Breaking News:

Polemik KPK

Ketua KPK, Firli Bahuri Kembali Jadi Sorotan, Usai Mesra Dengan DPR dan Pemerintah, Bukan Garang

Ketua KPK, Firli Bahuri Kembali Jadi Sorotan, Usai Mesra Dengan DPR dan Pemerintah, Bukan Garang

Editor: Slamet Teguh
Ist
Tangkapan layar akun Instagram milik Direktur Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Universitas Andalas Feri Amsari, @feriamsari, mempertunjukkan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri sedang duduk berdampingan dengan Komisaris PT Pelindo I Timbo Siahaan. 

TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA - Polemik yang terjadi ditubuh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampaknya hingga kin belum juga selesai.

Bahkan yang terbaru Ketua KPK kembali mendapatkan sorotan.

Hal itu terjadi, karena kemesraan Ketua KPK Firli Bahuri dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah menjadi sorotan.

Direktur Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Universitas Andalas Feri Amsari mengatakan, sikap ini berbanding terbalik dari pimpinan KPK terdahulu yang justru galak terhadap anggota dewan dan pemerintah.

"Bagi saya benar yang terlihat sekarang Ketua KPK terlihat mesra dengan anggota parlemen, dengan pemerintah, dan lain-lain," ucap Feri dalam diskusi daring, Jumat (18/6/2021).

Terlebih, dikatakan Feri, saat ini KPK tengah berpolemik soal asesmen Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

Imbas tes yang jadi salah satu syarat pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) itu, puluhan insan komisi antikorupsi terancam dipecat.

Feri menilai, pelaksanaan TWK merupakan titipan untuk menyingkirkan para pegawai KPK yang berintegritas.

Apalagi, tambahnya, pihak KPK maupun penyelenggara yaitu Badan Kepegawaian Negara (BKN) saling lempar terkait dokumen hasil TWK.

Baca juga: Tak Sinkron, Komnas HAM Temui Keterangan Berbeda Antara BKN dan KPK Soal Tes TWK

Baca juga: KPK Minta Jenderal Andika Perkasa Laporkan Harta Kekayaan, Tak Pernah Lapor Sejak Diangkat Jadi KSAD

"Ini memang kalau benar pasti diserang ya, baik itu secara lembaga maupun orang perorangan, ada serangan balik kepada KPK oleh para koruptor dengan berbagai jenis topeng-topengnya sebagai aparat negara atau kemudian orang yang diperintahkan oleh koruptor untuk mematikan KPK," jelasnya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved