Berita Prabumulih

Puluhan Warga Stop Operasional Power Plan PLTG Pertamina di Prabumulih

Puluhan warga menyetop paksa operasional Objek Vital Nasional Power Plan TLJ PLTG milik PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Prabumulih

Penulis: Edison | Editor: Yohanes Tri Nugroho
TRIBUNSUMSEL.COM/EDISON
Puluhan warga melakukan aksi unjuk rasa menyetop operasional dan masuk objek vital nasional Power Plan PLTG PT Pertamina, Rabu (6/4/2022). 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Edison Bastari

TRIBUNSUMSEL.COM, PRABUMULIH - Puluhan warga kelurahan Muaradua Kecamatan Prabumulih Timur kota Prabumulih melakukan aksi unjuk rasa dan menyetop paksa operasional Objek Vital Nasional Power Plan TLJ Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) milik PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Prabumulih.

Warga datang ke objek vital yang dilarang dimasuki oleh warga tersebut secara beramai-ramai dan meminta paksa operator memadamkan mesin PLTG tersebut.

Akibat peristiwa tersebut, operasional perusahaan plat merah tersebut khususnya produksi di sumur minyak dan gas terpaksa lumpuh total hingga beberapa jam.

Hal itu membuat PT Pertamina dipastikan mengalami kerugian ratusan juta lantaran produksi migas menjadi terhambat total oleh para pendemo.

Beruntung aksi puluhan warga itu tidak rusuh dan menyebabkan peristiwa patal  terjadi disebabkan petugas kepolisian kesulitan menjangkau lokasi karena kendala jalan menuju Power Plan TLJ yang rusak.

Aksi puluhan warga tersebut akhirnya bisa dikendalikan setelah Perwakilan PR Pertamina HRZ 4 bersama Kabag Ops, Kasat Reskrim, Kasat Intel dan personil tiba di lokasi menenangkan warga.

Puluhan warga itu melakukan aksi menutup operasional Power Plant PLTG karena kesal ganti rugi proyek siesmik yang menyebabkan rumah mereka retak dan nyaris roboh belum juga dilakukan oleh PT Bureau Geophysical Prospecting (BGP) Indonesia.

"Kami melakukan aksi ini karena menuntut pertamina agar mendesak PT BGP terkait ganti rugi rumah kami yang retak nyaris roboh akibat proyek sismik, tidak hanya rumah tapi lahan warga banyak terdampak," ungkap Suardi, satu diantara warga diwawancarai di sela aksi.

Suardi mengaku, pihaknya meminta kejelasan siapa yang akan membayar ganti rugi, berapa nilai per meter dan nilai ganti rugi yang sangat kecil akan dibayarkan itu dari mana.

"Masa rumah kami nyaris roboh hanya dibantu Rp 350 ribu, saya ada dua rumah mengalami kerusakan parah dan akan diganti rugi Rp 700 ribu satu rumah total Rp 1,4 juta dua rumah. Padahal kerusakan parah, perbaikan Rp 5 juta saja tidak cukup makanya saya dan warga tidak terima, tidak sesuai," tegasnya.

Hal yang sama disampaikan Heriyanto, kejelasan dari pihak PT BGP sendiri tidak jelas sejak lama hingga saat ini maka pihaknya datang melakukan aksi agar ditanggapi Pertamina dan subkon PT Pertamina.

"Kami tidak terima diberi ganti rugi seenaknya dan sangat kecil. Selama ini kami tidak pernah diperhatikan makanya kami melakukan aksi ini agar pertamina peduli dengan kami," tegasnya.

Setalah sempat besitegang akhirnya Perwakilan warga kemudian diundang melakukan pertemuan di kantor Pertamina EP Asset 2 Prabumilih Field bersama Humas PT BGP Nawang.

Field Comrel dan CID Zona 4, Erwin Hendra Saputra didampingi rekannya Nursela mengungkapkan dalam pertemuan itu warga minta data pengukuran rumah yang dilakukan oleh Zibang disampaikan ke warga dalam dua hari kedepan.

"Begitupun pihak Polres Prabumulih meminta PT BGP menyampaikan secepatnya hasil perhitungan Zibang tersebut," bebernya.

Erwin mengungkapkan akibat penyetopan Power Plan TLJ PLTG menyebabkan beberapa aktivitas menjadi lumpuh dan membuat kerugian dalam operasional produksi migas.

"Power Plat itu berhubungan dengan kegiatan lampu listrik perkantoran, pompa serta sumur. Sekarang kita prioritas penghidupan sumur karena ada sebagian sudah hidup dan sebagian belum, sumur itu jika sudah mati tidak langsung keluar lagi, kawan-kawan masih prioritas di lapangan," bebernya.

Disinggung mengenai kerugian dihadapi, Erwin mengaku untuk data kerugian masih akan dihitung oleh metrilium oil atau dari pihak produksi.

"Lebih kurang 1 sampai 1,5 jam mengalami pemadaman," katanya.

Baca juga: Ganti Rugi Seismik Tak Kunjung Dibayar, Ratusan Warga Datangi DPRD Prabumulih

Untuk diketahui, ribuan warga di beberapa kelurahan di kota Prabumulih saat ini masih menanti ganti rugi rumah retak dan dampak akibat proyek Siesmik yang dilakukan PT BGP yang merupakan subkontrak PT Pertamina.

Aksi terus dilakukan warga dan bahkan sebelumnya puluhan warga Kelurahan Tanjung Raman Kecamatan Prabumulih Selatan menghadang kendaraan operasional milik PT Pertamina akibat ganti rugi proyek sismik oleh PT BGP tak dibayarkan.

Tidak hanya itu beberapa kelurahan bahkan telah mengumpulkan warga untuk melakukan aksi susulan.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved