Larangan Mudik

Curhat Sopir Angkutan Perbatasan Lubuklinggau-Rejang Lebong, Cari Rp 50 Ribu Sehari Susah

Sejumlah sopir angkot yang biasa mengangkut penumpang di wilayah perbatasan pun terkena imbasnya, saat ini penumpang angkot turun hingga 50 persen.

Penulis: Eko Hepronis | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/EKO HEPRONIS
Salah seorang penumpang saat hendak menaiki angkot jurusan Lubuklinggau Sumsel menuju Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu di Kelurahan Watas Lubuk Durian Kecamatan Lubuklinggau Barat I Kota Lubuklinggau, Jumat (7/5/2021). 

TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU - Semenjak diberlakukannya penyekatan di wilayah perbatasan Lubuklinggau Sumatera Selatan (Sumsel) dengan Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu.

Sejumlah sopir angkot yang biasa mengangkut penumpang di wilayah perbatasan pun terkena imbasnya, saat ini penumpang angkot turun hingga 50 persen.

Pantauan Tribunsumsel.com, di lapangan sejumlah sopir angkot tampak memarkirkan kendaraannya di bahu jalan tepatnya diperbatasan Kelurahan Watas Lubuk Durian Kecamatan Lubuklinggau Barat 1, dengan Desa Tanjung Sanai Kecamatan PUT Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu.

Para sopir angkot tersebut terlihat menunggu penumpang hingga waktu berjam-jam, setelah menunggu dalam rentang waktu lama penumpang yang menaiki angkot penumpang tidak lebih dari tiga orang.

"Penumpang kami turun drastis sampai 50 persen paling banyak sekarang penumpang hanya 3 orang," ungkap Zulkarnain sopir angkot pada wartawan, Jumat (7/5/2021).

Ia menuturkan, sebelum adanya penyekatan biasanya dalam sehari mampu menghasilkan pendapatan Rp. 100 ribu per hari, namun semenjak kemarin mencari uang Rp. 50 ribu saja susah sekali.

"Biasanya kita sebelum penyekatan walau pun penumpang sedikit masih bisa tiga kali narik penumpang, sekarang hanya sekali itu penumpangnya tidak sampai Curup, melainkan banyak ke wilayah Palak Curup," ujarnya.

Menurutnya, penyebab turunnya penumpang semenjak diberlakukan penyekatan antara provinsi Sumsel dengan provinsi Bengkulu karena banyak penumpang ketakutan dan mengganggap mereka tidak bisa melintas.

Padahal, setiap menjelang Lebaran banyak warga dari wilayah perbatasan khususnya Kabupaten Rejang Lebong berkunjung ke Kota Lubuklinggau untuk membeli kebutuhan pokok.

"Tahun kemarin lumayan banyak, apalagi sudah dekat-dekat lebaran ini banyak warga datang ke Linggau untuk belanja, tapi sekarang warga banyak takut untuk datang ke Linggau," ujarnya.

Begitu juga dengan Adi seorang sopir angkot lainnya mengatakan, bila saat ini penumpang sudah sangat sepi, akibat dampaknya pandemi Covid-19, bahkan kadang perjalanan kosong tanpa penumpang.

"Pendapatan kami sudah turun akibat terdampak wabah Corona ditambah saat ini adanya penyekatan, jadi warga banyak takut untuk berbelanja ke Lubuklinggau," timpalnya.

Sementara, Kabag Ops Polres Lubuklinggau, Kompol Ferdinan menegaskan warga daerah tetangga boleh melintas, yang paling ditekankan dalam Operasi Ketupat Musi 2021 ini adalah masyarakat yang mau mudik arah jauh.

"Yang kita sekat ini mereka yang mau mudik baik antar provinsi maupun antar kabupaten, seperti sengaja dari Empat Lawang maupun dari Lahat untuk mudik," terangnya.

Baca juga: Kronologi Pembunuhan di Kertasari Muratara, Bapak dan Anak Bacok Tetangga yang Masih Keluarga

Baca juga: Harga Karet Hari Ini Naik Tipis, Karet Kering 100 Persen Jadi Rp 20.796 per Kg

Ia pun mengungkapkan saat ini Polres Lubuklinggau mempunyai satu pos penyekatan di wilayah Kecamatan Lubuklinggau Barat berbatasan dengan provinsi Bengkulu.

Kemudian Pos Pelayanan terpadu di wilayah Kelurahan Petanang Iir Kecamatan Lubuklinggau Utara I dan Pos pelayanan keamanan di Jl Yos Sudarso depan JM Lubuklinggau.

"Di Pos itu kita tempat 20 orang petugas gabungan baik dari Polri, TNI, Dinas Kesehatan dan instansi lain yang tergabung dalam kegiatan pengamanan operasi Ketupat Musi 2021," ujarnya.

Ikuti Kami di Google Klik

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved