putra mahasiswa UIN Raden Fatah yang menjadi korban kekerasan dan pengeroyokan mahasiswa UIN. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Update kekerasan mahasiswa UIN di Palembang, Polda Sumsel telah menerima laporan Arya Lesmana Putra mahasiswa universitas islam negeri (UIN) Raden Fatah yang menjadi korban kekerasan dan pengeroyokan oleh senior saat menjadi panitia diksar UKMK LITBANG UIN Raden Fatah Palembang.

Arya koran kekerasan mahasiswa UIN di Palembang didampingi ayah dan kuasa hukumnya telah membuat laporan di Polda Sumsel pada Selasa, 4 Oktober 2022.

Direskrimum Polda Sumsel Kombes Pol Anwar Reksowidjojo membenarkan adanya laporan korban kekerasan mahasiswa UIN di Palembang yang sedang diproses.

Pihaknya akan memproses dan menindaklanjuti perkara tersebut.

Laporan korban telah diterima dengan bukti nomor laporan : STTLP/608/X/2022/SPKT POLDA SUMSEL.

"Laporannya sudah kami terima dua hari lalu, nanti akan kami lengkapi dulu berkasnya. Baru kami proses tindaklanjut, " ujar Anwar saat dikonfirmasi, Kamis (6/10/2022).

Baca juga: Residivis di Palembang Diberi Ucapan Happy Birthday saat Digerebek, Ini Sepak Terjangnya

Untuk saat ini ia belum bisa menyampaikan lebih jauh, sebab masih dalam proses penyelidikan.

"Kan baru pemeriksaan awal saya belum bisa sampaikan LP nya kemana-mana dulu, ini lagi proses nanti kalau sudah ada perkembangan baru kami kasih tahu, " ungkapnya.

Sementara Arya saat membuat laporan mengatakan jika dirinya dipukul dan disundut api rokok oleh senior dan panitia lainnya. Bahkan ia dipaksa membuka baju, disaksikan oleh puluhan orang.

Arya merupakan mahasiswa semester 3 yang bertugas menjadi panitia bagian konsumsi saat kegiatan pendiksaran.

"Yang menyaksikan saat saya dipaksa buka baju itu ada sekitar 40 an orang, tapi mereka tidak berani membantu karena takut dengan senior, " katanya saat membuat laporan di Polda Sumsel.

Tak hanya itu, dalam pengakuannya ada salah seorang terduga pelaku yang mengacungkan golok ke arahnya.

"Sebelum dijemput ayah ada yang ngancam kalau misal saya cerita kalau habis disiksa, saya bakal dicari dan diculik sampai manapun, " katanya.

Tindak kekerasan yang dialami Arya diketahui salah seorang temannya yang menelponnya lewat Video Call.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved