Berita Nasional

Kenaikan Tarif Ojek Online Disebut Bisa Jadi Teror Ekonomi Bagi Masyarakat Menengah ke Bawah

Saat konsumen keberatan dengan tarif yang tinggi, maka mereka akan beralih menggunakan kendaraan pribadi.

Editor: Slamet Teguh
DOK TRIBUN
Kenaikan Tarif Ojek Online Disebut Bisa Jadi Teror Ekonomi Bagi Masyarakat Menengah ke Bawah 

TRIBUNSUMSEL.COM - Pengamat Ekonomi Sumsel Yan Sulistyo menilai kebijakan kenaikan tarif transportasi online atau ojek online (ojol) yang dikeluarkan pemerintah melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 564 Tahun 2022, berdampak bagi masyarakat luas. 

Lebih jelasnya, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 564 Tahun 2022 tentang pedoman perhitungan biaya jasa penggunaan sepeda motor yang digunakan untuk kepentingan masyarakat yang dilakukan dengan aplikasi tidak memberikan dampak positif bagi perekonomian, justru menjadi teror ekonomi bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. 

"Kenaikan tarif ini akan berdampak pada mitra pengemudi roda dua di mana mayoritas merupakan masyarakat kelas menengah ke bawah. Kebijakan ini tidak memberikan dampak positif bagi perekonomian sama sekali, justru menambah teror ekonomi bagi masyarakat kelas menengah ke bawah," ungkap Yan Sulistyo, Jumat (12/8/2022).

Yan Sulistyo yang juga akademis Universitas Sriwijaya, menilai momentum kenaikan tarif ojol saat ini sangat tidak tepat, pasalnya tanpa adanya kenaikan tarif pun mitra pengemudi sudah cukup kesulitan mendapatkan order.

"Beberapa bulan belakang ini sudah cukup banyak mitra pengemudi yang berhenti menjalankan profesi ini karena permintaan jasa yang terus turun. Kenaikan tarif ini justru akan semakin menyulitkan pengemudi ojol memperoleh pemasukan," ujar Yan Sulistyo.

Masyarakat akan Kembali Gunakan Kendaraan Pribadi

Menurut Pengamat Ekonomi Sumsel Yan Sulistyo ini, dampak kenaikan tarif ini tidak hanya dirasakan oleh mitra pengemudi dan konsumen jasa angkutan orang, tapi juga masyarakat yang selama ini mengandalkan jasa angkutan barang dan makanan.

Saat konsumen keberatan dengan tarif yang tinggi, maka mereka akan beralih menggunakan kendaraan pribadi.

"Jadi kemungkinan besar masyarakat akan beralih ke kebiasaan lama, beli makan sendiri, antar barang sendiri, dan menggunakan kendaraan sendiri. Sehingga permintaan jasa ojol akan mengalami penyusutan. Sangat dipahami sekali kalau mitra pengemudi ojol akan tidak senang dengan kebijakan kenaikan tarif ini," imbuh Yan Sulistyo.

Selain itu, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), biaya transportasi memberikan kontribusi cukup signifikan terhadap kenaikan inflasi.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved