Berita Kemenkumham Sumsel

5 Perguruan Tinggi di Palembang dipilih Kemenkumham Sumsel Gelar Dialog RUU KUHP

Menurut Ave, tujuan Dialog RUU KUHP serentak ini untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada seluruh lapisan masyarakat.

Editor: Sri Hidayatun
Humas Kemenkumham Sumsel
Kantor Wilayah Kemenkumham Sumatera Selatan menggelar Penyuluhan Hukum Keliling Dalam Rangka Kegiatan “Dialog Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)” pada 5 (lima) perguruan tinggi di Palembang, Selasa, (27/9/2022). 

TRIBUNSUMSEL.COM,PALEMBANG- Kantor Wilayah Kemenkumham Sumatera Selatan menggelar Penyuluhan Hukum Keliling Dalam Rangka Kegiatan “Dialog Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)” pada 5 (lima) perguruan tinggi di Palembang, Selasa(27/9/2022).

“Kita menyasar masyarakat dan kalangan mahasiswa, serta akademisi, kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 1.400 Peserta”, ujar Kepala Bidang Hukum Kanwil Kemenkumham Sumsel, Ave Maria Sihombing.

Ave menjelaskan kegiatan Dialog ini merupakan program penyuluhan hukum serentak dari Badan Pembinaan Hukum Nasional, digelar di 33 Kantor Wilayah Kemenkumham seluruh Indonesia.

Menurut Ave, tujuan Dialog RUU KUHP serentak ini untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada seluruh lapisan masyarakat terhadap isi, kandungan, tujuan, dan maksud dari rancangan KUHP. 

“Selain itu, kegiatan ini sebagai wujud sosialiasi yang masif untuk menyongsong pengesahan RUU KUHP mendatang”, kata Ave Sihombing.

Lebih lanjut dijelaskannya, para penyuluh hukum menyampaikan materi tentang RUU KUHP.  KUHP saat ini merupakan aturan hukum pidana peninggalan Belanda yang sudah berlaku di Indonesia sejak 1918 atau kurang lebih 104 tahun dan telah direvisi secara parsial.

Oleh karena itu, KUHP perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan hukum modern.

Di dalam RUU KUHP terdapat 37 Bab dan 632 Pasal yang terdiri dari 2 buku.

Yaitu, Buku Kesatu (Aturan Umum) dan Buku Kedua (Tindak Pidana). Jumlah pasal RUU KUHP sedikit lebih banyak dari KUHP Lama sebanyak 569 Pasal.

Hal ini merupakan konsekuensi dari misi konsolidasi dan harmonisasi yang ada dalam Buku I RUU KUHP sebagai operator sistem hukum pidana modern.

RUU KUHP juga menghilangkan pembedaan antara kejahatan (buku II KUHP) dan pelanggaran (buku III KUHP) menjadi Tindak Pidana (Buku Kedua RUU KUHP).

Baca juga: Kakanwil Kemenkumham Sumsel Ikuti Dialog Publik RUU KUHP

Semua Tim terlibat secara bergantian menyampaikan isu Krusial diantaranya yg lagi hangat dikalangan masyakat saat ini yakni pemidanaan terhadap penghinaan Presiden dan Wapres, Penistaan  Agama, Suami Perkosa Istri Atau Sebaliknya, dan Kohabitasi (dua orang lawan jenis yang tinggal satu atap di luar ikatan pernikahan).

Kemudian Hukuman Mati Bisa Diubah jadi Seumur Hidup asal Bersikap Baik, Unggas Masuk Kebun Orang: Pelaku Didenda & Hewan Disita Negara, lalu Ngaku Dukun & Punya Kekuatan Gaib, dan aborsi.

Selanjutnya  Aniaya Hewan, Orang Tua Ajak Anak Mengemis, Gelandangan Didenda, Penghinaan Terhadap Pengadilan atau Contempt of Court, dan Hukum Adat.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved