Berita Lubuklinggau

Harga Cabai di Lubuklinggau Terjun Bebas, Petani: Tak Sebanding Upah dan Biaya Produksi

Harga Cabai yang anjlok membuat petani di Lubuklinggau menjerit. Harga Jual Cabai tak sebanding dengan upah dan biaya produksi.

Tayang:
Penulis: Eko Hepronis | Editor: Yohanes Tri Nugroho
TRIBUNSUMSEL.COM/EKO
Salah satu pekerja Aji, ketika sedang melakukan penyemprotan cabai merah keriting di kebun miliknya di Desa A Widodo, Kecamatan Tugu Mulyo, Kabupaten Mura. 

Menurutnya, selama ini para petani di Kota Lubuklinggau baru mau sumringah, karena harga cabai mulai stabil, namun, sepertinya  para petani kembali mengalami masa suram akibat rendahnya harga cabai ditingkat petani.

"Harga yang masuk itu Rp 20 ribu per kilogram, dengan harga segitu untuk biaya obat-obatan dan upah buruh tertutupi kita pun diuntungkan, kalau dibawah itu kita rugi total," ujarnya.

Baca juga: Pelaku Viral Pencurian Pagar Rumah di Lubuklinggau Ditangkap Polisi

Sementara Dayat salah satu pengepul cabai di Pasar Inpres Kota Lubuklinggau mengatakan anjloknya harga cabai saat ini karena stok melimpah baik cabai lokal maupun dari luar daerah.

"Sekarang kami tinggal pilih, rata-rata semua pengepul punya stok, malahan kami bingung mau jualnya kemana, karena cabai ini tidak bisa dimakan sekali gus," ungkapnya.

Ia mengatakan saat ini harga jual dipasaran terutama tingkat pengecer dipasaran harga cabai hanya Rp 20 ribu per kilogram, harga itu kemungkinan akan turun lagi seiring banyaknya cabai di pasaran.

"Sekarang yang paling banyak cabai dari Curup Bengkulu, karena semua petani disana yang menanam diwaktu harga mahal kemarin sekarang panen serentak," ujarnya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved