Berita OKI
Pedagang Bumbu Dapur di OKI Naikkan Harga 2 Kali Lipat, Sesuaikan Harga Bawang dan Cabai Merah
Pedagang bumbu dapur di OKI naikkan harga 2 kali lipat, sesuaikan harga bawang dan cabai merah.
Penulis: Winando Davinchi | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG - Pedagang bumbu dapur di OKI naikkan harga 2 kali lipat, sesuaikan harga bawang dan cabai merah.
Melonjaknya harga bawang merah dan cabai rawit dalam beberapa waktu terakhir berimbas pada naiknya harga jual bumbu masak.
Para pedagang bumbu di pasar-pasar yang ada di Kabupaten Ogan Komering Ilir mengeluh akibat sepinya pembeli setelah kenaikan harga tersebut.
Dari pantauan Tribunsumsel.com di pasar Kayuagung, terlihat sejumlah pedagang sedang menunggu pembeli.
Mereka mengaku pembeli sedang sepi disebabkan naiknya harga bumbu masak hingga dua kali lipat mengikuti kenaikan bahan baku utamanya bawang merah dan cabai.
Saat ditemui, Insaroh (42) salah seorang pedagang bumbu Pasar Kayuagung mengatakan kenaikan harga bumbu hingga mencapai dua kali lipat disebabkan naiknya sejumlah bahan baku utama.
Seperti cabai rawit modal perkilogram mencapai Rp 70.000 dan bawang merah juga naik yaitu Rp 35 sampai 40.000 perkilo.
"Sejak seminggu terakhir harga cabe segar giling dan bumbu SOP perkilogram dari yang sebelumnya Rp 5.000 sekarang naik jadi Rp 10.000 persons,"
"Sedangkan untuk bumbu rendang, bumbu opor dan panggang harganya masih sama Rp 5.000 per ons. Karena bumbu tersebut menggunakan banyak campuran bahan baku lainnya," tuturnya, Jum'at (3/6/2022) sore.
Baca juga: Heboh Buaya di Irigasi OKU Timur, Warga Desa Bukannya Takut Justru Ramai Cari Ikan
Dalam sehari setiap macam bumbu bisa menghabiskan 3 sampai 5 kilometer. Kalaupun lagi tidak ada yang sedekah (pesta pernikahan) maka palingan hanya habis setengah kilogram saja.
"Sebenarnya kalau pembeli biasa sepi, karena memang yang banyak membeli bumbu ini pelanggan rumah makan dan orang yang akan menggelar pesta," tuturnya.
Menurutnya, jika harga bawang dan cabai terus naik, para pedagang bumbu terancam gulung tikar karena tidak ada pembeli.
"Ini baru seminggu saja pembeli sudah banyak yang ngeluh. Apalagi kalau harga terus melonjak, tentunya berdampak penjualan yang sangat sedikit," pungkasnya.
Baca berita lainnya langsung dari google news.