Imlek 2573

Penjelasan Ilmiah Kenapa Imlek Identik Dengan Hujan Cerita Legenda Dibaliknya Terungkap, Keberkahaan

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjawab mengenai mengapa Imlek identik dengan hujan.

Editor: Slamet Teguh
TRIBUNSUMSEL.COM/RACHMAD
Ratusan umat Buddha datang dan sembahyang di Wihara Dharmakirti Palembang menjelang perayaan tahun baru Imlek 2022, Senin (31/2/2022) malam 

TRIBUNSUMSEL.COM - Warga Tionghoa di Indonesia tengah merayakan Imlek.

Sejumlah tradisi unik selalu terjadi pada perayaan ini.

Namun yang paling menarik tentu saja ialah dengan hujan.

Dari tahun ke tahun, perayaan Imlek selalu identik dengan turun hujan.

Hujan saat Imlek dipercaya mengandung keberkahan dan rezeki.

Sebetulnya ada penjelasan ilmiah kenapa Imlek selalu identik dengan hujan.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjawab mengenai mengapa Imlek identik dengan hujan.

Ia mengatakan, Imlek selama ini selalu jatuh pada Januari hingga Februari. Bulan-bulan tersebut adalah bulan musim hujan.

"Demikian pada 2022, Hari Raya Imlek 2573 Kongzili jatuh pada 1 Februari 2022, yang notabene merupakan musim hujan," ujar Guswanto,, Jumat (28/1/2022).

Tetapi selain alasan cuaca, Imlek identik dengan hujan juga memiliki filosofi tersendiri bagi orang Tionghoa.

Sebagaimana hal itu diungkapkan oleh Dosen Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Prihantoro.

Menurut Fahmi, masyarakat China meyakini bahwa hujan merupakan tanda keberkahan.

 “Dari sisi filososif sebenarnya hujan membawa keberkahan, sehingga kadang-kadang hujan itu justru ditunggu. Jadi, ketika Imlek kemudian hujan, itu mereka merasa berkahnya turun. Ada semacam kebahagiaan,” tuturnya dilansir TribunSolo.com dari artikel Kompas.com.

Senada, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia Provinsi DKI Jakarta Glenn Wijaya mengatakan, hujan merupakan simbol keberuntungan.

Hujan saat perayaan Tahun Baru Imlek menjadi pertanda baik.

“Imlek identik dengan hujan karena hujan merupakan simbol keberuntungan. Apalagi Imlek itu untuk menandai datangnya spring (musim semi). Maka dari itu, hujan merupakan simbol yang baik untuk kehidupan agraris,” ujar dia.

Baca juga: Komentar Gading di Foto Gisel dan Gempita Rayakan Imlek Disorot, Papi Gading Pastikan Tak Rujuk

Baca juga: Kapolres OI Pimpin Pengamanan Ibadah Perayaan Imlek di Kelenteng Liong Shai Tien Pemulutan

Bagaimana Bila Tidak Ada Gerimis atau Hujan saat Imlek?

Sementara itu, Pengamat Budaya Tionghoa, Andrian Cangianto, menuturkan bahwa tidak hanya etnis China saja yang menganggap gerimis adalah berkah.

Soal hujan yang tidak turun saat Imlek, hal tersebut bukan berarti akan ada bencana yang turun.

"Semua agama dan semua warga dunia, saya rasa menganggap bahwa gerimis adalah berkah. Air adalah berkah yang diberikan oleh Tuhan untuk kehidupan manusia. Apalagi Indonesia adalah negara agraris. Air sangat diperlukan untuk persawahan," tutur Andrian, dikutip dari Tribun Jateng.

Apabila hujan tidak turun pada bulan Januari hingga Maret, hal tersebut lah yang menjadi bencana.

Di negara Indonesia, musim hujan turun dari bulan Oktober hingga Maret.

Apabila tidak ada hujan hingga Maret, sudah pasti kekeringan melanda Indonesia.

"Karena Imlek jatuh pada bulan sekitar Januari dan Februari, maka Imlek identik dengan hujan," jelasnya.

Bagi Andi, tidak semua air yang turun dari langit saat Imlek adalah keberkahan. Bila air yang diturunkan terlalu banyak, jelas hal tersebut adalah bencana.

Hujan saat perayaan Tahun Baru Imlek itu jadi hal yang ditunggu-tunggu lantaran dianggap membawa hoki.

Bahkan, orang Tionghoa selalu berharap hujan turun menjelang dan tepat di Tahun Baru Imlek. Menurut mereka, semakin deras hujannya semakin bagus.

Cerita Legenda di Balik Turun Hujan saat Imlek

Perayaan Imlek yang selalu bertepatan dengan musim penghujan bukan tanpa sebab.

Ternyata ada kisah legenda di baliknya.

Cerita itu dibagikan ulang oleh Ketua Yayasan Kelenteng Kebun Jeruk TITD Low Lie Bio Semarang, Indra Satya Hadinata.

Indra mengungkapkan, nenek moyang orang Tionghoa bermata pencaharian petani.

Mereka mengandalkan penghidupan murni dari hasil bercocok tanam. Nah, Tahun Baru Imlek rupanya jadi penanda datangnya musim semi.

"Di Tiongkok yang kala itu mayoritas penduduknya hidup bertani, perayaan Imlek inilah sebagai perayaan musim semi," tutur Indra.

Musim semi membawa kabar gembira dan pengharapan bagi petani.

Pasalnya, di momen ini mereka dapat memulai kegiatan bercocok tanam pasca berlalunya musim dingin yang menyebabkan aktivitas bekerja mereka terhenti.

Meski orang Tionghoa kini banyak yang tak bekerja sebagai petani, mereka tetap melanggengkan tradisi ini.

Indra mempercayai, hujan sebagaimana unsur air, selalu mendatangkan rezeki.

 "Air merupakan satu sumber kehidupan. Maka waktu Tahun Baru Imlek sering bersamaan dengan turunnya hujan karena dipercaya membawa rizki bagi orang Tionghoa," katanya.

Jadi, itulah mengapa hujan di Tahun Baru Imlek adalah perlambang akan ada banyak rezeki dan keberuntungan menunggu di tahun baru. (*)

Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Mengapa Hujan saat Imlek Identik dengan Rezeki Menurut Orang Tionghoa? Ternyata Ada Ceritanya.

Sumber: Tribun Solo
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved