Harga Sawit Palembang

Harga Sawit Palembang: Berita Sawit Muratara Sumsel, Pengepul Antre 7 Hari Setor TBS ke Pabrik

Harga sawit Palembang, berita sawit Muratara Sumsel, pengepul sawit harus antre 7 hari untuk masuk pabrik setor TBS.

Penulis: Rahmat Aizullah | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/RAHMAT AIZULLAH
Harga sawit Palembang, berita sawit Muratara Sumsel, pengepul sawit harus antre 7 hari untuk masuk pabrik setor TBS. 

TRIBUNSUMSEL.COM, MURATARA - Harga sawit Palembang, perjuangan pengepul yang membeli tandan buah sawit segar (TBS) dari petani memang tidak mudah.

Tidak hanya persoalan harga yang mengacu pada harga sawit Palembang, truk pengepul yang berisikan TBS sawit terkadang harus antre berhari-hari bahkan ada yang 7 hari atau seminggu untuk bisa masuk pabrik. Hal ini disebabkan stok TBS yang sedang diproduksi di pabrik melimpah.

Akibat terlalu lama antre, buah sawit pun busuk. Bisa dibayangkan betapa kerugian karena mereka sudah membeli sawit ke petani dengan harga tentunya memiliki patokan pada harga sawit Palembang.

Karena itulah, pengepul sering stop sementara membeli TBS sawit dari petani lantaran takut merugi saat hendak dijual ke pabrik.

Seperti yang kerap dialami Piko, salah seorang pengepul buah sawit di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

"Truk saya nunggu sampai tujuh hari (antre masuk pabrik)," kata Iko pada TribunSumsel.com, Jumat (12/8/2022).

Baca juga: Harga Karet Palembang: Harga Karet di Sumatera Selatan Hari Ini 12 Agustus 2022, Kembali Turun

Pengepul asal Muratara itu menjual TBS sawit ke daerah tetangga yakni Kabupaten Musirawas.

Akibat dari terlalu lama mengantre, TBS sawit yang dibawa truknya mengalami penyusutan berat, bahkan sampai membusuk.

"Saya jual ke Musirawas, karena kerjasamanya di sana. Yang jelas kalau sudah berhari-hari buah jadi menyusut, ada yang busuk juga," katanya.

Ia mengatakan, meski kondisi buah sawit yang dibawanya dalam keadaan tak segar lagi, namun tetap diterima oleh pabrik.

Soal harga, kata Iko, tak ada pengaruh, hanya saja potongannya bertambah 4 persen karena kualitas buah sudah berkurang.

"Kalau ditolak pabrik tidak, tetap diterimanya, cuma itulah potongan tambah empat persen, sebenarnya kalau potongan itu biasa," ujarnya

Iko mengaku merugi akibat truknya terlalu lama mengantre masuk pabrik hingga berhari-hari.

Kerugiannya mencapai 2,5 ton, ditambah lagi ada penyusutan terkadang hingga 30 persen.

"Saya rugi 2,5 ton, itu belum termasuk potongan buah menyusut, sudah tujuh hari antre, buah 10 ton tinggal tujuh ton lagi beratnya, karena buahnya jadi kering," ungkap Iko.

Baca berita lainnya langsung dari google news

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved