Harga Sawit Palembang

Harga Sawit Palembang: Harga TBS Sawit di Sumsel Bergerak Naik, Petani Swadaya Diimbau Berkelompok

Harga sawit Palembang, harga TBS sawit di Sumsel bergerak naik petani sawit swadaya 16 persen dari total 1,2 juta ha diimbau berkelompok.

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/LINDA TRISNAWATI
Harga sawit Palembang, harga TBS sawit di Sumsel bergerak naik petani sawit swadaya 16 persen dari total 1,2 juta ha diimbau berkelompok. Rapat Focus Group Discussion (FGD) Penetapan Program Kegiatan Prioritas dan Pleno Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD-KSB) Provinsi Sumsel di Aryaduta, Kamis (1/9/2022). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Harga sawit Palembang, harga TBS sawit di Sumsel bergerak naik. Petani sawit swadaya di Sumsel yang jumlahnya 16 persen dari luas total lahan 1,2 juta hektare diimbau berkelompok. 

Pertanian dan perkebunan telah menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), termasuk didalamnya komoditas kelapa sawit termasuk pembahasan tentang harga sawit Palembang.

Kelapa sawit di Sumsel dengan luasan mencapai 1,2 juta hektare, tentunya dibutuhkan perencanaan komprehensif untuk dapat mengelola lahan perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan. Berbicara masalah sawit otomatis bicara harga sawit Palembang.

Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel Dian Eka Putra mengatakan selain turunan dari sawit ini banyak, harganya juga masih baik. Untuk itulah sawit ini masih menjadi komoditas primadona di Sumsel. Terlebih harga sawit Palembang kini sudah berangsur-angsur naik.

"Kelapa sawit merupakan salah satu unggulan di Sumsel, selain karet," kata Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel Dian Eka Putra disela-sela kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penetapan Program Kegiatan Prioritas dan Pleno Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD-KSB) Provinsi Sumsel di Aryaduta, Kamis (1/9/2022).

"Harga TBS sawit Rp 2.189 per kg, atau naik Rp Rp 323,70 per kg dari sebelumnya. Kita selalu optimis harga sawit ini akan bergerak naik, terlebih dengan luasan 1,2 juta hektare banyak masyarakat yang terlibat," ungkapnya.

Baca juga: Harga Karet Palembang: Harga Karet Sumsel September 2022, Awal Bulan Rp 20.000-an per Kg

Menurut Dian, dari 1,2 juta hektare lahan sawit yang ada, sekitar 42 persennya merupakan plasma dan swadaya.

Untuk itulah banyak masyarakat yang terlibat. Jika harga sawit terpengaruh maka mempengaruhi daya beli masyarakat.

"Untuk sawit yang swadaya ini ada 16 persen, namun memang permasalahan lebih kompleks. Memang ditingkat petani seperti swadaya harganya jauh lebih rendah ketimbang di harga kemitraan," katanya

Masih kata Dian, untuk itulah mereka didorong untuk membentuk kelompok, sehingga nanti ada beginning power. Akan dicairkan kemitraan dan dicari pabrik-pabrik yang masih kekurangan bahan baku.

"Akan kita rangkulah, sehingga ada kesepakatan harga antara petani swadaya dan pabrik. Di FGD ini juga kita rangkul petani swadaya agar membentuk kelompok," ungkapnya

FGD membahas tentang program/kegiatan prioritas daerah dengan keluaran program, kegiatan, dan indikator yang akan ditetapkan. Kemudian menyepakati rencana penulisan RAD KSB Provinsi Sumsel.

OPD Provinsi Sulmatera Selatan, Balai Konservasi, TRGD, Asosiasi Pengusaha Sawit maupun Asosiasi Petani Sawit, Akademisi, Lembaga Penelitian Perguruan Tinggi, dan
lainnya turut terlibat dalam penyusunan RAD KSB Provinsi Sumsel.

"Ada lima komponen RAN KSB yakni penguatan data, penguatan koordinasi dan infrastruktur, peningkatan kapasitas dan kapabilitas pekebun, pengelolaan dan pemantauan lingkungan, tata kelola perkebunan
dan penanganan sengketa, serta percepatan pelaksanaan sertifikasi ISPO dan akses pasar," katanya

Sementara itu Koordinator Proyek Peat-IMPACT, ICRAF Indonesia, Feri Johana mengatakan, penyusunan RAD KSB di Provinsi Sumsel merupakan tindak lanjut dari pengelolaan bentanglahan berkelanjutan dan pengelolaan gambut.

"Mandat penyusunan RAD-KSB menjadi peluang bagi pemerintah Provinsi Sumsel dan para pihak untuk dapat mewujudkan komitmen dan rencana ke depan dalam perbaikan tata kelola sawit secara berkelanjutan," katanya

RAD KSB merupakan arah pembangunan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, ekologi, dan sosial budaya.

Baca berita lainnya langsung dari google news

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved