Larangan Mudik

Tangis Ibu Muda Menyusui di Stasiun KA Kertapati, Suami Urung Berangkat, Tak Miliki Izin Perjalanan

Saya hanya diperbolehkan berangkat bersama bayi saya, karena masih dalam menyusui. Sedangkan suami saya tidak bisa ikut.

TRIBUN SUMSEL/ARIEF BASUKI
Seorang ibu muda yang masih meyusui menangis di Stasiun KA Kertapati karena terpaksa berangkat hanya bersama bayinya karena sang suami urung berangkat karena tidak memiliki surat seperti dipersyaratkan, Jumat (7/5/2021). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Larangan mudik lebaran yang diberlakukan bagi penumpang kereta api yang berlaku 6-17 Mei, dirasakan sejumlah masyarakat yang hendak berpergian.

Hal ini dirasakan langsung sejumlah calon penumpang kereta api yang berangkat dari Stasiun Kertapati Palembang. Seperti yang dirasakan ibu muda sebut saja namanya Doli, ia harus meninggalkan sang suami karena tidak memiliki surat keterangan perjalanan yang dipersyaratkan.

Ia terlihat menangis, setelah pihak petugas tidak memperbolehkan sang suami ikut berangkat menggunakan kereta besi untuk membesuk keluarganya yang sakit di Bandar Lampung.

"Saya hanya diperbolehkan berangkat bersama bayi saya, karena masih dalam menyusui. Sedangkan suami saya tidak bisa ikut," tangisnya sambil berlalu menuju ke kereta.

Ia sendiri menyayangkan adanya larangan tersebut, dan tidak mengetahui jika dalam satu rombongan atau keluarga yang berangkat, harus memiliki surat keterangan semua.

"Saya dari kemarin dengan membawa anak saya, tetapi nyatanya hanya saya dan anak yang diperbolehkan. Padahal tujuan kami mau menemui keluarga yang sedang sakit," ujarnya sambil menggendong sibuah hati.

Sementara Manager Humas PT KAI Divre III Palembang Aida Suryanti membenarkan, jika pihaknya telah melakukan tindak tegas bagi penumpang yang tidak memiliki surat keterangan jalan.

"Memang tadi mau berangkat bersama suaminya, tapi tidak bisa, karena surat keterangannya hanya istrinya. Jadi yang boleh berangkat (ibu) dan anaknya saja, sebab bayinya masih menyusui," tandasnya.

Aida mengungkapkan jika pada periode 6-17 Mei 2021, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengoperasikan Kereta Api Jarak Jauh hanya bagi pelaku perjalanan mendesak untuk kepentingan non mudik sesuai Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021 dan Surat Direktur Jenderal Perkeretaapian Nomor HK.701/1/10/DJKA/2021 pada 30 April 2021.

“KAI menjalankan Kereta Api Jarak Jauh pada periode tersebut bukan untuk melayani masyarakat yang ingin mudik Lebaran. Kami mematuhi aturan dan kebijakan dari pemerintah bahwa mudik tetap dilarang,” tandas Aida Suryanti.

Menurut Aida, jumlah penumpang pada masa peniadaan mudik pada 6 Mei rute Kertapati- Lubuklinggau (PP) dan Kertapati - Tanjungkarang (PP) terdapat sekitar 50 persen calon penumpang yang memenuhi syarat.

"Dari 144 yang mempunyai tiket, sebanyak 73 lolos verifikasi syarat-syarat. Sedangkan 71 lainnya tidak lolos verifikasi sehingga tidak diperbolehkan berangkat," bebernya.

Diterangkan Aida, dari awal sebelum penumpang masuk kereta, petugas jaga akan verifikasi kelengkapan surat-suratnya, apabila tidak memenuhi syarat ketentuan perjalanan mendesak dan non mudik, tidak diperbolehkan untuk melakukan perjalanan.

"Rata- rata mereka yang ditolak, suratnya tidak sesuai kriteria dan ada juga yang tidak membawa surat keterangan," tuturnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved