Liputan Khusus Tribun Sumsel
Polemik Harga Sawit Terjun Bebas, Kadis Perkebunan Sumsel: Petani Gabung Masuk ke Plasma (3)
Bicara tentang sawit ini polemik. Analisa disampaikan Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Sumsel Ir Agus Darwa MSi.
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Bicara tentang sawit ini polemik. Analisa disampaikan Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Sumsel Ir Agus Darwa MSi
Namun untuk penentuan harga sawit ini dapat saya informasikan ada tiga cara. Pertama, harga yang ditetapkan tim penetapan harga sawit. Kalau di Sumsel timnya yang berdasarkan SK Gubernur Sumsel dan dua Minggu sekali rapat untuk menetapkan harganya.
Untuk timnya terdiri dari dinas perkebunan, gabungan pengusaha sawit, petani, akademisi dan lain-lain. Itu untuk harga MoU Plasma dan perusahaan, yang dirilis setiap dua Minggu sekali.
Kemudian yang kedua, harga kesepakatan antara pemegang delivery order (DO) dengan perusahaan, jadi dia tidak punya kebun hanya punya DO. Itu harganya ditentukan pemegang DO dan perusahaan.
Lalu yang ketiga, harga TBS di tingkat petani swadaya. Petani swadaya ini yang misal punya setengah hektare, satu hektare dan lain-lain, tapi mereka tidak masuk kelompok plasma sehingga dijual ke tengkulak. Namanya tengkulak pasti belinya rendah.
Kenapa harga petani di tingkat swadaya itu rendah ada beberapa penyebabnya di antaranya, karena jenis buahnya tidak jelas varietas apa.
Baca juga: Petani Minta Hapus DMO dan DPO, Harga Sawit Terjun Bebas jadi Rp 750 per Kg (2)
Lalu, dari segi tingkat kematangan buah yang dipanen tidak seragam, ada yang matang, ada yang kelewat matang dan ada yang mentah.
Kemudian kebersihan buah, misal saat memotong tandanya masih terlalu panjang sehingga cenderung mengurangi harga.

Untuk petani swadaya, ini kan dijual ke tengkulak tentunya ada rantai mata penjualan. Dari satu, dua dan seterusnya, sehingga tidak ada patokan harganya.
Saran saya kalau mau harga yang baik, petani gabung masuk ke plasma atau kelompok yang ada aturan-aturannya.
Meskipun begitu semua petani perkebunan kita bina dan diarahkan membentuk kelompok, sehingga ada perbaikan - perbaikan seperti mutu bibit dan buah.
Pembinaan sudah dilakukan dan karena petani ini banyak maka dilakukan secara bertahap, agar dimengerti masyarakat. (nda)
Baca berita lainnya langsung dari google news.